Bener Meriah –Satupena.co.id: Kawanan gajah liar kembali memasuki kawasan permukiman warga di Kampung Pancar Jelobok, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Sabtu (2/8/2026). Satwa liar yang dilindungi tersebut dilaporkan telah berada di kawasan Dusun Tran selama lebih dari satu bulan dan hingga kini masih berkeliaran di sekitar permukiman.
Keberadaan gajah liar itu semakin meresahkan masyarakat karena tidak hanya merusak tanaman perkebunan milik warga, tetapi juga mulai menunjukkan perilaku agresif dengan mengejar warga yang melakukan penjagaan di sekitar lokasi. Kondisi tersebut menimbulkan rasa takut dan trauma, terutama bagi warga yang harus beraktivitas ke kebun maupun saat malam hari.
Petue Kampung Pancar Jelobok, Darlian, kepada media mengatakan bahwa berdasarkan pantauan warga, gajah yang berkeliaran diperkirakan berjumlah satu ekor dan hingga kini masih berada di sekitar permukiman.
“Kami sangat khawatir dengan keselamatan masyarakat. Gajah sudah mulai mengejar warga yang berjaga sehingga situasinya semakin berbahaya. Kami berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan penanganan secara cepat dan tepat sebelum terjadi korban jiwa,” ujarnya.
Menurut Darlian, masyarakat sudah lama menghadapi konflik antara manusia dan gajah. Ia menilai penanganan yang dilakukan selama ini masih sebatas menerima laporan tanpa solusi nyata.
“Masyarakat menantikan solusi yang konkret. Jangan sampai baru ada tindakan setelah muncul korban jiwa. Kami sudah lelah dengan konflik gajah dan manusia yang hingga kini belum memiliki penyelesaian permanen,” tegasnya.
Sementara itu, Reje Kampung Pancar Jelobok, Aida Putra, mengatakan pihak pemerintah kampung telah melaporkan keberadaan gajah liar tersebut kepada instansi terkait dan kini masih menunggu tindak lanjut.
“Kami sudah melaporkan kondisi ini kepada pihak terkait. Saat ini kami berharap segera ada tindakan agar masyarakat tidak menjadi korban dan rasa trauma warga bisa segera teratasi,” katanya.
Di sisi lain, pihak Conservation Response Unit (CRU) saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa petugas saat ini juga sedang melakukan upaya penggiringan gajah liar di wilayah Desa Negeri Antara dan seputaran Ali-Ali.
Konflik antara gajah liar dan manusia di sejumlah desa di Kecamatan Pintu Rime Gayo merupakan persoalan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Berdasarkan berbagai catatan kejadian, konflik tersebut telah menyebabkan beberapa warga meninggal dunia akibat serangan gajah, sementara di sisi lain beberapa ekor gajah juga dilaporkan mati.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto pernah mewacanakan penyediaan ribuan hektare kawasan hutan sebagai habitat konservasi gajah. Namun hingga saat ini, masyarakat menilai implementasi kebijakan tersebut belum terlihat di lapangan.
Warga berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat segera menghadirkan solusi yang komprehensif, sehingga kelestarian gajah sebagai satwa dilindungi tetap terjaga tanpa harus menimbulkan konflik berkepanjangan dengan masyarakat akibat menyempitnya habitat alami yang beralih fungsi menjadi kawasan perkebunan.
(Wenjuans)















