BeritaOpini

Sejarah Menjadi Hakim Yang Adil Dengan Seiring Waktu

×

Sejarah Menjadi Hakim Yang Adil Dengan Seiring Waktu

Sebarkan artikel ini

Oleh: ADV. SUCIPTO, SH

Satupena.co.id: Sejarah tidak pernah tergesa-gesa. Ia tidak perlu berteriak, mengancam, atau membalas dengan kemarahan. Sejarah hanya mencatat—dengan sabar—setiap keputusan, setiap kekuasaan, setiap ketidakadilan, dan setiap jejak yang ditinggalkan manusia.

Waktu mungkin membuat sebuah peristiwa terlupakan untuk sementara. Namun, waktu tidak pernah benar-benar menghapusnya. Apa yang terjadi hari ini akan menjadi bagian dari catatan yang suatu saat dapat dibaca kembali oleh generasi berikutnya.

Dalam perjalanan kehidupan, selalu ada orang yang merasa dirinya terlalu kuat untuk disentuh hukum, terlalu tinggi untuk dimintai pertanggungjawaban, atau terlalu berkuasa untuk menerima akibat dari setiap tindakannya.

Kekuasaan memang dapat membuat seseorang ditakuti pada masanya. Jabatan dapat membuat banyak orang memilih diam. Pengaruh dapat membuat kritik terdengar kecil. Namun, tidak ada kekuasaan yang benar-benar abadi.

Baca juga Artikel ini :  Warga Gampong Keupula Minta Keuchik Transparan Dana Desa Yang Di Duga Fiktif

Sebab waktu memiliki caranya sendiri untuk menguji kesombongan. Apa yang dahulu disembunyikan, suatu hari bisa terbuka. Apa yang pernah dianggap benar karena dipaksakan oleh kekuasaan, dapat dinilai kembali ketika keadaan berubah. Dan apa yang pernah dianggap sebagai kemenangan, belum tentu dikenang sebagai sebuah kehormatan.

Di sinilah sejarah memiliki kekuatannya. Sejarah adalah hakim yang tidak membutuhkan ruang sidang. Ia tidak membutuhkan palu hakim, meja persidangan, maupun surat dakwaan. Ia mengadili melalui ingatan, melalui akibat dari sebuah keputusan, dan melalui penilaian zaman.

Karena itu, setiap pemegang kekuasaan seharusnya menyadari bahwa jabatan hanyalah amanah yang memiliki batas waktu. Tidak ada kursi kekuasaan yang ditempati selamanya. Tidak ada jabatan yang dapat diwariskan kepada keabadian.

Baca juga Artikel ini :  Semangat Tak Padam, Satgas TMMD 128 Aceh Tamiang Tetap Prima di Tengah Kerja Keras

Yang akan bertahan justru apa yang ditinggalkan.Kebijakan yang memberi manfaat akan dikenang. Keberanian membela kebenaran akan dicatat. Pengabdian kepada masyarakat akan menjadi warisan moral. Sebaliknya, kesewenang-wenangan, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan keputusan yang merugikan orang lain juga dapat menjadi bagian dari catatan sejarah.

Karena itu, jangan merasa abadi hanya karena hari ini berada di atas.Jangan pula menganggap suara rakyat akan selalu dapat dibungkam oleh jabatan, kekuasaan, atau pengaruh. Sebab masyarakat memiliki ingatan. Generasi berganti, tetapi catatan atas sebuah tindakan dapat tetap hidup.

Baca juga Artikel ini :  Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Aceh Tamiang Gelar Donor Darah untuk Bantu Sesama

Pada akhirnya, seseorang mungkin dapat menghindari konsekuensi hukum untuk sementara. Sebuah kesalahan mungkin dapat ditutupi oleh kekuasaan dalam suatu masa. Namun, tidak selalu mudah menghindari catatan sejarah.

Waktu akan terus berjalan.
Kekuasaan akan berganti.
Jabatan akan berakhir.
Tetapi jejak tetap tinggal.

Maka, sebelum membuat sebuah keputusan, sebelum menggunakan kekuasaan, dan sebelum memperlakukan orang lain secara tidak adil, ingatlah satu hal: sejarah tidak pernah tergesa-gesa, tetapi ia tidak pernah lupa.

Dan pada akhirnya, bukan seberapa tinggi seseorang pernah berada yang paling penting, melainkan apa yang ia tinggalkan ketika sudah tidak lagi berada di atas.

Hayo mau copy paste ya