LAMPUNG UTARA – Di bawah langit Abung Kunang yang tenang, sebuah keluh kesah mengalir bukan dari balik jeruji besi, melainkan dari kedalaman rasa seorang abdi negara. Aiptu Husni Tamrin, seorang polisi aktif bergelar Pangeran Adipati, tidak sedang membicarakan pasal-pasal hukum formal. Ia sedang mengeja sebuah risalah moral tentang bangsa yang tengah meraba arah di dalam kegelapan.
Bagi sang Kasubsektor, panggung publik hari ini kerap melahirkan “pahlawan-pahlawan palsu”. Mereka adalah orang-orang yang lantang meneriakkan aib penguasa, mengibarkan bendera protes di jalanan, namun di balik layar justru mengulurkan tangan untuk berkompromi.
Suara rakyat hanya kosmetik, dan kesejahteraan negeri sekadar komoditas untuk memupuk kekayaan pribadi.Dalam keheningan Abung Kunang, Husni Tamrin melihat melampaui apa yang kasat mata. Ia merasakan kita sedang berjalan di pelataran zaman Kala Bendu—sebuah masa di mana angkara murka berselimut kebenaran.
Sebuah peringatan spiritual yang menggetarkan pun ia gantungkan di langit-langit kekuasaan: bahwa setiap butir nasi dan setiap rupiah hak rakyat yang dicuri, kelak akan menjelma menjadi racun di dalam nadi.
Darah yang mengalir dari jalan yang salah akan mengeringkan nurani, dan daging yang tumbuh dari harta yang haram akan menjadi penyakit yang menggerogoti raga hingga akhir yang getir.
Berita ini tidak ditutup dengan sorak-sorai kemenangan, melainkan dengan untaian doa dan kalimat Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sebuah duka mendalam atas matinya hati nurani, sekaligus sebuah harapan agar hidayah Tuhan membimbing kembali jiwa-jiwa yang tersesat menuju jalan pulang yang diridai-Nya.
Reporter Andre















