ACEH UTARA — Panitia peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-800 Samudera Pasai menegaskan komitmennya untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam setiap pengelolaan pembiayaan. Pesta sejarah delapan abad Samudera Pasai itu disebut tidak menggunakan dana APBN maupun APBD murni, tetapi mengandalkan semangat gotong royong serta dukungan dari berbagai elemen, rabu (9/92026).
Penegasan tersebut disampaikan Bendahara Panitia HUT ke-800 Samudera Pasai, Muslem, dalam pertemuan bersama puluhan wartawan di Aula Kesbangpol Aceh Utara. Dalam forum itu, ia memaparkan kondisi pembiayaan sekaligus membuka ruang komunikasi dengan insan pers terkait pelaksanaan kegiatan.
Muslem menyebutkan, kebutuhan dana untuk membiayai seluruh rangkaian peringatan diperkirakan mencapai Rp2,1 miliar. Hingga saat ini, dana yang berhasil dihimpun baru sekitar Rp600 juta.
Kontribusi tersebut berasal dari gerakan swadaya dan partisipasi sejumlah perusahaan daerah yang turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan momentum bersejarah tersebut.
“Kami berkomitmen penuh untuk tidak menyentuh dana APBN atau APBD murni. Kebutuhan total kita berada di angka Rp2,1 miliar, dan Alhamdulillah, per hari ini sudah terkumpul Rp600 juta hasil dari swadaya serta partisipasi perusahaan daerah kita yang ikut serta menyukseskan acara ini,” ujar Muslem.
Besarnya kebutuhan pembiayaan dibandingkan dana yang telah terkumpul membuat keterbukaan pengelolaan keuangan menjadi perhatian penting. Menjawab pertanyaan awak media, Muslem memastikan seluruh transaksi yang berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan akan dikelola secara tertib, profesional, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut nya, tidak boleh ada ruang bagi munculnya keraguan publik mengenai asal-usul maupun penggunaan dana. Karena itu, pihaknya menyatakan siap memberikan penjelasan terkait pemasukan dan pengeluaran yang berkaitan dengan seluruh rangkaian peringatan.
“Kami akan terbuka semuanya dan dapat kami pertanggungjawabkan. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Oleh karena itu, kami sangat berharap kepada rekan-rekan wartawan, mari kita sama-sama menyukseskan acara HUT Samudera Pasai ini,” tegasnya.
Muslem juga menempatkan insan pers sebagai salah satu mitra strategis dalam mengawal sekaligus menyebarluaskan informasi mengenai pelaksanaan peringatan tersebut. Menurut nya, pemberitaan yang objektif dan konstruktif dapat membantu masyarakat memahami tujuan kegiatan serta mengetahui bentuk partisipasi yang dibutuhkan.
Di sisi lain, kebutuhan dana yang masih mencapai sekitar Rp1,5 miliar menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan optimisme untuk menghadirkan perayaan yang berlangsung khidmat, semarak, dan memiliki nilai edukatif bagi masyarakat.
Pihak penyelenggara berharap dukungan tidak hanya datang dari pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi juga dari kalangan dunia usaha, perusahaan swasta, donatur, komunitas, serta masyarakat luas. Semangat kebersamaan dinilai menjadi kunci agar seluruh agenda peringatan dapat terlaksana sesuai harapan.
Lebih dari sekadar rangkaian seremoni, peringatan 800 tahun Samudera Pasai diharapkan menjadi momentum untuk kembali menempatkan sejarah sebagai bagian penting dari identitas Aceh. Jejak Samudera Pasai sebagai salah satu pusat perdagangan dan perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara menjadi warisan yang perlu diperkenalkan kepada generasi muda.
Karena itu, keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam momentum tersebut bukan semata-mata untuk memeriahkan perayaan, melainkan juga menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah dan memperkuat kebanggaan terhadap warisan peradaban Aceh.













