Aceh Timur –Satupena.co.id: Kondisi Jalan Peureulak–Lokop Segmen II, Kabupaten Aceh Timur, yang mengalami kerusakan parah dan terputus di sejumlah titik menuai keluhan masyarakat. Kerusakan tersebut tidak hanya membahayakan keselamatan pengguna jalan, tetapi juga menambah beban ekonomi warga yang setiap hari bergantung pada akses transportasi tersebut.
Bukhari Muslim, MH, yang menyampaikan aspirasi masyarakat Serbajadi/Lokop, mendesak Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, agar segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat perbaikan ruas jalan tersebut melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh.
Menurut Bukhari, kondisi Jalan Peureulak–Lokop Segmen II saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan pengaduan masyarakat, terdapat sekitar 19 titik kerusakan berupa badan jalan yang ambles dan berlubang cukup dalam.
Kerusakan tersebut dinilai sangat membahayakan pengendara, baik sepeda motor maupun kendaraan roda empat dan kendaraan lainnya yang melintasi jalur penghubung Peureulak–Lokop.
“Kondisi jalan ini sangat memprihatinkan. Ada sekitar 19 titik badan jalan yang ambles dan berlubang cukup dalam. Masyarakat yang melintas setiap hari harus menghadapi risiko kecelakaan. Kami sangat berharap Pemerintah Aceh segera memberikan perhatian serius dan mengambil tindakan nyata,” ujar Bukhari Muslim, MH.
Bukhari menjelaskan, persoalan yang paling mendesak terdapat di STA 73, tepatnya di Dusun Cane, Desa Rampah, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur.
Di lokasi tersebut, badan jalan dilaporkan terputus total sepanjang kurang lebih 60 meter akibat abrasi dan tergerus arus air setelah banjir bandang pada 26 November 2025.
Menurutnya, hingga saat ini masyarakat masih mengeluhkan belum adanya perbaikan permanen di lokasi tersebut. Akibatnya, akses utama yang menghubungkan Peureulak dengan Lokop terganggu dan menyulitkan mobilitas masyarakat.
“Kami sangat berharap Bapak Gubernur Aceh dapat segera menginstruksikan Dinas PUPR Aceh untuk mempercepat penanganan jalan ini, terutama di STA 73, Dusun Cane, Desa Rampah. Badan jalan yang terputus sepanjang kurang lebih 60 meter itu harus segera ditangani agar akses masyarakat kembali normal,” tegas Bukhari.
Ia menilai, kerusakan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena jalan Peureulak–Lokop merupakan akses penting bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan ekonomi, pendidikan, dan kebutuhan pelayanan publik.
Lebih lanjut, Bukhari mengungkapkan bahwa akibat terputusnya badan jalan, masyarakat terpaksa menggunakan jalan darurat yang dibangun di atas tanah milik pribadi warga di Desa Rampah, Kecamatan Serbajadi.
Namun, berdasarkan pengaduan yang diterimanya, pengguna jalan harus membayar biaya pembukaan palang ketika melintasi jalur darurat tersebut.
Tarif yang dikeluhkan masyarakat sebesar Rp5.000 untuk kendaraan roda empat dan Rp10.000 untuk kendaraan roda enam atau lebih, setiap kali melintas. Biaya tersebut berlaku bagi kendaraan dari arah Peureulak menuju Lokop maupun sebaliknya.
Kondisi ini dinilai semakin memberatkan masyarakat, terutama warga yang harus bolak-balik beberapa kali dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan dan keperluan lainnya.
“Bayangkan kalau masyarakat harus bolak-balik sampai lima kali dalam sehari. Berapa biaya yang harus mereka keluarkan hanya untuk melewati jalan darurat? Ini tentu menjadi beban tambahan bagi masyarakat, sementara jalan utama yang seharusnya menjadi akses transportasi belum juga dapat digunakan secara normal,” ungkap Bukhari.
Ia menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan solusi nyata dari pemerintah agar tidak terus-menerus menanggung dampak kerusakan infrastruktur tersebut.
Menurutnya, keberadaan jalan darurat memang membantu masyarakat melewati lokasi yang terputus, tetapi kondisi itu tidak dapat dijadikan solusi permanen.
Atas kondisi tersebut, Bukhari Muslim, MH, mewakili aspirasi masyarakat Serbajadi/Lokop, memohon kepada Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, agar segera memberikan perhatian khusus terhadap persoalan infrastruktur tersebut.
Ia meminta Pemerintah Aceh melalui Dinas PUPR segera melakukan peninjauan lapangan, menentukan langkah penanganan darurat, serta mempercepat pembangunan kembali badan jalan yang terputus.
“Kami memohon dengan sangat kepada Bapak Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf, agar persoalan ini menjadi perhatian serius. Tolong instruksikan Dinas PUPR Aceh untuk segera turun ke lapangan dan mempercepat perbaikan Jalan Peureulak–Lokop Segmen II, khususnya di STA 73, Dusun Cane, Desa Rampah,” kata Bukhari.
Menurutnya, masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan akses jalan yang aman, layak, dan dapat digunakan tanpa harus menghadapi ancaman keselamatan maupun biaya tambahan akibat terputusnya jalan utama.
Ia juga berharap perbaikan dilakukan secara menyeluruh pada titik-titik kerusakan lainnya agar persoalan serupa tidak terus berulang dan mengganggu aktivitas warga.
Bukhari menyampaikan bahwa aspirasi masyarakat Serbajadi/Lokop tersebut juga ditembuskan kepada sejumlah instansi terkait sebagai bentuk permohonan perhatian dan tindak lanjut.
Surat tersebut ditujukan kepada Gubernur Aceh dengan tembusan kepada DPR Aceh, Dinas PUPR Aceh, Bappeda Aceh, BPKP Perwakilan Aceh, Bupati Aceh Timur, DPRK Aceh Timur, serta Muspika Kecamatan Serbajadi.
Ia berharap seluruh pihak terkait dapat berkoordinasi dan mengambil langkah sesuai kewenangan masing-masing untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
“Kami berharap surat dan aspirasi masyarakat ini mendapat tanggapan serius. Jangan sampai masyarakat terus menunggu tanpa kepastian, sementara kondisi jalan semakin memprihatinkan dan kebutuhan transportasi terus berjalan setiap hari,” tutup Bukhari.
Masyarakat Serbajadi/Lokop kini menaruh harapan besar kepada Pemerintah Aceh agar segera merealisasikan perbaikan Jalan Peureulak–Lokop Segmen II, sehingga akses transportasi kembali lancar, keselamatan pengguna jalan lebih terjamin, dan beban ekonomi masyarakat dapat dikurangi.












