Aceh Tamiang, satupena.co.id:
Kemarahan meluap-luap disampaikan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang, Jamil Hasan, usai meninjau langsung kondisi pembangunan Rumah Hunian Tetap (Huntap) di Dusun Kamboja, Desa Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda, Selasa (14/7/2026). Ia tidak bisa menahan amarah setelah melihat kualitas bahan bangunan yang jauh dari standar dan mengancam keselamatan nyawa warga.
Yang paling menyayat hati dan memicu kemarahan wakil rakyat itu adalah kondisi batako yang digunakan—sangat rapuh, bahkan tidak layak dipakai untuk bangunan sekecil apa pun.
“Rapuh sekali batako ini! Apa maksud kalian sebenarnya? Mau bunuh orang ya?! Jangan nanti saat banjir datang tidak ada korban jiwa, justru setelah ditempati rumah yang dibangun buruk begini yang memakan korban nyawa!” bentak Jamil Hasan dengan nada tinggi di lokasi kejadian.
Menurut Jamil, ia berangkat ke lokasi bukan tanpa alasan. Awalnya ia menerima laporan mendesak dari konstituennya sendiri yang kebetulan menjadi penerima manfaat Huntap tersebut.
“Warga binaan saya melapor memohon bantuan, minta saya periksa langsung pembangunan Huntap miliknya. Katanya kualitasnya sangat buruk, batako yang dipakai sangat rapuh dan tidak layak,” ungkapnya.
Setelah turun tangan langsung mengecek didampingi Kepala Desa setempat, Jamil Hasan menemukan fakta yang lebih mengerikan. Tidak hanya batako yang mudah hancur, bangunan pun sudah terlihat miring atau mereng. Lebih parah lagi, ia mendapati batako dicetak langsung di lokasi menggunakan pasir lumpur—bukan material yang memenuhi standar teknis pembangunan.
“Saya pegang sendiri, saya cek langsung. Batako ini rapuh sekali! Belum dipakai saja sudah begini, bagaimana nanti menghadapi hujan atau banjir? Batako dicetak sembarangan pakai pasir lumpur, tidak sesuai aturan sama sekali!” tegasnya dengan nada marah.
Jamil menegaskan tidak akan membiarkan hal ini berlarut-larut. Temuan yang sangat mencoreng nama baik daerah ini akan segera dilaporkan kepada Pimpinan DPRK Aceh Tamiang sekaligus Pemerintah Kabupaten.
“Saya pastikan laporan ini sampai ke pimpinan! Jangan sampai terjadi musibah, lalu DPRK dan Pemkab yang disalahkan masyarakat karena membiarkan bangunan maut seperti ini berdiri!” ancamnya.
Ia juga menuntut pihak pelaksana pekerjaan beserta tim teknis yang mengawasi pembangunan ini untuk segera bertanggung jawab penuh atas kelalaian yang terjadi.
“Kita panggil kontraktornya, kita panggil tim teknisnya! Minta pertanggungjawaban mereka secepatnya. Ini bukan soal bangunan semata, ini soal nyawa warga!” pungkas Jamil Hasan dengan nada yang masih menggelegar.(Staf Redaktur).













