ACEH TIMUR

Guru dan Siswa SMAN 1 Pantee Bidari Abadikan Luka Banjir dalam Antologi Cerpen

×

Guru dan Siswa SMAN 1 Pantee Bidari Abadikan Luka Banjir dalam Antologi Cerpen

Sebarkan artikel ini

ACEH TIMUR Jum’at 9 Oktober 2026 – Bencana banjir boleh surut, lumpur dapat dibersihkan, dan kehidupan perlahan ditata kembali. Namun, luka, kenangan, serta perjuangan masyarakat yang terdampak bencana tidak selalu mudah dilupakan. Pengalaman itulah yang diabadikan melalui sebuah buku antologi cerpen berjudul Tak Semua Boleh Hanyut: Tentang Luka, Kenangan, dan Harapan Tetap Tinggal, karya bersama guru dan siswa-siswi SMAN 1 Pantee Bidari, Kabupaten Aceh Timur.

 

Buku yang diterbitkan pada Agustus 2026 ini menjadi ruang bagi para pendidik dan pelajar untuk menuangkan gagasan, kreativitas, serta kisah tentang pengalaman kemanusiaan melalui karya sastra.

 

Kehadiran antologi ini menunjukkan bahwa peristiwa bencana tidak hanya dapat direkam melalui angka kerusakan dan laporan kebencanaan, tetapi juga melalui cerita yang menggambarkan sisi emosional kehidupan manusia.

 

Sejumlah judul cerpen yang tercantum dalam buku tersebut antara lain Bencana Tak Terduga, Kenangan Tidak Ikut Pergi, Genangan dan Kenangan, Ketakutan, Desa yang Hilang dalam Satu Malam, Arus yang Memisahkan, dan Sampah Boneka Ku.

 

Rangkaian judul tersebut menggambarkan beragam sisi kehidupan yang berkaitan dengan bencana, mulai dari ketakutan ketika musibah datang, kehilangan yang dialami masyarakat, hingga kenangan yang tetap tinggal setelah keadaan berangsur pulih.

 

Antologi ini melibatkan banyak penulis dari kalangan guru dan siswa-siswi SMAN 1 Pantee Bidari. Di antara para penulis tersebut terdapat Yusniati dari kalangan guru dan Sahara, salah seorang siswi yang turut menyumbangkan karya cerpennya.

 

Keterlibatan guru dan siswa dalam satu buku menjadi bagian penting dari pengembangan budaya literasi di lingkungan sekolah. Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga dapat menjadi rekan berkarya dalam membangun tradisi menulis bersama para pelajar.

Baca juga Artikel ini :  Apel Siaga 3+1 Berantas Halinar Lapas Idi

 

Melalui buku ini, pengalaman, pemikiran, dan kreativitas para penulis dihimpun menjadi sebuah karya yang dapat dibaca oleh masyarakat luas.

 

Salah satu penulis muda yang turut ambil bagian adalah Sahara, yang lahir di Teupin Gajah pada 10 April 2009 dan saat ini menempuh pendidikan di SMAN 1 Pantee Bidari.

 

Sejak kecil, Sahara dikenal sebagai pribadi yang tekun, memiliki semangat belajar, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Ia bercita-cita menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar serta meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.

 

Dalam antologi tersebut, Sahara menulis cerpen berjudul Sampah Boneka Ku. Judul ini mengundang pembaca untuk merenungkan bagaimana sebuah benda sederhana dapat memiliki arti emosional dan menyimpan kenangan berharga bagi pemiliknya.

 

Dalam konteks buku yang mengangkat tema luka dan kenangan akibat bencana, judul tersebut juga membuka ruang refleksi tentang kehilangan yang tidak selalu dapat diukur dari nilai materi. Benda yang tampak sederhana pun dapat menyimpan cerita dan kedekatan emosional yang mendalam.

 

Keterlibatan Sahara menjadi bagian dari perjalanan literasinya sekaligus memperlihatkan kesempatan bagi pelajar untuk menuangkan gagasan melalui karya tulis.

 

Kepala SMAN 1 Pantee Bidari, Muhammad Nasir, S.Pi., M.Si., menyampaikan pesan mendalam dalam pengantar buku yang ditulis di Pantee Bidari pada Agustus 2026.

Baca juga Artikel ini :  Ketua PKK Aceh Timur Puji Medco E&P: RPIA Jadi Model Pemberdayaan Ibu dan Anak

 

“Biarkan air surut bersama segala kesedihan. Biarkan lumpur dibersihkan bersama kenangan yang berat. Dan biarkan kata-kata dalam buku ini menjadi saksi bahwa kita pernah jatuh, pernah menangis, pernah lelah, tetapi ‘Tak Semua Boleh Hanyut’, kita punya pilihan untuk bangkit bersama, demikian pesan Muhammad Nasir.

 

Pesan tersebut menegaskan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang memperbaiki rumah, membersihkan lumpur, atau membangun kembali fasilitas yang rusak. Ada sisi emosional dan kenangan yang juga membutuhkan waktu untuk dipulihkan.

 

Melalui tulisan, pengalaman tersebut dapat diabadikan agar tidak hilang begitu saja seiring berjalannya waktu. Sastra menjadi salah satu cara untuk menyampaikan bahwa di balik kesedihan, masih ada harapan dan kesempatan untuk bangkit bersama.

 

Apresiasi terhadap antologi tersebut disampaikan Camat Pante Bidari, Darkasyi, S.E., kepada awak media ini saat menerima penyerahan buku itu.

 

Ia menilai karya tersebut sebagai terobosan yang lahir dari pemikiran para siswa SMAN 1 Pantee Bidari dan patut dibanggakan.

 

“Ini merupakan sebuah terobosan yang lahir dari buah pikiran siswa SMAN 1 Pante Bidari. Bakat seperti ini harus kita kembangkan dan para siswa harus terus kita dukung, ujar Darkasyi.

 

Ia juga berharap pemerintah dapat memberikan fasilitas yang memadai untuk menunjang pengembangan bakat siswa-siswi, terutama dalam bidang literasi dan penulisan.

 

Dukungan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan, menghasilkan karya, dan berkontribusi bagi masyarakat melalui pendidikan serta kreativitas.

Baca juga Artikel ini :  Serka Vanda Dwi Putra, Babinsa Koramil 08/Spu Kodim 0104/Atim, Hadiri Acara Kenduri Blang

 

Buku Tak Semua Boleh Hanyut: Tentang Luka, Kenangan, dan Harapan Tetap Tinggal diterbitkan oleh PT PHI Projects Entertainment.

 

Buku ini memiliki ketebalan 227 halaman dengan ukuran 14,8 x 21 sentimeter dan cetakan pertama pada Agustus 2026.

 

Dalam proses penerbitannya, desain dan ilustrasi dikerjakan oleh Azz Design, penyuntingan naskah oleh Aniah Sinta, sedangkan tata letak naskah ditangani Azri, Informasi buku mencantumkan nomor E-SBN: 01-1602-2026-021.

 

Antologi ini membawa pesan bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan keteguhan hati masyarakat.

 

Di balik setiap rumah yang rusak dan lingkungan yang berubah, ada manusia yang berusaha melanjutkan kehidupan. Ada kenangan yang sulit dilupakan, ada kesedihan yang membutuhkan waktu, dan ada harapan yang terus dipertahankan.

 

Melalui karya bersama guru dan siswa-siswi SMAN 1 Pantee Bidari, pengalaman tersebut memperoleh ruang untuk dikenang dan dipahami oleh pembaca.

 

Buku ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui literasi, para pendidik dan pelajar dapat merekam peristiwa, mengembangkan kepekaan sosial, serta menyampaikan pesan kemanusiaan kepada masyarakat.

 

Air mungkin surut, lumpur dapat dibersihkan, dan bangunan dapat kembali didirikan. Namun, cerita tentang kehilangan dan perjuangan tetap memiliki tempat dalam ingatan, Sebab, seperti pesan yang dibawa judul buku tersebut, tidak semua boleh hanyut. Luka dapat perlahan pulih, kenangan tetap tinggal, dan harapan harus terus diperjuangkan.

 

 

Reporter: ZAS

Hayo mau copy paste ya