AcehACEH TAMIANGBerita

Anggaran 160 Juta Lebih Dikeluarkan” Lapangan dan Irigasi SMPN 1 Kejuruan Muda Justru Retak dan Tidak Berfungsi

×

Anggaran 160 Juta Lebih Dikeluarkan” Lapangan dan Irigasi SMPN 1 Kejuruan Muda Justru Retak dan Tidak Berfungsi

Sebarkan artikel ini

Aceh Tamiang–satupena.co.id
Proyek revitalisasi SMP Negeri 1 Kejuruan Muda senilai Rp2.654.796.180 yang bersumber dari APBN Kementerian menjadi sorotan masyarakat. Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, progres pekerjaan dinilai masih rendah, sementara sejumlah hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan juga menuai kritik terkait kualitas pelaksanaannya. Berdasarkan pantauan awak media di lokasi pada Senin (15/06/2026), sejumlah bangunan masih dalam tahap pengerjaan.

Dari hasil konfirmasi dengan konsultan pengawas, progres fisik proyek hingga pertengahan Juni 2026 baru mencapai sekitar 20 persen. Rendahnya progres tersebut disebut salah satunya karena material seng UPVC baru tiba di lokasi dan pemasangannya masih dilakukan pada sebagian bangunan yang direhabilitasi.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran masyarakat mengingat tahun ajaran baru semakin dekat, sementara pekerjaan revitalisasi yang mencakup 10 ruang kelas, 2 ruang laboratorium, tempat ibadah, dan fasilitas MCK masih belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Baca juga Artikel ini :  Bupati Aceh Tamiang Mengikuti Kegiatan Orientasi Kepemimpinan 

Sorotan juga tertuju pada pekerjaan Penataan Lingkungan senilai sekitar Rp160.922.823, yang meliputi pembangunan lapangan upacara dan saluran irigasi (parit). Dari hasil pantauan di lapangan, lapangan upacara yang telah selesai dibangun terlihat mengalami retakan pada sejumlah bagian permukaan beton.

Sementara itu, saluran irigasi ditemukan retak di beberapa titik dan konstruksinya dinilai kurang rapi serta tidak lurus sehingga berpotensi menimbulkan genangan air saat hujan turun.

Baca juga Artikel ini :  Babinsa Koramil 09/Ketol Berikan Wawasan Kebangsaan di SMPN 37 Takengon

Saat dikonfirmasi, Kepala SMP Negeri 1 Kejuruan Muda menjelaskan bahwa pihaknya telah meminta pelaksana untuk segera memperbaiki pekerjaan yang mengalami kerusakan.
“Terkait pekerjaan lapangan upacara yang retak, saya sudah menyampaikan kepada tukang agar dilakukan perbaikan. Sedangkan pembangunan irigasi masih dalam proses pengerjaan karena menunggu alat berat (beko) untuk melanjutkan pekerjaan tersebut,” ujarnya.

Terkait penggunaan seng UPVC, pihak sekolah menyampaikan bahwa material yang digunakan memiliki ketebalan yang dinilai telah memenuhi kebutuhan pekerjaan. Namun, berdasarkan keterangan konsultan pengawas, dalam dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) pekerjaan hanya disebutkan penggunaan seng UPVC jenis single layer, sedangkan ketentuan mengenai ukuran atau ketebalan material tersebut tidak diatur secara spesifik dalam RAB.

Baca juga Artikel ini :  Inspektorat Aceh Tengah Dinilai Lalai, Kasus Dugaan Penyelewengan Dana Desa Karang Bayur Tak Kunjung Dilimpahkan ke APH

Menurut konsultan pengawas, yang menjadi acuan utama dalam pekerjaan adalah kesesuaian jenis material dengan spesifikasi yang tercantum dalam dokumen perencanaan. Karena itu, aspek ketebalan seng tidak menjadi item yang diukur secara khusus dalam RAB proyek revitalisasi tersebut.

Dengan progres yang menurut konsultan pengawas baru mencapai 20 persen, masyarakat berharap pihak pelaksana dapat mempercepat pekerjaan tanpa mengabaikan mutu konstruksi. Pengawasan dari instansi terkait juga dinilai perlu diperketat agar anggaran negara sebesar Rp2,65 miliar benar-benar menghasilkan fasilitas pendidikan yang berkualitas, aman, dan siap digunakan saat tahun ajaran baru dimulai. (TIM).

Hayo mau copy paste ya