Cerpen

Dari Berkas ke Birunya Rubiah, Cara Abdurrahman Menutup Lembar Pengabdian

×

Dari Berkas ke Birunya Rubiah, Cara Abdurrahman Menutup Lembar Pengabdian

Sebarkan artikel ini

By. Zulkifli Aneuk Syuhada

 

ACEH TIMUR — Ada satu kalimat yang paling sering terdengar di Kantor Camat Pante Bidari ketika nama Abdurrahman disebut.

 

“Pak Kasi, ada berkas lagi.”

 

Entah itu berkas Dana Desa, hasil Musrenbang, administrasi gampong, laporan pembangunan, hingga dokumen pemberdayaan masyarakat, selama bertahun-tahun, itulah “pasangan” yang paling setia menemani langkah Abdurrahman sebagai Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD).

 

Namun menjelang akhir masa pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara, cerita itu berubah.

Kali ini, Abdurrahman justru “menggandeng Rubiah.”

 

Tenang, ini bukan kisah cinta yang datang terlambat di penghujung karier.

 

Rubiah yang dimaksud adalah Pulau Rubiah, surga kecil di ujung barat Indonesia yang menjadi tujuan liburan terakhir rombongan pegawai Kantor Camat Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, sebelum Abdurrahman resmi menutup lembar panjang pengabdiannya kepada masyarakat desa.

 

Sejak kapal mulai mengarah ke Sabang, suasana rombongan sudah jauh dari kesan formal.

 

Tak ada meja rapat, Tak ada map kuning.

Tak ada tumpukan dokumen yang biasanya memenuhi meja kerja, Yang ada hanyalah gelak tawa.

 

“Pak Kasi, nanti jangan sampai pulangnya nggak mau balik. Takut jatuh cinta sama Rubiah,” celetuk salah seorang pegawai, Tawa langsung pecah.

Baca juga Artikel ini :  HUTANG ANAK TERHADAP IBU YANG TAK AKAN MAMPU DI BAYAR

 

Abdurrahman hanya mengangkat kepala sambil tersenyum kecil, Senyum itu terasa berbeda.

Bukan senyum ketika harus menyelesaikan persoalan administrasi desa, bukan pula senyum saat memediasi perbedaan pendapat dalam musyawarah gampong yang berlangsung hingga sore.

 

Melainkan senyum seorang abdi negara yang sedang menikmati hari-hari terakhir sebelum menyerahkan tongkat estafet pengabdian.

 

Bagi rekan-rekan kerjanya, perjalanan menuju Sabang terasa seperti menghadiahkan jeda bagi seseorang yang selama bertahun-tahun lebih sering mengurus kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.

 

Di Pulau Rubiah, warna laut berubah menjadi biru kehijauan, airnya begitu jernih hingga karang dan ikan-ikan kecil terlihat jelas dari permukaan, angin pantai datang silih berganti.

 

Beberapa pegawai sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam, yang lain menikmati kopi sambil memandang laut.

Sementara Abdurrahman, seperti biasa, tetap menjadi sasaran candaan.

 

“Biasanya Pak Kasi mengecek berkas, sekarang mengecek ombak.”

Candaan itu kembali disambut tawa panjang.

 

Di balik suasana santai itu, hampir semua yang ikut perjalanan memahami satu hal.

Abdurrahman bukan sekadar pejabat kecamatan.

 

Bagi banyak keuchik, perangkat desa, hingga tokoh masyarakat di Pante Bidari, ia adalah sosok yang mudah ditemui, pintu ruang kerjanya hampir tak pernah terasa tertutup.

Baca juga Artikel ini :  Praktik Ilegal Pengisian BBM Solar di Jambi, Bukti Kebijakan Belum Tegas

 

Ada perangkat desa yang datang membawa proposal.

Ada yang berkonsultasi soal administrasi.

Ada pula yang sekadar meminta petunjuk ketika menghadapi persoalan di gampong.

 

Ia mendengar dan Menjelaskan, Lalu membantu mencari jalan keluar, Tak heran jika namanya menjadi akrab di berbagai desa di Kecamatan Pante Bidari, engabdiannya bukan hanya tercatat dalam arsip pemerintahan.

 

Tetapi juga tersimpan dalam ingatan orang-orang yang pernah duduk bersamanya membicarakan masa depan desa.

 

Perjalanan ke Sabang ternyata menyimpan makna lain yang lebih dalam, jauh sebelum rombongan menikmati indahnya Pulau Rubia, hubungan Pante Bidari dengan Sabang sudah terjalin melalui sebuah peristiwa kemanusiaan.

 

Ketika banjir besar melanda Aceh Timur dan ribuan warga harus mengungsi, Wakil Wali Kota Sabang saat itu, Suradji Junus, bersama jajaran pemerintahnya datang membawa bantuan untuk masyarakat terdampak.

 

Pertemuan itulah yang kemudian menjadi awal kedekatan antara Pemerintah Kota Sabang dengan rombongan Kecamatan Pante Bidari.

 

Kini, ketika mereka datang sebagai tamu, sambutan hangat kembali diberikan.

Bukan lagi dalam suasana duka.

Melainkan dalam suasana persahabatan.

 

Rombongan bahkan sempat menikmati kebersamaan di sebuah kafe di Sabang sebelum melanjutkan perjalanan wisata.

 

Sebuah pertemuan yang menjadi bukti bahwa hubungan antardaerah kadang lahir bukan karena urusan birokrasi semata, melainkan karena rasa kemanusiaan.

Baca juga Artikel ini :  Praktik Ilegal Pengisian BBM Solar di Jambi, Bukti Kebijakan Belum Tegas

 

Ada hal yang sulit dijelaskan ketika seseorang mendekati akhir masa tugasnya.

Bukan soal berhenti bekerja.

 

Melainkan menyadari bahwa rutinitas yang selama ini menjadi bagian hidup perlahan akan berubah menjadi kenangan.

Barangkali itulah yang dirasakan Abdurrahman.

 

Bertahun-tahun ia terbiasa datang ke kantor dengan berbagai persoalan desa menunggu di meja, Kini, yang menunggu justru suara ombak.

 

Dan langit Sabang yang perlahan berubah jingga menjelang sore, perjalanan itu seolah menjadi simbol sederhana.

 

Bahwa setelah sekian lama mengurus perjalanan pembangunan desa, kini ia memberi kesempatan kepada dirinya sendiri menikmati perjalanan hidup, setiap pengabdian memang memiliki garis akhir, namun tidak semua akhir datang dengan cerita yang hangat.

 

Liburan ke Pulau Rubia bukan sekadar agenda rekreasi pegawai, ia menjadi penutup yang manis bagi perjalanan panjang seorang aparatur yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk masyarakat desa di Pante Bidari.

 

Dan mungkin, bertahun-tahun nanti, ketika seseorang bertanya,

“Di mana liburan terakhir Pak Abdurrahman sebelum pensiun?”

Jawabannya tetap sederhana.

Di Sabang.

Menggandeng Rubiah.

Bukan sebagai pasangan hidup.

Melainkan sebagai kenangan yang akan terus berlayar, jauh melampaui masa pensiun.