Aceh Tengah- Satupena.co.id: Lebih dari tujuh bulan setelah bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2026, jejak kerusakan masih terlihat jelas di sejumlah wilayah, termasuk di SD Negeri 10 Linge. Namun di balik puing-puing bangunan sekolah yang roboh, semangat belajar para siswa tetap berdiri tegak.
Banjir bandang boleh meruntuhkan gedung sekolah, tetapi tidak mampu meruntuhkan tekad anak-anak untuk terus menuntut ilmu. Setiap pagi, mereka tetap datang dengan seragam sederhana, membawa buku dan harapan, menapaki jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Kini, ruang kelas mereka bukan lagi bangunan permanen. Tenda darurat menjadi tempat baru untuk belajar, membaca, menulis, dan berhitung. Beralaskan terpal dengan fasilitas terbatas, proses pendidikan tetap berjalan sebagai wujud keteguhan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Bagi para guru dan orang tua, pemandangan ini lebih dari sekadar aktivitas belajar. Di balik setiap pertemuan di tenda darurat, tersimpan pesan kuat bahwa pendidikan harus terus hidup, bahkan di tengah ujian bencana.
Kerusakan parah pada bangunan sekolah membuat SDN 10 Linge tidak lagi layak digunakan. Berdasarkan hasil kajian, lokasi lama sekolah ditetapkan sebagai zona merah, sehingga pembangunan kembali di area tersebut tidak diperbolehkan karena berisiko terhadap keselamatan.
Hal ini disampaikan oleh Safran, Kepala BPMP Aceh, yang turun langsung ke lokasi bersama tim dari berbagai instansi terkait. Keputusan relokasi pun menjadi langkah penting, meski tidak mudah, demi menjamin keamanan dan masa depan para siswa.
Di tengah proses relokasi, kegiatan belajar tetap berlangsung di tenda darurat. Upaya ini dilakukan agar pendidikan tidak terputus, meskipun dalam kondisi serba terbatas.
Tantangan lain juga dihadapi para siswa. Sebagian dari mereka harus menempuh perjalanan yang lebih sulit akibat rusaknya akses jalan dari kampung terdampak menuju lokasi belajar. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap hadir di sekolah setiap hari.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan tentang ketekunan, kepedulian, dan kerja sama berbagai pihak dalam menjaga keberlangsungan generasi masa depan.
Di tengah keterbatasan, secercah harapan mulai terlihat. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan kesiapan untuk mendukung pembangunan sekolah baru bagi SDN 10 Linge.
Saat ini, pemerintah daerah tengah menyiapkan lokasi pengganti yang aman dari potensi bencana serta memiliki status hukum yang jelas dan bebas sengketa. Proposal relokasi juga sedang dipersiapkan untuk diajukan ke pemerintah pusat.
“Dana revitalisasi sudah siap dikucurkan. Syaratnya, pemerintah daerah harus menyediakan lahan yang aman dan berstatus clear and clean,” ujar Muhammad Kasman dari Direktorat SD.
Bagi anak-anak SDN 10 Linge, harapan itu sederhana namun penuh makna: kembali belajar di ruang kelas yang aman, nyaman, dan layak. Safran pun optimistis, harapan tersebut akan segera terwujud dalam waktu dekat.

















