Malang-Satupena.co id: Kelangkaan pupuk bersubsidi kembali menjadi persoalan serius yang dihadapi petani kopi di Desa Argotirto dan sejumlah desa di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Kondisi ini dikeluhkan para petani karena pupuk yang menjadi kebutuhan utama dalam menjaga produktivitas tanaman semakin sulit diperoleh, terutama menjelang masa pemupukan. 27 Juni 2026.
Bagi petani kopi skala kecil, pupuk bersubsidi merupakan faktor penting untuk menekan biaya produksi. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, stok pupuk di tingkat desa dinilai sangat terbatas. Akibatnya, banyak petani terpaksa menunda pemupukan atau membeli pupuk non-subsidi dengan harga yang jauh lebih mahal.
Dampak kondisi tersebut dirasakan oleh ratusan petani kopi beserta keluarga mereka yang menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan. Sebagian besar merupakan petani dengan lahan terbatas dan modal yang minim, sehingga sangat bergantung pada program pupuk bersubsidi untuk menjaga keberlangsungan usaha tani.
“Kopi bukan sekadar komoditas, tetapi menjadi sumber penghidupan keluarga, biaya pendidikan anak, hingga kebutuhan sehari-hari,” ungkap salah seorang petani.
Para petani menilai persoalan ini dipicu oleh keterbatasan alokasi pupuk dibandingkan kebutuhan riil di lapangan, distribusi yang kerap terlambat, serta belum meratanya penyaluran. Di sisi lain, muncul pula dugaan adanya penyimpangan distribusi yang menyebabkan pupuk bersubsidi diduga beredar di pasar bebas dengan harga lebih tinggi. Dugaan tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pihak berwenang untuk dilakukan pengawasan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kelangkaan pupuk berdampak langsung terhadap produktivitas tanaman kopi. Pemupukan yang tidak optimal berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan kualitas buah, hingga mengurangi hasil panen. Kondisi tersebut pada akhirnya berpengaruh terhadap pendapatan petani yang juga dihadapkan pada fluktuasi harga jual kopi.
Untuk mempertahankan tanamannya, sebagian petani memilih berutang demi membeli pupuk non-subsidi, sementara lainnya mengurangi dosis pemupukan atau bahkan membiarkan tanaman tumbuh tanpa perawatan yang optimal karena keterbatasan biaya.
Melalui keluhan ini, para petani berharap pemerintah bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi di tingkat petani. Mereka menginginkan penyaluran yang tepat sasaran, jumlah yang sesuai kebutuhan, serta distribusi yang tepat waktu agar kegiatan budidaya kopi dapat berjalan optimal.
Para petani juga berharap hasil perkebunan kopi dari Argotirto dan kawasan Sumbermanjing Wetan tetap mampu menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Malang, sekaligus menjadi penopang ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.














