Bener Meriah –Satupena.co.id: Nama Tajuk Enang-Enang belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial dan berbagai pemberitaan di dataran tinggi Gayo. Akses jalan yang rusak akibat bencana hidrometeorologi tahun 2025 itu kini kembali mendapat perhatian luas setelah digagas pembangunan dan perbaikannya secara swadaya oleh masyarakat yang dipelopori Syahrial Abadi bersama para relawan.
Lebih dari sekadar jalan penghubung, Tajuk Enang-Enang kini menjelma menjadi simbol persatuan, kepedulian, dan semangat gotong royong masyarakat Aceh bagian tengah. Bantuan dalam bentuk tenaga, pikiran, material, hingga donasi terus mengalir sebagai wujud kebersamaan untuk menghidupkan kembali jalur yang memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Gayo.
Namun di balik ramainya perhatian publik terhadap Enang-Enang hari ini, tersimpan kisah panjang yang jarang diketahui generasi muda.
Menurut berbagai sumber dan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, jalur Enang-Enang telah dibuka sejak masa kolonial Belanda. Pada masa itu, pembangunan jalan dari Bireuen menuju Takengon dilakukan secara manual dengan peralatan sederhana dan mengandalkan tenaga manusia.
Berbeda dengan kondisi saat ini yang didukung alat berat modern, para pekerja pada masa lampau harus menghadapi medan pegunungan yang terjal, hutan lebat, serta berbagai keterbatasan. Banyak pengorbanan dan perjuangan yang menjadi bagian dari sejarah pembukaan jalur tersebut.
Salah satu peninggalan yang masih dapat disaksikan hingga kini adalah tulisan “Tajuk Enang-Enang” yang terukir di dinding tikungan jalan. Tulisan itu bukan sekadar penanda lokasi, melainkan menyimpan cerita tentang sosok yang mengukirnya.
Berdasarkan penelusuran dari sejumlah sumber, ukiran tersebut merupakan karya Mursal, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan “Awan India”.
Awan India lahir di Kampung Uning Bersah pada tahun 1925. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan almarhum Baramsyah dan almarhumah Jemala. Sejak muda, ia dikenal sebagai pribadi yang kuat, pekerja keras, dan memiliki jiwa sosial tinggi sehingga disegani oleh masyarakat sekitar.
Kemampuan fisiknya yang menonjol membuatnya direkrut oleh Jepang pada masa pendudukan untuk mengikuti pelatihan militer. Saat itu, Jepang tengah memperluas kekuatan perangnya di kawasan Asia.
Awan India kemudian meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk mengikuti tugas militer. Konon, ia merupakan satu dari 33 pemuda pilihan asal Aceh yang direkrut Jepang, sekaligus satu-satunya putra berdarah Gayo yang ikut dalam rombongan tersebut.
Perjalanan hidup Awan India berubah drastis ketika Jepang mengalami kekalahan pada tahun 1945 setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh Sekutu.
Sebelum kekalahan itu terjadi, beredar cerita bahwa pasukan yang berasal dari wilayah jajahan, termasuk tentara dari Indonesia, sempat menghadapi ancaman untuk dieliminasi oleh pihak Jepang. Namun rencana tersebut tidak pernah terlaksana karena Jepang lebih dahulu menyerah kepada Sekutu.
Kapal yang ditumpangi Awan India bersama rombongan kemudian terombang-ambing di lautan hingga akhirnya terdampar di Kepulauan Andaman, yang berada di Samudra Hindia.
Selama kurang lebih lima tahun, ia hidup dan berbaur dengan masyarakat setempat. Ia bahkan disebut mampu berkomunikasi menggunakan bahasa yang digunakan masyarakat di wilayah tersebut.
Pada tahun 1950, melalui kebijakan pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno, para warga Indonesia yang terdampar akibat perang dipulangkan ke tanah air. Awan India pun kembali ke Tanoh Gayo setelah bertahun-tahun terpisah dari keluarga.
Namun kepulangannya menyisakan duka mendalam. Ayah yang selama ini menantikan kepulangannya ternyata telah lebih dahulu wafat sebelum ia kembali ke kampung halaman.
Peristiwa itu meninggalkan luka batin yang mendalam. Sejak saat itu, Awan India berjanji tidak akan lagi meninggalkan tanah kelahirannya.
Ketika konflik DI/TII berkecamuk dan pemerintah membuka peluang bagi para mantan tentara untuk bergabung dalam operasi militer, Awan India memilih menolak. Ia lebih memilih tinggal bersama keluarga dan menjalani kehidupan sebagai tukang bangunan.
Pada era 1960-an, ia aktif bekerja dalam berbagai proyek pembangunan bersama rekan-rekannya. Ia terlibat dalam pembangunan sejumlah masjid, infrastruktur jalan, dan berbagai pekerjaan konstruksi lainnya di wilayah dataran tinggi Gayo.
Pada tahun 1970-an, Awan India bersama sejumlah rekannya turut berkontribusi dalam pembangunan turap dan perkuatan tebing di kawasan Timang Gajah, Tenge Besi, dan Tajuk Enang-Enang.
Saat itu, kawasan Enang-Enang masih berupa hutan lebat yang dihuni berbagai satwa liar. Bekerja dan bermalam di lokasi tersebut membutuhkan keberanian besar karena pemukiman penduduk masih sangat terbatas.
Di tengah pekerjaan itulah Awan India mengukir tulisan “Tajuk Enang-Enang” yang masih dapat disaksikan hingga sekarang. Ukiran tersebut menjadi saksi perjalanan hidupnya sekaligus bagian dari sejarah pembangunan wilayah Gayo.
Meski sederhana, tulisan itu menyimpan makna besar tentang dedikasi, kerja keras, dan kecintaan seorang putra daerah terhadap tanah kelahirannya.
Awan India atau Mursal wafat pada tahun 1999 dan dimakamkan di kampung halamannya. Namun jejak pengabdiannya tetap hidup melalui karya yang ditinggalkannya.
Kini, meskipun sebagian kawasan Tajuk Enang-Enang mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi tahun 2025, semangat untuk menjaga nilai sejarahnya terus tumbuh. Upaya perbaikan yang dilakukan secara swadaya oleh Syahrial Abadi bersama para relawan tidak hanya bertujuan memulihkan akses jalan, tetapi juga menjaga warisan sejarah yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Gayo.
Tajuk Enang-Enang bukan sekadar ruas jalan di pegunungan. Ia adalah saksi perjalanan zaman, simbol gotong royong, serta pengingat bahwa di balik setiap batu dan ukiran yang berdiri hingga hari ini, terdapat kisah perjuangan orang-orang terdahulu yang patut dikenang dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Catatan Redaksi: Tulisan ini disusun berdasarkan berbagai sumber lisan dan penelusuran sejarah yang tersedia. Apabila terdapat perbedaan data atau informasi, penulis terbuka terhadap koreksi dan penyempurnaan demi menjaga akurasi nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Reporter: Winjuans:
Editor: Redaksi.

















