Aceh Tamiang, satupena.co.id: Kenaikan harga material bangunan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir mulai dikeluhkan oleh masyarakat Aceh Tamiang. Lonjakan harga ini dinilai telah membebani pelaksanaan pembangunan di wilayah tersebut, khususnya program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) rumah bagi para korban bencana hidrometeorologi.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Minggu (28/7/2026), harga semen saat ini dilaporkan telah menembus kisaran Rp75.000 hingga Rp80.000 per sak. Tidak hanya semen, komoditas penting lainnya seperti besi, seng, dan sejumlah material bangunan utama juga mengalami kenaikan harga yang signifikan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar di tengah masyarakat. Anggaran bantuan yang telah ditetapkan dan dialokasikan untuk setiap unit rumah dikhawatirkan tidak lagi mencukupi, sehingga berpotensi menurunkan kualitas bangunan atau bahkan menghambat penyelesaian pembangunan rumah bantuan tersebut.
Menyikapi situasi ini, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang, Sarhadi, menegaskan bahwa kenaikan harga material saat ini perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Menurut Sarhadi, masyarakat penerima manfaat adalah pihak yang paling terpukul atas kondisi ini karena mereka dipaksa memutar otak agar pembangunan rumah tetap berjalan dengan anggaran yang sangat terbatas.
“Kenaikan harga material saat ini terasa kurang wajar. Jangan sampai masyarakat penerima bantuan menjadi korban karena anggaran rehabilitasi rumah tidak lagi mencukupi akibat harga yang terus meningkat,” ujar Sarhadi.
Ia mendesak Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag) serta instansi terkait lainnya untuk segera turun ke lapangan guna melakukan pengawasan dan pemantauan ketat terhadap harga material di pasaran. Sarhadi meminta pemerintah tidak segan mengambil langkah tegas jika ditemukan adanya indikasi permainan harga atau praktik kartel yang melanggar ketentuan.
Di sisi lain, masyarakat berharap pemerintah daerah segera melahirkan kebijakan yang berpihak kepada para penerima bantuan. Sejumlah warga bahkan mengusulkan agar pelaksanaan kegiatan pembangunan dipertimbangkan untuk ditunda sementara waktu jika lonjakan harga ini terbukti dipengaruhi oleh praktik permainan pasar atau spekulan, hingga harga kembali stabil.
“Kami tidak ingin masyarakat yang menerima bantuan justru dirugikan. Pemerintah harus hadir memastikan harga material tetap terkendali sehingga program rehab-rekon dapat berjalan sesuai tujuan dan anggaran yang telah ditetapkan,” harap salah satu perwakilan masyarakat.
Kini, masyarakat Aceh Tamiang sangat menantikan langkah konkret dari pemerintah daerah agar program pemulihan pascabencana ini tetap berjalan efektif, tepat sasaran, dan tanpa mengurangi kualitas hunian yang sangat mereka butuhkan.(Tim).












