Bener Meriah –Satupena.co.id: Potensi pengembangan tanaman hortikultura di dataran tinggi Kabupaten Bener Meriah terus menunjukkan peluang. Salah satunya terlihat dari uji coba budidaya alpukat varietas Hass yang dilakukan Rahman, seorang petani di Kecamatan Bandar. Selasa 18 Agustus 2026.
Uji coba tersebut dilakukan untuk mengetahui sejauh mana alpukat Hass mampu beradaptasi dengan kondisi agroklimat kawasan dataran tinggi Gayo, khususnya di wilayah Kecamatan Bandar.
Dari hasil pengamatan sementara, tanaman yang dibudidayakan Rahman menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Tanaman tersebut telah mulai berbuah dan dinilai memiliki karakter berbuah relatif genjah, dengan cita rasa buah yang cukup baik.
“Ini masih tahap uji coba untuk melihat kecocokan alpukat Hass dengan kondisi di Bener Meriah. Hasil sementara cukup menggembirakan karena sudah berbuah dan rasanya juga cukup lezat,” ujar Rahman.
Menurut Rahman, hasil awal tersebut menjadi motivasi untuk terus melakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman, produktivitas, kualitas buah, hingga kemampuan alpukat Hass beradaptasi terhadap kondisi lingkungan setempat.
Ia menilai, apabila hasil uji coba tersebut dapat dikembangkan secara konsisten, alpukat Hass berpotensi menjadi salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomi di Bener Meriah.
Alpukat Hass dikenal sebagai salah satu varietas yang memiliki nilai jual relatif tinggi. Rahman menyebutkan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, alpukat Hass impor yang dipasarkan di sejumlah supermarket di Indonesia dapat mencapai kisaran Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram.
Namun, harga tersebut merupakan harga produk impor di tingkat pasar dan tidak dapat secara langsung dijadikan patokan harga alpukat Hass hasil produksi petani lokal.
Harga di tingkat petani nantinya akan sangat bergantung pada kualitas buah, ukuran, kontinuitas produksi, permintaan pasar, serta jalur distribusi.
Untuk memperkenalkan hasil uji cobanya kepada masyarakat, Rahman juga memberikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin mencicipi alpukat Hass hasil kebunnya.
“Bagi yang ingin mencoba atau icip-icip, saat ini kami masih menyediakan dengan harga sekitar Rp80 ribu per kilogram,” katanya.
Uji coba yang dilakukan Rahman menjadi salah satu gambaran bahwa kawasan dataran tinggi Bener Meriah masih memiliki peluang untuk mengembangkan komoditas hortikultura bernilai ekonomi selain komoditas utama seperti kopi Arabika Gayo.
Meski demikian, keberhasilan awal tersebut masih perlu dibuktikan melalui pengamatan dalam jangka waktu lebih panjang, terutama terkait produktivitas tanaman, ketahanan terhadap kondisi lingkungan, kualitas buah, serta kesinambungan produksi.
Mantan Ketua HKTI Bener Meriah, Sucipto SH, berharap Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dapat memberikan perhatian terhadap pengembangan tanaman alpukat sebagai salah satu komoditas alternatif yang berpotensi menopang perekonomian petani.
Menurut Sucipto, pengembangan alpukat dapat menjadi bagian dari upaya diversifikasi pertanian sehingga petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas, khususnya kopi Arabika Gayo.
“Sinergisitas antara pemerintah dan petani sangat dibutuhkan, terutama dalam pengembangan budidaya, pendampingan, hingga pemasaran hasil pertanian alpukat,” ujar Sucipto, yang kini berprofesi sebagai salah satu Advokat di Bener Meriah.
Ia menilai, apabila pengembangan dilakukan secara terencana dengan dukungan teknologi budidaya, pendampingan dari tenaga ahli, serta akses pasar yang baik, tanaman alpukat berpotensi menjadi salah satu komoditas hortikultura unggulan baru di daerah tersebut.
Keberhasilan uji coba di kebun Rahman diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi petani lainnya yang ingin melakukan diversifikasi tanaman hortikultura. Namun, diperlukan kajian dan data produksi yang lebih luas sebelum dapat menyimpulkan bahwa varietas Hass benar-benar cocok dikembangkan secara luas di seluruh wilayah Bener Meriah.
Catatan: Informasi mengenai tingkat kecocokan tanaman, karakter berbuah, cita rasa, dan harga dalam berita ini berdasarkan keterangan petani serta hasil pengamatan sementara. Data tersebut masih memerlukan pembuktian melalui pengembangan budidaya, pengamatan berkelanjutan, dan data produksi yang lebih luas

















