BANDA ACEH — Komunitas Seuramoe Heritage menyambut baik rencana Pemerintah Kota Banda Aceh bersama mitra investor untuk pembangunan Hotel Aceh Heritage di kawasan strategis depan Masjid Raya Baiturrahman, (19/9/26).
Komunitas yang bergerak dalam bidang edukasi dan pelestarian sejarah tersebut menilai pembangunan hotel dengan konsep green building dan green energy dapat menjadi bagian dari pengembangan kawasan yang tidak hanya berorientasi pada investasi dan pariwisata, tetapi juga memperkuat nilai sejarah, edukasi, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua Tim Pemateri Field Trip Komunitas Seuramoe Heritage, Aji Chaidesar, mengatakan pembangunan Hotel Aceh Heritage memiliki potensi menjadi salah satu simpul penting dalam memperkenalkan kembali sejarah kawasan pusat Kota Banda Aceh kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Menurutnya, keberadaan fasilitas penginapan yang mengusung konsep heritage dapat memberikan pengalaman yang lebih luas bagi pengunjung, khususnya dengan menghadirkan narasi sejarah yang berkaitan dengan kawasan tersebut.
“Pembangunan hotel berbasis heritage ini tidak hanya berpotensi menggerakkan perekonomian daerah, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali nilai historis kawasan pusat Kota Banda Aceh kepada wisatawan,” ujar Aji.
Dorong Pembuatan Kembali Prasasti Hotel Aceh
Seiring dengan rencana pembangunan tersebut, Seuramoe Heritage turut menyampaikan usulan kepada Pemerintah Kota Banda Aceh dan pihak pengembang agar pembuatan kembali Prasasti Hotel Aceh menjadi bagian dari perencanaan kawasan hotel yang baru.
Aji menjelaskan, keberadaan situs dan prasasti yang berkaitan dengan Hotel Aceh merupakan bagian dari jejak sejarah yang memiliki nilai penting bagi memori kolektif masyarakat.
Ia menyebut, prasasti sejarah yang pernah berada di kawasan tersebut mengalami kerusakan akibat vandalisme dan kurangnya perlindungan fisik. Karena itu, rencana pembangunan Hotel Aceh Heritage dinilai dapat menjadi momentum untuk menghadirkan kembali prasasti tersebut dalam bentuk yang lebih representatif dan terlindungi.
“Situs Hotel Aceh merupakan jejak sejarah penting yang memuat memori kolektif masyarakat Aceh. Sayangnya, keberadaan prasasti sejarah yang pernah dibangun sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat tindakan vandalisme dan kurangnya perlindungan fisik di lapangan,” kata Aji.
“Oleh karena itu, pembangunan Hotel Aceh Heritage ini harus dijadikan momentum untuk merestorasi serta menghadirkan kembali prasasti tersebut dengan desain yang lebih terproteksi, representatif, dan bernilai edukatif,” lanjutnya.
Prasasti Diharapkan Menjadi Media Edukasi Sejarah
Seuramoe Heritage berharap prasasti yang nantinya dibangun kembali tidak sekadar menjadi penanda lokasi, tetapi juga dapat berfungsi sebagai media edukasi sejarah.
Menurut Aji, narasi yang ditampilkan pada prasasti perlu disusun berdasarkan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga pengunjung dapat memahami perjalanan Hotel Aceh dan perkembangan kawasan tersebut dari masa ke masa.
Dengan demikian, keberadaan hotel tidak hanya menawarkan fasilitas modern, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sejarah bagi para pengunjung.
Jaga Keselarasan dengan Kawasan Masjid Raya
Selain aspek sejarah, Seuramoe Heritage juga menyoroti pentingnya keselarasan arsitektur Hotel Aceh Heritage dengan lingkungan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman.
Komunitas tersebut mendorong agar rancangan visual dan tata ruang hotel tetap memperhatikan karakter kawasan serta nilai spiritual dan estetika yang melekat pada salah satu landmark utama Kota Banda Aceh tersebut.
Menurut Seuramoe Heritage, pembangunan fasilitas modern di kawasan bersejarah perlu memperhatikan hubungan antara bangunan baru dengan lanskap sejarah yang telah terbentuk.
Dorong Konsep Bangunan Hijau
Seuramoe Heritage juga menyatakan dukungan terhadap penerapan konsep green building dan green energy dalam rencana pembangunan Hotel Aceh Heritage.
Penggunaan energi terbarukan, pengelolaan sampah ramah lingkungan, serta teknologi seperti Waste to Energy dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menjadikan kawasan tersebut sebagai contoh pembangunan berkelanjutan di Banda Aceh.
Aji menegaskan bahwa modernisasi kawasan tidak harus menghilangkan identitas sejarah yang telah melekat di dalamnya.
“Pembangunan infrastruktur modern dan investasi hijau tidak boleh memisahkan kita dari akar sejarah. Dengan dihadirkan kembali Prasasti Hotel Aceh yang layak dan terawat, kita menjaga ingatan kolektif kota ini sekaligus mewariskan nilai-nilai sejarah bagi generasi mendatang,” ujar Aji.
Seuramoe Heritage berharap Pemerintah Kota Banda Aceh dan pihak pengembang dapat membuka ruang dialog dengan komunitas sejarah, akademisi, serta masyarakat dalam proses perencanaan Hotel Aceh Heritage.
Menurut komunitas tersebut, kolaborasi berbagai pihak penting dilakukan agar pembangunan tidak hanya menghasilkan bangunan baru, tetapi juga mampu menghadirkan kawasan yang memiliki nilai ekonomi, ekologis, edukatif, dan sejarah bagi masyarakat Aceh.












