Medan, Satupena.co.id – Ratusan mahasiswa bem universitas sumatera utara (usu) mengepung gedung dprd sumatera utara, Senin (15/06/2026), dalam aksi yang berubah panas dan penuh tekanan terhadap pemerintah.
Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ini adalah ledakan kemarahan mahasiswa atas kondisi ekonomi yang dinilai semakin menekan rakyat, ditambah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak.
Dorong masuk gedung
mahasiswa datang dengan satu pesan: tidak lagi percaya janji.
mobil komando, spanduk kritik, dan teriakan lantang memenuhi halaman dprd.
Situasi memanas saat massa mulai mendorong masuk ke area gedung, memicu ketegangan dengan aparat.
Jalanan sekitar lumpuh. Medan kembali jadi saksi amarah generasi muda.
Mahasiswa secara terbuka menggugat:
Harga BBM yang terus menekan rakyat
Kenaikan bahan pokok yang tak terkendali
Transparansi anggaran yang dinilai gelap
Program pemerintah yang dianggap gagal sasaran
Minimnya keberpihakan terhadap masyarakat kecil
bukan hanya soal kebijakan — ini sudah masuk ke wilayah krisis kepercayaan publik.
Negara sedang tidak baik-baik saja
dalam orasi, mahasiswa menegaskan:
“rakyat makin sulit hidup, tapi kebijakan terus menyakitkan.”
Narasi yang dibawa bukan lagi kritik ringan, melainkan peringatan keras bahwa kondisi negara dinilai menuju arah yang mengkhawatirkan.
Aksi ini menjadi alarm serius bagi pemerintah.
Jika suara mahasiswa terus diabaikan, maka bukan tidak mungkin gelombang perlawanan akan semakin besar dan meluas.
Medan hari ini bukan sekadar lokasi demo—
tapi simbol perlawanan terhadap keadaan.
(Red/Ade Saputra)

















