BeritaInternasionalJAKARTA

IHSG Anjlok 5,91 Persen, Rupiah Tertekan di Tengah Gejolak Global

×

IHSG Anjlok 5,91 Persen, Rupiah Tertekan di Tengah Gejolak Global

Sebarkan artikel ini

Eskalasi Konflik Selat Hormuz dan Outlook Negatif Fitch Picu Tekanan Pasar; Analis Sebut Indonesia Sedang Menghadapi “Perfect Storm”

Jakarta –Satupena.co.id:  Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan berat sepanjang pekan 9–13 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan ( / IHSG) mencatat penurunan mingguan terdalam di kawasan Asia Tenggara, sementara nilai tukar rupiah ikut tertekan akibat kombinasi sentimen global dan domestik.

IHSG ditutup di level 7.137,21 pada Jumat (13/3), atau turun 5,91 persen setara 448 poin dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Penurunan tajam tersebut menyebabkan kapitalisasi pasar di (BEI) menyusut sekitar Rp949 triliun. Di saat yang sama, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,57 triliun.

Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, , menilai koreksi tersebut merupakan realisasi dari risiko sistemik yang sedang menghantam pasar. Ia menyebut kondisi ini sebagai “perfect storm” yang dipicu oleh kombinasi ketegangan geopolitik global, tekanan pada nilai tukar rupiah, serta revisi prospek ekonomi Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional.

Menurutnya, eskalasi konflik di serta perubahan outlook Indonesia oleh menjadi negatif telah meningkatkan kekhawatiran investor. Situasi ini diperparah oleh pelemahan rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Baca juga Artikel ini :  Semangat “TNI Prima” Menggema di Langsa, Kodim 0104/Aceh Timur Gelar Upacara HUT ke-80 TNI Penuh Khidmat dan Kebersamaan

Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang pekan tersebut menggambarkan tingginya ketidakpastian pasar. Pada awal pekan, Senin (9/3), rupiah dibuka di kisaran Rp16.820 per dolar AS. Tekanan terus berlanjut hingga Selasa (10/3), ketika rupiah melemah menjadi Rp16.910 setelah revisi outlook dari Fitch memicu arus modal keluar (capital outflow) menuju aset aman (safe haven).

Tekanan mencapai titik terendah pada Rabu (11/3), ketika rupiah sempat menyentuh Rp17.015 per dolar AS secara intraday. Level tersebut memicu kekhawatiran meningkatnya inflasi impor, yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat serta meningkatkan biaya produksi sektor riil.

Memasuki Kamis (12/3), rupiah mulai menunjukkan tanda konsolidasi di sekitar Rp16.985, yang diduga sebagai hasil intervensi otoritas moneter. Hingga penutupan perdagangan Jumat (13/3), rupiah berada di level Rp16.960 per dolar AS, atau melemah 67 poin dari hari sebelumnya.

Baca juga Artikel ini :  Jalin Silaturahmi, Babinsa Gelar Komsos Bersama Perangkat Desa

“Posisi penutupan di Rp16.960 merupakan sinyal dari pasar bahwa kepercayaan terhadap stabilitas makroekonomi sedang diuji. Jika level ini bertahan lama, dampaknya akan terasa pada sektor riil melalui kenaikan biaya logistik dan manufaktur,” jelas Kusfiardi.

Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah jenis dan (WTI) dilaporkan sempat menembus US$113 per barel.

Bagi Indonesia yang masih menjadi negara pengimpor minyak, kenaikan harga energi global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ini merupakan contagion effect yang menjalar ke seluruh rantai pasok, mulai dari biaya produksi hingga daya beli masyarakat,” ujar Kusfiardi.

Melihat volatilitas pasar yang masih tinggi, Kusfiardi merekomendasikan strategi investasi yang lebih defensif. Ia menyarankan investor meningkatkan rasio kas dalam portofolio hingga minimal 40 persen guna menjaga fleksibilitas di tengah gejolak pasar.

Baca juga Artikel ini :  Sekda Bener Meriah Buka FGD “Daerah dalam Angka 2026”, Tegaskan Data Akurat Jadi Dasar Arah Kebijakan

Selain itu, sektor yang dianggap relatif lebih tahan terhadap tekanan ekonomi adalah sektor energi dan konsumer primer, seperti saham , , , dan .

Sebaliknya, investor disarankan mengurangi eksposur pada sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan pelemahan rupiah, seperti properti, konstruksi, dan transportasi.

Diversifikasi portofolio ke aset safe haven seperti obligasi pemerintah maupun emas fisik juga dinilai dapat membantu meredam risiko di tengah ketidakpastian pasar global.

“Pekan ini menjadi ujian penting bagi pasar. Jika level support IHSG di kisaran 7.000–7.100 mampu bertahan, peluang rebound terbatas masih terbuka. Namun yang paling utama saat ini adalah mitigasi risiko, terutama jika rupiah kembali menembus level Rp17.000 per dolar AS yang berpotensi mengganggu stabilitas APBN,” pungkas Kusfiardi. ( Ril ).

Hayo mau copy paste ya