ACEHBENER MERIAHBerita

Antisipasi Gangguan Gajah Liar, Warga Pintu Rime Gayo Dirikan Posko Darurat dan Aktifkan Jaga Malam

303
×

Antisipasi Gangguan Gajah Liar, Warga Pintu Rime Gayo Dirikan Posko Darurat dan Aktifkan Jaga Malam

Sebarkan artikel ini

Bener Meriah – Satupena.co.id: Meningkatnya gangguan kawanan gajah liar di sejumlah desa di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, mendorong aparatur kampung bersama masyarakat mengambil langkah antisipasi dengan mendirikan posko darurat dan mengaktifkan kegiatan ronda malam.

Langkah tersebut dilakukan menyusul gangguan kawanan gajah liar yang dalam beberapa pekan terakhir semakin meresahkan masyarakat. Kehadiran satwa liar dilindungi itu tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada rumah dan lahan perkebunan milik masyarakat.

Sejumlah desa yang terdampak gangguan gajah liar di antaranya Kampung Pantan Sinaku, Pancar Jelobok, Ulunaron, Blang Rakal, Negeri Antara, Pantanlah, dan Perdamaian.

Bahkan, demi menghindari jatuhnya korban jiwa, kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah yang berada di kawasan terdampak terpaksa diliburkan sementara. Para siswa diarahkan untuk mengikuti pembelajaran dari rumah hingga situasi dinilai lebih aman.

Baca Juga  Wali Kota Langsa Pimpin Upacara Sumpah Pemuda, Teguhkan Semangat Patriotisme dan Persatuan

Di Kampung Pancar Jelobok, misalnya, aparatur kampung bersama masyarakat, dibantu Bhabinkamtibmas dan Babinsa, secara aktif melaksanakan ronda malam guna mengantisipasi masuknya kawanan gajah liar ke kawasan permukiman.

Saat ini, diperkirakan terdapat sekitar enam ekor gajah liar yang keberadaannya terpencar di sejumlah titik. Kondisi tersebut membuat pergerakan kawanan gajah sulit diprediksi dan berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat.

Reje Kampung Pancar Jelobok, Aida Putra, kepada media mengungkapkan bahwa aparatur kampung bersama masyarakat akan terus mengaktifkan kegiatan jaga malam hingga situasi benar-benar aman dan terbebas dari ancaman gangguan gajah liar.

Ia juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di kebun maupun di sekitar kawasan yang menjadi jalur pergerakan gajah.

Baca Juga  Operasi Patuh Krakatau 2026, Polres Lampung Utara Bagikan 100 Brosur Imbauan Keselamatan Berlalu Lintas Kepada Pengguna Jalan

Selain itu, pihaknya berharap kegiatan belajar mengajar di sekolah yang berada di Kampung Pancar Jelobok untuk sementara diliburkan demi mengutamakan keselamatan para siswa dan tenaga pendidik.

Sementara itu, Eman Syahri, salah seorang relawan yang selama ini aktif bersama masyarakat dalam upaya penggiringan kawanan gajah liar, berharap pemerintah dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi konflik antara manusia dan satwa liar tersebut.

Menurutnya, konflik gajah dan manusia bukan persoalan baru di wilayah Pintu Rime Gayo. Persoalan tersebut sudah berlangsung cukup lama, tetapi hingga kini belum ditemukan solusi permanen yang mampu mencegah konflik terus berulang.

Ia menilai salah satu faktor yang diduga turut memicu konflik tersebut adalah perubahan fungsi kawasan hutan yang sebelumnya menjadi habitat gajah menjadi lahan perkebunan, termasuk perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, ruang hidup dan jalur jelajah gajah semakin terganggu sehingga satwa tersebut kerap memasuki kawasan perkebunan dan permukiman masyarakat.

Baca Juga  Perkuat Keimanan dan Kebersamaan, Polres Bener Meriah Gelar Binrohtal untuk Personel

Hingga berita ini diturunkan, kawanan gajah liar dilaporkan masih berada di sekitar Kampung Pantan Sinaku, Pancar Jelobok, Blang Rakal, Negeri Antara, serta sejumlah kampung lainnya di Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, menghindari aktivitas sendirian di kawasan yang rawan dilalui gajah, serta tidak melakukan tindakan yang dapat memancing atau membahayakan satwa tersebut.

Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera menghadirkan penanganan yang lebih serius, terukur, dan berkelanjutan agar keselamatan masyarakat tetap terjamin tanpa mengabaikan perlindungan satwa liar yang dilindungi.

(Wenjuans)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *