Oleh: Zulkifli Aneuk Syuhada
SABANG – Ada pertemuan yang lahir karena musibah, tetapi dikenang karena kemanusiaan,
Beberapa bulan lalu, ketika banjir bandang melumpuhkan Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, ribuan warga kehilangan tempat berpijak. Rumah-rumah terendam, jalan berubah menjadi sungai, dan harapan bergantung pada uluran tangan yang datang dari berbagai penjuru.
Di tengah situasi itu, rombongan dari Kota Sabang tiba membawa bantuan. Wakil Wali Kota Sabang, Drs. H. Suradji Junus, datang bersama sejumlah pejabat pemerintah kota, bukan sekadar menyerahkan bantuan, tetapi menembus wilayah terdampak untuk menyapa warga yang sedang berjuang bangkit.
Di sanalah, untuk pertama kalinya, Suradji Junus bertemu dengan Camat Pante Bidari, Darkasyi, SE. Pertemuan itu terjadi tanpa seremoni besar. Mereka dipertemukan oleh satu bahasa yang sama, “kemanusiaan”.
Waktu berlalu. Luka-luka banjir mulai dijahit oleh harapan. Lalu, takdir mempertemukan mereka lagi, kali ini di ujung paling barat Indonesia.

Saat rombongan Kecamatan Pante Bidari tiba di Kota Sabang untuk berwisata, Suradji Junus menyambut mereka dengan senyum yang sama seperti saat datang membawa bantuan ke Aceh Timur.
Jamuan sederhana di salah satu kafe Kota Sabang menjadi pembuka. Secangkir kopi, obrolan ringan, dan tawa para pegawai kecamatan perlahan menggantikan ingatan tentang hari-hari berat yang pernah mereka lalui bersama.
“Dulu kita bertemu saat lumpur masih menutupi badan jalan, Hari ini kita bertemu menikmati keindahan Sabang, begitu kira-kira makna yang terasa dalam pertemuan itu.
Usai menikmati jamuan, Suradji Junus tak sekadar melepas tamunya. Ia memilih mendampingi rombongan berkeliling menyusuri wajah Sabang. Jalan-jalan yang membelah perbukitan Pulau Weh, hamparan laut biru, hingga titik-titik wisata menjadi saksi percakapan yang terus mengalir sepanjang perjalanan.
Namun yang paling membekas justru terjadi ketika malam mulai turun, Setelah seharian mengantar rombongan menikmati berbagai objek wisata, Suradji Junus kembali hadir menemani mereka. Di bawah langit malam Sabang, ia bercerita tentang sejarah kota itu, tentang laut yang menyimpan kehidupan, tentang bukit yang menjaga angin, dan tentang mengapa Sabang selalu memiliki cara membuat orang ingin kembali.
Cerita-cerita itu membuat perjalanan terasa lebih dari sekadar wisata, Bagi rombongan Kecamatan Pante Bidari, Sabang bukan lagi hanya destinasi dengan panorama indah. Kota itu kini menyimpan kenangan tentang tangan yang pernah datang membawa bantuan ketika banjir melanda, lalu kembali menyambut dengan kehangatan saat kehidupan mulai tersenyum lagi.
Di penghujung malam, silaturahmi itu seperti menemukan maknanya sendiri, bencana memang pernah mempertemukan mereka, Tetapi kemanusiaan membuat hubungan itu tetap hidup, membuktikan bahwa jarak antara Sabang dan Aceh Timur ternyata tak sejauh yang terlihat di peta, selama masih ada hati yang saling mengingat ketika orang lain membutuhkan.














