Foto.: Lahan Sawah yang dulu produktif, kini telah berubah jadi belukar, padahal banjir Sumatra sudah berlalu 8 bulan
Pidie Jaya- Satupena.co.id: Ratusan hektar sawah produktif di Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, yang tertimbun lumpur Banjir Sumatra pada 26 November 2025 silam, kini telah jadi lahan mati dan terbengkalai. Akibatnya ratusan petani kehilangan pendapatan hasil panen selama dua musim tanam. Amatan media ini di lokasi, lahan sawah tersebut mengering serta ditumbuhi ilalang dan semak belukar serta terbengkalai, pada Selasa, 14/07/2026.
Bupati Pidie Jaya H. Sibral Malasyi, melalui Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie Jaya, Muhammad Nur, mengatakan, luas lahan yang belum bisa digunakan di Kecamatan Meurah Dua, adalah 295 hektar. Lahan tersebut masih tertimbun lumpur.
“Iya, luas lahan sawah yang belum bisa digunakan adalah 295 hektar,” jelas Muhammad Nur.
Dua Musim Terlewati, para petani Pidie Jaya Gagal Tanam. Hamparan sawah yang dulu produktif dan sempat menjadi lahan komoditi pangan Pidie Jaya, dengan hasil panen gabah mencapai 8 (delapan) ton per hektar. Jika dikalikan dengan luas lahan mati 295 hektar, maka hasil gabah Pidie Jaya kehilangan 2.360 ton gabah per musim tanam. Dan kini dua musim telah berlalu, maka 4.720 gabah raib tidak berbekas. Angka tersebut hanya di kecamatan Meurah Dua. Belum lagi di kecamatan lain di Pidie Jaya.
Lambannya penanganan oleh pemerintah, membuat petani semakin menjerit, Bahkan jika sampai satu tahun terabaikan, lahan produktif bukan lagi jadi semak belukar tapi jadi hutan belukar.
Para petani di Kemukiman Kuta Simpang, Kecamatan Meurah Dua, hingga kini belum dapat kembali menanam padi setelah sawah mereka tertimbun lumpur akibat banjir bandang. Akibatnya, para petani terpaksa melewati dua musim tanam tanpa menghasilkan panen, sehingga beban ekonomi keluarga petani semakin berat.
Kondisi tersebut terjadi di sejumlah gampong di Kemukiman Kuta Simpang, meliputi Meunasah Jurong, Beuringen, Pante Beureune, Buangan, dan Lueng Bimba. Hamparan sawah yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat berubah menjadi lahan mati karena tertutup endapan lumpur dengan ketebalan yang bervariasi, mulai 50 cm sampai dengan 100 cm lebih.
Seperti dilansir media NU Online, tokoh agama Japakeh yang juga Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pidie Jaya, Tgk. Yusri Gade, yang merupakan warga Kecamatan Meurah Dua, mengatakan, dirinya turut merasakan langsung dampak bencana tersebut. Selain sebagai tokoh masyarakat, ia juga memiliki lahan persawahan yang sampai sekarang belum dapat ditanami karena masih tertimbun lumpur.
“Lahan sawah saya juga ikut tertimbun, sampai kini belum bisa menanam,” ucap Tgk Yusri.
Senada dengan Tgk. Yusri, warga desa Buangan juga merasa pilu, karena sawah tersebut satu-satunya tempat menghasilkan gabah untuk membiayai anak-anaknya di Dayah dan Sekolah.
Sementara itu, lahan yang telah berhasil disulap untuk menanam palawija (bawang merah, jagung dan cabai) berkisar cuma beberapa hektar saja. Sebuah angka yang cukup minus dibandingkan lahan rusak yang terbengkalai jadi lahan mati.
Sudah delapan (8) bulan paska banjir, derita petani seakan tidak berujung. Karena padi merupakan komoditi utama petani dalam membangkitkan ekonomi keluarga. Tinggal di huntara berlama-lama tanpa pemulihan sumber ekonomi (lahan pertanian sawah) semakin menyedihkan para petani. (Ismed).













