Catatan Seorang Relawan Karhutla yang Belajar Membaca Api dan Pemberitaan
Oleh: Muhammad Cahya Panca Wijaya, Relawan Karhutla dan Mahasiswa Komunikasi
Asap datang lebih dahulu sebelum api terlihat.
Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 25 Agustus 2026, langit perlahan kehilangan warnanya. Kabut pekat menutup pandangan, sementara napas terasa semakin berat. Di tengah musim kemarau, saya diterjunkan sebagai relawan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bersama Sekolah Relawan, yang bersinergi dengan BPBD, BPK, KPH, dan relawan lokal.
Hari itu, tugas kami sederhana untuk diucapkan, tetapi tidak mudah dijalankan: berpindah dari satu titik api ke titik lainnya. Satu lokasi dapat memerlukan waktu satu hingga dua jam untuk dipadamkan.
Namun, di lapangan, saya segera menyadari satu hal: karhutla tidak pernah sesederhana kobaran api yang terlihat dari kejauhan.
Lahan yang terbakar merupakan lahan gambut. Api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga dapat bersembunyi di bawah tanah. Bara tetap dapat menyala meskipun kobaran di atasnya tampak padam. Air yang dibutuhkan untuk memadamkannya pun semakin sulit diperoleh karena musim kemarau mengeringkan banyak sumber air.
Di tengah kepungan asap, saya mulai memahami bahwa tantangan terbesar bukan hanya memadamkan api, melainkan juga bertahan di tengah risiko yang terus berubah.
Ada satu kalimat yang terus terngiang selama berada di lapangan.
“Jika kepala api tidak dikejar, api akan semakin besar. Namun, mengejar kepala api berarti menghadapi risiko yang besar.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Kalimat tersebut menjadi dasar bagi kami dalam mengambil keputusan.
Untuk mencapai titik api, kami sering kali harus membuka jalur terlebih dahulu. Semak belukar yang tampak biasa dapat menyembunyikan rawa, parit, tanah rapuh, atau ancaman lain yang tidak terlihat dari kejauhan. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat.
Di situlah saya belajar bahwa keberanian bukan berarti mengabaikan bahaya. Keberanian adalah tetap bergerak dengan memahami setiap risiko yang mungkin muncul.
Selain terlibat dalam pemadaman, saya juga membantu dokumentasi dan menjalankan fungsi komando lapangan.
Sekilas, kedua tugas tersebut tampak berbeda. Namun, keduanya sama-sama menuntut kewaspadaan tinggi.
Mengambil gambar di tengah kebakaran bukan sekadar mencari sudut yang dramatis. Posisi harus dipastikan aman. Helm dan perlengkapan pelindung tidak boleh dilepas. Arah angin harus terus dipantau agar asap atau api tidak tiba-tiba berbalik mengancam.
Foto yang kemudian dilihat publik mungkin hanya muncul selama beberapa detik di layar. Namun, di balik satu foto tersebut terdapat berbagai keputusan yang harus diambil dalam situasi nyata dan penuh risiko.
Sepulang dari lapangan, saya tidak berhenti memikirkan api, sebagai mahasiswa komunikasi, saya mulai memikirkan bagaimana api tersebut hadir dalam pemberitaan.
Media sebenarnya telah banyak melaporkan karhutla. Pemberitaan mencakup luas lahan yang terbakar, jumlah titik panas, operasi pemadaman, water bombing, kabut asap, hingga status tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah.
Namun, saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: ketika media memberitakan karhutla, realitas siapa yang sebenarnya sedang kita lihat?
Sering kali, karhutla berhenti pada angka.
Berapa hektare lahan yang terbakar.
Berapa titik panas yang terdeteksi.
Berapa personel yang dikerahkan.
Di balik angka-angka tersebut, terdapat relawan yang kelelahan, petugas yang berjibaku dengan medan sulit, masyarakat yang setiap hari menghirup udara dengan kualitas yang semakin buruk, satwa yang kehilangan habitat, serta kehidupan yang perlahan berubah.
Relawan memang muncul dalam pemberitaan. Namun, sering kali mereka hanya ditampilkan sebagai sosok yang memegang selang,
Padahal, pengalaman mereka juga menyimpan pengetahuan penting.
Mereka memahami sulitnya mencari sumber air. Mereka mampu membaca perubahan arah angin. Mereka mengenali karakter api di lahan gambut. Mereka mengetahui bahwa api yang tampak padam belum tentu benar-benar selesai.
Berita yang Tidak Berhenti pada Kobaran Api
Di sinilah saya melihat bahwa peran media masih dapat diperkuat.
Karhutla tidak cukup diberitakan hanya sebagai kerusakan yang sedang berlangsung. Peristiwa ini juga perlu dipahami sebagai risiko yang harus dikomunikasikan kepada publik.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi bahwa asap berbahaya bagi kesehatan. Mereka juga perlu mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika kualitas udara memburuk, kelompok yang paling rentan, cara melaporkan kebakaran, serta upaya yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.
Media juga tidak semestinya hadir hanya ketika api berkobar, Sebelum kebakaran terjadi, media dapat memperkuat edukasi dan kesiapsiagaan.
Saat kebakaran berlangsung, media dapat menjadi saluran informasi keselamatan.
Setelah api padam, media tetap perlu mengawal proses pemulihan, mengevaluasi penanganan, serta mempertanyakan mengapa kebakaran terus berulang.
Saya melihat karhutla dari dua jarak yang berbeda.
Di lapangan, jaraknya hanya beberapa meter.
Di ruang komunikasi, jaraknya berubah menjadi berita.
Di lapangan, karhutla berarti panas, asap, gambut, sumber air yang sulit ditemukan, jalur yang harus dibuka, arah angin yang harus dibaca, serta risiko yang harus diperhitungkan.
Di media, semua itu dapat berubah menjadi angka, foto, judul, dan kutipan.
Keduanya sama-sama penting.
Namun, jangan sampai sudut pandang kedua membuat kita melupakan kenyataan yang pertama, sebab, ketika api padam, persoalan belum tentu selesai dan ketika berita berhenti, risikonya tidak serta-merta menghilang.
Reporter: ZAS













