Kotawaringin Timur –Satupena.co.id: Kemarau panjang mulai berdampak terhadap ketersediaan air tawar di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Kondisi paling terasa di wilayah selatan Kotim, di mana air sungai mulai mengering dan berubah rasa menjadi payau hingga asin.
Fenomena tersebut terjadi seiring puncak musim kemarau yang menyebabkan debit air tawar dari wilayah hulu sungai menurun. Kondisi ini memicu masuknya air laut ke badan sungai atau intrusi air laut, sehingga kualitas air sungai mengalami perubahan.
Masyarakat di sejumlah wilayah selatan Kotim kini tidak lagi dapat mengandalkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain rasanya yang berubah menjadi asin dan payau, warna air juga mengalami perubahan dan menjadi lebih keruh.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui Perusahaan Umum Daerah (Perumdam) Tirta Mentaya telah mengambil langkah untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan dengan menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 150 ribu liter.
Bantuan tersebut disalurkan kepada masyarakat di sembilan desa terdampak, di antaranya Desa Jaya Karet, Desa Basirih Hulu, Desa Lempuyang, Desa Basawang, dan Samuda Kota.
Direktur Perumdam Tirta Mentaya Kotawaringin Timur, Ismanadi, mengatakan wilayah selatan Sampit, khususnya Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit, mulai merasakan dampak kemarau.
“Wilayah selatan Kota Sampit, wilayah Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit terdampak kemarau. Air sungai saat ini sudah mengalami perubahan rasa dan warna. Air menjadi asin dan payau. Air bersih disalurkan dan menjadi prioritas untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan,” ujar Ismanadi.
Menurutnya, penyaluran air bersih dilakukan secara bertahap ke sejumlah titik yang membutuhkan. Salah satu lokasi yang mendapat bantuan adalah Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin di Desa Basirih Hulu.
“Penyaluran air bersih kali ini disalurkan di salah satu pondok pesantren, Sabilul Muttaqin di Desa Basirih Hulu,” tambahnya.
Sementara itu, Pengurus Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin, Marba’i, menyampaikan bahwa bantuan air bersih tersebut sangat membantu aktivitas para santri, khususnya untuk kebutuhan memasak dan minum.
“Air bersih yang diberikan digunakan untuk kebutuhan pondok pesantren, memasak dan minum bagi lebih dari 200 santri. Sementara untuk air mandi masih mengambil air sungai, walaupun warna airnya agak merah dan keruh,” kata Marba’i.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau panjang tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga kualitas sumber air yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat.
Pemerintah daerah bersama Perumdam Tirta Mentaya diharapkan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi sumber air dan memperluas distribusi bantuan air bersih, terutama apabila musim kemarau masih berlangsung dan intrusi air laut semakin meluas.
(Mex)

















