Malang –Satupena.co.id.: Ribuan warga memadati kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dusun Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Minggu (27/9/2026). Mereka mengikuti puncak perhelatan Petik Laut ke-56 yang digelar melalui prosesi Labuh Sembonyo.
Tradisi pesisir yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu berlangsung meriah. Tumpeng raksasa, hasil bumi, serta hasil laut diarak dari kawasan permukiman menuju TPI sebelum kemudian dibawa menggunakan perahu untuk dilarung ke tengah laut.
Arak-arakan berlangsung semarak. Selain tumpeng dan hasil bumi serta hasil laut, rangkaian perlengkapan tradisi juga dilengkapi kepala kambing sebagai bagian dari prosesi Labuh Sembonyo.
Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya peserta yang mengenakan berbagai busana dan memainkan sejumlah peran tradisional. Sosok yang dirias menyerupai Nyi Roro Kidul, pasangan pengantin, hingga para punggawa turut mengiringi rombongan menuju TPI.
Setibanya di TPI, seluruh perlengkapan tradisi kemudian dinaikkan ke perahu untuk dibawa ke tengah laut. Prosesi larung menjadi simbol ungkapan syukur masyarakat atas hasil laut yang diperoleh sekaligus doa untuk keselamatan nelayan, keberkahan, dan kelimpahan rezeki.
Petik Laut ke-56 tidak hanya menjadi agenda tahunan masyarakat pesisir. Tradisi tersebut juga menjadi ruang berkumpul sekaligus memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong warga Sendangbiru.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak awal September 2026. Berbagai agenda digelar untuk menyemarakkan perhelatan, mulai dari pasar malam, kesenian Jaran pada 22 September, Campursari Adelaras bersama Ida Saputri pada 23 September, Orkes New Arsita bersama Denik Armila Banyuwangi pada 24 September, hingga pengajian dan sholawat bersama Habib Ahmad Fikri, M.A., pada 25 September.
Sehari sebelum puncak Petik Laut, Sabtu (26/9/2026), masyarakat dan para nelayan mengikuti tirakatan bersama sebagai bagian dari rangkaian doa dan ungkapan syukur.
Setelah puncak Petik Laut, rangkaian kegiatan masih dilanjutkan dengan Ruwatan dan Pagelaran Wayang Kulit dengan dalang Ki Ichwan Dwi Saputra dari Banyuwangi.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak prosesi dimulai. Warga yang hadir tidak hanya berasal dari Desa Tambakrejo dan Kecamatan Sumbermanjing Wetan, tetapi juga dari berbagai daerah yang datang untuk menyaksikan langsung tradisi pesisir yang telah bertahan selama puluhan tahun tersebut.
Puncak Petik Laut ke-56 turut dihadiri jajaran Forkopimda Kabupaten Malang dan berbagai unsur terkait.
Hadir di antaranya perwakilan Pemerintah Kabupaten Malang, jajaran dinas, anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi Gerindra Rahmat Kartala, Camat Sumbermanjing Wetan, jajaran Polres Malang dan Polsek, Koramil, Polairud Sendangbiru, Lanal TNI AL Sendangbiru, Kepala Desa Tambakrejo, panitia, perangkat desa, RT/RW, tokoh masyarakat, serta ribuan warga.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa Petik Laut tidak hanya menjadi tradisi masyarakat nelayan, tetapi juga telah menjadi salah satu agenda budaya yang memiliki arti penting bagi masyarakat pesisir Kabupaten Malang.
Ketua Panitia Petik Laut ke-56, H. Budi Ismiyanto, yang diwakili H. Ridho, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, pelaksanaan Petik Laut tidak terlepas dari dukungan pemerintah desa, nelayan, masyarakat, donatur, sponsor, serta berbagai pihak lainnya.
“Terima kasih kepada seluruh donatur, sponsor, nelayan, masyarakat, dan semua pihak yang telah membantu sehingga Petik Laut ke-56 dapat terlaksana,” ujar H. Ridho.
Kepala Desa Tambakrejo, Agus Harianto, menegaskan pentingnya menjaga Petik Laut sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Sendangbiru.
Menurutnya, keberlangsungan tradisi tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Kekompakan warga menjadi salah satu kekuatan utama dalam mempertahankan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Petik Laut juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya pesisir Sendangbiru kepada masyarakat luas.
Sementara itu, Bupati Malang melalui Kepala Dinas Pemberdayaan, Nurcahyo, S.H., M.Hum., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Petik Laut ke-56.
Ia menilai tradisi masyarakat pesisir tersebut memiliki nilai budaya, sosial, sekaligus ekonomi. Karena itu, pelestarian tradisi dinilai perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta pembangunan kawasan Sendangbiru.
Bagi masyarakat Sendangbiru, laut bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Laut telah menjadi bagian dari kehidupan, kebudayaan, dan identitas masyarakat pesisir.
Melalui prosesi Labuh Sembonyo, masyarakat mengekspresikan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh dari laut. Pada saat yang sama, tradisi tersebut menjadi ruang untuk memanjatkan doa bagi keselamatan para nelayan yang setiap hari berhadapan dengan kondisi laut demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Semangat gotong royong juga terlihat dalam berbagai tahapan pelaksanaan Petik Laut. Nelayan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, pemuda, panitia, hingga warga terlibat dalam persiapan maupun pelaksanaan kegiatan.
Karena itu, kemeriahan Petik Laut ke-56 tidak semata-mata terlihat dari besarnya tumpeng, panjangnya arak-arakan, maupun ribuan warga yang memadati lokasi.
Lebih dari itu, tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Sendangbiru terus merawat hubungan antara budaya, laut, dan kehidupan sosial mereka.
Arak-arakan hasil bumi dan hasil laut hingga prosesi larung ke tengah samudra menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat pesisir yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah perubahan zaman, Petik Laut ke-56 menjadi penanda bahwa tradisi masyarakat Sendangbiru masih hidup, dirawat bersama, dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
(Dwi)













