Bener Meriah –Satupena.co.id; Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh beberapa waktu lalu meninggalkan dampak besar terhadap infrastruktur, termasuk terputusnya sejumlah akses penghubung antara Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Salah satu titik terdampak paling parah adalah kawasan Tajuk Enang-Enang yang hingga berbulan-bulan setelah bencana belum mendapatkan pemulihan secara menyeluruh.
Kondisi tersebut menggugah kepedulian mantan Mukim Datu Derakal, Syahrial Abadi, untuk mengambil langkah nyata. Dengan semangat gotong royong, ia menggagas upaya pembukaan kembali jalur Enang-Enang yang terputus akibat longsor dan rusaknya jembatan penghubung di kawasan tersebut.
Inisiatif itu mendapat sambutan luas dari masyarakat. Perbaikan jalan kini terus berlangsung secara swadaya dengan melibatkan warga dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, hingga relawan dari berbagai daerah. Dukungan tidak hanya datang dalam bentuk tenaga, tetapi juga melalui donasi yang terus mengalir demi memulihkan akses yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas masyarakat dataran tinggi Gayo.
Masyarakat menilai keberadaan jalur Enang-Enang sangat penting. Sejak akses tersebut terputus, pengguna jalan terpaksa menggunakan jalur alternatif Werlah–Simpang Lancang yang dinilai memiliki risiko tinggi dan kurang layak digunakan dalam jangka panjang karena kondisi medan yang cukup berat.
Di sisi lain, pemerintah memang telah merencanakan pembangunan jembatan permanen Enang-Enang yang dijadwalkan mulai dikerjakan pada tahun 2027 dengan nilai anggaran yang diperkirakan mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Namun, proses pembangunan tersebut tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Karena itu, keberadaan jalur alternatif yang aman menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat sembari menunggu pembangunan jembatan permanen terealisasi.
Keberhasilan gerakan swadaya masyarakat dalam memperbaiki akses Enang-Enang tidak terlepas dari peran media sosial dan para kreator konten yang secara konsisten mengabarkan perkembangan di lapangan. Melalui platform Facebook, Instagram, dan TikTok, sejumlah kreator seperti Andiko, Efendi, Nasirudin, Qadri Gayo, Rahmadi, Rahman Asia, dan Iwan Aceh aktif membagikan informasi terkini mengenai kondisi serta progres perbaikan jalur Enang-Enang.
Unggahan mereka berhasil menjangkau ribuan masyarakat Gayo, baik yang berada di Aceh maupun di luar daerah. Informasi yang disampaikan tidak hanya memperlihatkan kondisi lapangan, tetapi juga menumbuhkan empati, kepedulian, dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Selain itu, melalui berbagai konten yang dipublikasikan, masyarakat juga semakin mengenal sosok Syahrial Abadi sebagai penggagas gerakan pemulihan Enang-Enang, sebuah kawasan yang memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Gayo dan menjadi saksi perjalanan peradaban masyarakat dataran tinggi tersebut.
Qadri Gayo, salah satu kreator konten yang aktif meliput perkembangan Enang-Enang, mengatakan bahwa tujuan utama mereka adalah memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat sekaligus membangkitkan semangat kebersamaan.
“Kami hadir untuk menyampaikan perkembangan Enang-Enang kepada seluruh masyarakat Gayo. Alhamdulillah, banyak yang tergerak untuk membantu dan memberikan donasi. Tujuan kami hanya satu, yaitu Enang-Enang harus pulih kembali karena jalur ini merupakan akses vital bagi masyarakat Gayo dan wilayah tengah Aceh,” ujarnya.
Menurutnya, media sosial telah menjadi jembatan yang menghubungkan kepedulian masyarakat dengan kebutuhan nyata di lapangan. Melalui unggahan yang konsisten, semangat gotong royong terus tumbuh dan menguat.
Hal senada disampaikan Ramli, warga Reremal, Kabupaten Aceh Tengah. Ia mengaku mengetahui informasi mengenai perbaikan Enang-Enang melalui media sosial dan merasa terpanggil untuk ikut berpartisipasi melalui donasi bersama warga lainnya.
“Kami mengikuti perkembangan perbaikan Enang-Enang melalui media sosial. Dari sana kami melihat perjuangan masyarakat dan para relawan di lapangan sehingga kami merasa terpanggil untuk ikut membantu. Terima kasih kepada Pak Syahrial, para kreator konten, dan semua orang baik yang telah berjuang memulihkan Enang-Enang,” ungkapnya.
Fenomena Enang-Enang menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga mampu menjadi kekuatan sosial yang menggerakkan solidaritas masyarakat. Dari layar ponsel, lahir kepedulian. Dari kepedulian, tumbuh gotong royong. Dan dari gotong royong, harapan untuk pulihnya Enang-Enang kembali menyala.
Reporter: Wenjuans
Editor : Redaksi

















