Lhoksukon – Aceh Utara kembali berdenyut dalam gelombang sejarah yang panjang. Di tengah hamparan angin darat yang berembus konstan, Lapangan Matang Ben, Kecamatan Tanah Luas, mendadak riuh oleh bentangan rangka bambu dan desau kertas minyak yang beradu dengan angkasa, Kamis (9/9/2026).
Bukan sekadar permainan musiman, langit Aceh Utara hari itu tengah merajut memori kolektif. Rangkaian Festival Layang Tunang Peuleupi Hate digelar khusus untuk menyemarakkan Hari Jadi ke-800 Tahun Samudera Pasai sebuah perhelatan akbar yang mendaras kembali akar peradaban Islam tertua di Nusantara.
Di antara puluhan kerangka geulayang yang bersiap mengangkasa, sebuah nama legendaris mencuri perhatian: “Si-Tombak”. Diterbangkan oleh Group Utoh Lah Rancong Buloh, geulayang tradisional asal Kecamatan Tanah Pasir ini membawa serta napas panjang tradisi yang dirawat sejak era 1980-an.
Di balik tali gelasan yang tegang, berdiri Abdullah Amin (65), warga Gampong Paloh, yang tangannya telah akrab dengan angin pesisir selama berpuluh-puluh tahun. Bagi Abdullah, keikutsertaan Si-Tombak dalam turnamen tingkat kabupaten ini melampaui ambisi piala atau podium juara. Ini adalah ikhtiar merawat warisan indatu agar tidak karam ditelan modernitas.
” Ajang ini bukan sekadar urusan menang atau kalah, melainkan ruang untuk menghidupkan kembali tradisi indatu agar tidak punah ditelan zaman. Saya sendiri sangat bangga dengan adanya geulayang tunang ini, apalagi pelaksanaannya bertepatan dengan momentum bersejarah Milad ke-800 Samudera Pasai,” ujar Abdullah.
Bersama 27 layangan lainnya dari berbagai penjuru kecamatan di Aceh Utara, Si-Tombak dilepas perlahan menyambut terpaan angin. Saat sayapnya membentang membelah awan, ada pesan kultural yang diselipkan para perajinnya: sebuah penghormatan kepada para leluhur maritim.
” Seiring Si-Tombak membubung tinggi layaknya layar bahari yang terkembang kokoh menuju angkasa raya, tersimpan harapan besar dari kami agar kemegahan warisan, kejayaan, serta kekayaan peradaban Samudra Pasee terus berkibar abadi tak lekang oleh waktu,” tutur Abdullah dengan nada binar.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menempatkan festival kebudayaan ini bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan medium refleksi sejarah. Tema pelestarian tradisi diusung untuk merajut kembali silaturahmi antarwarga sekaligus memperkuat ingatan kolektif generasi muda bahwa tanah yang mereka pijak pernah menjadi titik nol peradaban dunia Islam di Asia Tenggara.
Delapan abad telah berlalu sejak kapal-kapal asing berlabuh di muara Pasee. Hari ini, lewat seutas tali dan bentangan kertas Si-Tombak, kejayaan masa silam itu ditarik kembali ke udara menyapa angin, merawat ingatan, dan memastikan denyut sejarah itu tak pernah benar-benar padam.













