AcehBeritaPIDIE

Gen Z Aceh Kian Jauh dari Bahasa Daerah, SMSI Pidie: Alarm Pudarnya Identitas Budaya

×

Gen Z Aceh Kian Jauh dari Bahasa Daerah, SMSI Pidie: Alarm Pudarnya Identitas Budaya

Sebarkan artikel ini

Kosakata sederhana seperti “canca” dan “canu” mulai asing di kalangan anak muda; media dan pemerintah dinilai belum optimal menjaga warisan budaya

Pidie – Satupena.co.id: Generasi muda di Kabupaten Pidie, Aceh, dinilai semakin asing dengan kosakata dasar dalam bahasa daerah seperti “canca” hingga “canu” atau cawan. Fenomena ini dipandang sebagai sinyal kuat memudarnya identitas budaya lokal yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Pidie menilai kondisi tersebut bukan sekadar perubahan linguistik, melainkan indikasi krisis identitas budaya di tengah arus modernisasi. Penerima mandat Ketua SMSI Pidie menegaskan bahwa peran media dan pemangku kebijakan sangat krusial dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal.

“Promosi budaya kita masih seperti lampu teplok di siang bolong, ada, tapi tak memberi terang. Media harus menjadi penggerak, bukan sekadar pelapor,” ujarnya dalam sebuah diskusi.

Pandangan serupa disampaikan Muhammad Riza, mantan manajer sekaligus pimpinan redaksi program radio “Sarapan Pagi” di Askar Kencana FM. Ia mengkritik keras gaya siaran media lokal yang dinilai kehilangan jati diri karena terlalu mengadopsi gaya Jakarta maupun nuansa kebarat-baratan.

Baca juga Artikel ini :  Babinsa Koramil 09/Ketol Ajak Warga Gotong Royong Buat Parit di Desa Genting Bulen

“Kenapa harus ikut gaya Jakarta atau kebarat-baratan? Ini ibarat kopi sanger tapi rasa soda, ramai di lidah, tapi hilang ruhnya. Pendengar justru ingin mendengar bahasa Aceh dengan logat Pidie yang khas,” kata Riza.

Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menjaga bahasa sebagai bagian dari identitas budaya. Ia mengingatkan bahwa semakin banyak anak muda yang tidak lagi mengenal kosakata sederhana dalam bahasa Aceh.

“Ini tanda amnesia budaya. Kalau dibiarkan, kita akan kehilangan jati diri,” ujarnya.

Riza juga mendorong pimpinan perusahaan media di Pidie agar lebih serius memberi ruang pada isu seni dan budaya, bukan semata mengejar konten viral dan klik pembaca.

“Budaya bukan tren sesaat, melainkan warisan. Media harus punya visi dan komitmen,” tegasnya.

Baca juga Artikel ini :  Progres 56,6 Persen, TNI Kebut Pembangunan Jembatan Gantung Desa Burlah

Selain itu, media juga diminta aktif mengangkat potensi generasi muda, seperti musisi, penari, hingga pelaku seni lokal yang selama ini minim ruang publikasi.

“Banyak talenta muda yang tidak punya panggung. Media harus menjadi jembatan, jangan menunggu viral baru diliput,” tambahnya.

Sementara itu, pemerhati seni dan budaya Hasan Usman mengkritik Pemerintah Kabupaten Pidie, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, yang dinilai belum maksimal dalam upaya pelestarian budaya.

“Jangan sampai budaya hanya menjadi pelengkap acara seremonial. Budaya harus hidup di masyarakat, terutama di dunia pendidikan,” ujarnya.

Ia menilai lemahnya integrasi budaya dalam kurikulum menjadi salah satu faktor yang membuat generasi muda semakin jauh dari akar budayanya.

“Kalau tidak dikenalkan sejak dini, anak-anak akan lebih mengenal budaya luar. Ini seperti menanam tanpa merawat,” katanya.

Hal senada disampaikan pengamat seni budaya Pidie, Iksan Usman. Ia menilai kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan budaya masih belum terarah dan berkelanjutan.

Baca juga Artikel ini :  Polres Pidie Jaya Kawal Kepulangan 164 Jamaah Haji Asal Pidie Jaya

“Budaya kita seperti berjalan tanpa kompas. Program ada, tetapi tidak berkesinambungan,” ujarnya.

Menurut Iksan, persoalan yang terjadi bukan hanya lemahnya promosi, tetapi juga kegagalan membangun ekosistem budaya yang terintegrasi antara pendidikan, media, dan pelaku seni.

“Sekolah tidak menguatkan, media tidak menggaungkan, pemerintah tidak mengarahkan. Akibatnya, budaya berjalan sendiri-sendiri tanpa kekuatan,” jelasnya.

Ia mengingatkan, tanpa langkah konkret dan kolaboratif, Pidie berisiko kehilangan identitas budaya dalam jangka panjang.

Diskusi tersebut juga menegaskan pentingnya sinergi antara media, pemerintah daerah, dan pelaku seni budaya dalam membangun ekosistem pelestarian dan promosi budaya yang kuat dan berkelanjutan.

SMSI Kabupaten Pidie menyatakan siap mengambil peran sebagai bagian dari solusi dengan memperkuat fungsi media sebagai garda terdepan dalam menjaga dan mempromosikan budaya daerah. ( Ril ).

Hayo mau copy paste ya