Aceh Tengah- Satupena.co.id: Ajang Pacuan Kuda Tradisional Gayo kembali menjadi magnet bagi masyarakat dataran tinggi Tanoh Gayo. Selain sebagai olahraga tradisional, pacuan kuda telah lama menjadi hiburan sekaligus pesta rakyat yang dinantikan masyarakat setiap kali digelar.
Namun, pelaksanaan pacuan kuda kali ini terasa berbeda bagi sebagian penonton. Sosok komentator yang selama ini dikenal dengan sapaan Mr Jhon tidak terdengar dari arena pacuan kuda di Lapangan Blang Bebangka, Aceh Tengah, Selasa (26/8/2026).
Ketidakhadiran tersebut menjadi perhatian sejumlah penonton dan pecinta pacuan kuda. Bagi mereka, Mr Jhon selama ini dikenal sebagai salah satu dari tiga bersaudara komentator yang memiliki karakter dan gaya penyampaian tersendiri dalam menghidupkan suasana perlombaan.
Suara lantang ketika memandu jalannya pertandingan, ditambah gaya komunikasi yang khas dan menghibur, membuat kehadiran Mr Jhon memiliki tempat tersendiri di kalangan penonton.
“Biasanya ada Mr Jhon. Kalau beliau tidak ada, rasanya seperti ada yang kurang. Kami juga bertanya-tanya, kenapa sekarang tidak lagi menjadi komentator,” ujar salah seorang penonton yang mengaku sebagai pecinta pacuan kuda.
Menurut penonton, peran komentator bukan sekadar menyampaikan informasi mengenai jalannya perlombaan, tetapi juga membangun atmosfer arena agar semakin hidup. Sejumlah ungkapan khas yang kerap disampaikan Mr Jhon, seperti “Selamat datang saudara-saudaraku” dan “Kurr semangatmu Gayoku”, masih melekat dalam ingatan masyarakat.
Mr Jhon juga disebut telah lama terlibat dalam kegiatan pacuan kuda, termasuk sebelum pelaksanaan PON di Aceh Tengah. Kehadirannya sebagai komentator dinilai telah menjadi bagian dari tradisi dan hiburan yang menyertai olahraga pacuan kuda di Tanoh Gayo.
Ketidakhadirannya pada pelaksanaan kali ini kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Sejumlah penonton bahkan mengaitkannya dengan sikap kritis Mr Jhon terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan. Tanpa adanya penjelasan dari pihak terkait, hal itu tidak semestinya dijadikan kesimpulan mengenai alasan sebenarnya Mr Jhon tidak dilibatkan.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp, Mr Jhon membenarkan bahwa dirinya tidak menjadi salah satu komentator dalam pelaksanaan Pacuan Kuda Tradisional Gayo di Lapangan Blang Bebangka.
Ia mengatakan tidak menerima pemberitahuan maupun undangan resmi dari pihak penyelenggara untuk terlibat dalam pelaksanaan pacuan kuda kali ini.
“Saya tidak diberitahu dan tidak ada undangan secara resmi, sehingga saya tidak hadir membantu menjadi komentator dalam ajang pacuan kuda yang berlangsung saat ini di Lapangan Blang Bebangka,” kata Mr Jhon.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketidakhadirannya bukan semata-mata karena keputusan pribadi untuk tidak datang. Namun, alasan mengapa dirinya tidak mendapatkan undangan atau tidak dilibatkan sebagai komentator belum mendapat penjelasan resmi dari pihak penyelenggara.
Mantan Ketua Pordasi Aceh Tengah, Zuhaidi, SH, yang akrab disapa Didi Bale, turut menanggapi persoalan tersebut.
Menurutnya, pacuan kuda merupakan kegiatan yang lahir dari kehendak masyarakat dan para pemilik kuda sehingga pelaksanaannya perlu mempertimbangkan aspirasi serta kebiasaan yang telah tumbuh di tengah masyarakat.
“Seharusnya pacuan kuda itu kehendak masyarakat dan kehendak pemilik kuda yang harus kita ikuti,” ujar Zuhaidi.
Ia juga menilai keberadaan komentator yang sudah dikenal masyarakat merupakan salah satu bagian penting dalam membangun kemeriahan pacuan kuda.
“Jangan diotak-atik kalau urusan komentator, karena meriahnya pacuan kuda itu tergantung komentator yang sudah biasa dan profesional. Mr Jhon salah satunya. Seluruh masyarakat juga tahu bahasa komentator tiga bersaudara. Jadi, kali ini wajar masyarakat menanyakan hal itu,” katanya.
Menurut Zuhaidi, persoalan tersebut sebaiknya tidak berkembang menjadi polemik. Jika terdapat alasan tertentu dalam penunjukan komentator, ia berharap pihak penyelenggara dapat memberikan penjelasan secara terbuka agar tidak menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Bagi sebagian masyarakat Tanoh Gayo, kehadiran komentator dengan karakter kuat memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kemeriahan pacuan kuda. Suara khas Mr Jhon bagi sebagian penonton bukan hanya suara dari balik mikrofon, melainkan telah menjadi bagian dari pengalaman dan memori mereka dalam menyaksikan tradisi pacuan kuda.
Masyarakat pun berharap pelaksanaan pacuan kuda tetap menjadi ruang hiburan dan pesta rakyat yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat, tanpa dikaitkan dengan perbedaan pandangan politik maupun sikap kritis seseorang terhadap pemerintah.
“Kalau memang ada alasan kenapa beliau tidak menjadi komentator, sebaiknya dijelaskan. Kami hanya merasa kehilangan karena Mr Jhon sudah menjadi bagian dari suasana pacuan kuda. Beliau idola kami,” ujar seorang penonton.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan Mr Jhon tidak masuk dalam jajaran komentator pada pelaksanaan Pacuan Kuda Tradisional Gayo kali ini.
( Tim ).

















