Aceh

Ruhdi Sahara : Kepemimpinan di Era Keterbukaan, Antara Kritik dan Kematangan Sikap.

×

Ruhdi Sahara : Kepemimpinan di Era Keterbukaan, Antara Kritik dan Kematangan Sikap.

Sebarkan artikel ini

Takengon- satupena.co.id

Aroma dinamika kepemimpinan pada era keterbukaan informasi menuntun lebih dari sekadar kematangan menjalankan program, sejatinya bahwa pemimpin juga lumrah diuji dalam hal yang lebih mendasar seperti bagaimana merespons kritik.

Di tengah meluasnya partisipasi dalam kaca mata publik, kritik bukan seharusnya dipandang sebagai gangguan, namun justru sebaliknya, ini menjadi bagian penting dalam menopang kualitas dari sebuah kebijakan dan arah pembangunan suatu negeri, kritik adalah bentuk keterlibatan warga dalam membantu membangun negara, bukan malah dipandang ancaman terhadap kekuasaan.

Pun demikian, dalam praktiknya, respons terhadap penyuaraan sering menjadi sorotan, etika ruang dialog menyempit dan perbedaan pandangan tidak lagi dikelola secara terbuka, muncul kepanikan akan berkurangnya kualitas komunikasi antara pemimpin dan masyarakat.

Baca juga Artikel ini :  Polsek Dewantara Sosialisasi Bahaya Bullying dan Judi Online di SMA Negeri 1 Dewantara

Aktivis Ruhdi Sahara, menilai bahwa pertahanan terhadap kritik merupakan indikator penting dari kematangan sebuah kepemimpinan.

“Kritik merupakan bagian dari sistem yang sehat, juga indikator demokrasi yang hidup, pemimpin yang kuat bukan yang bebas dari kritik, tetapi yang mampu meresponsnya dengan tenang dan proporsional,” ujarnya.

Menurutnya, responshif yang berlebihan terhadap kritik justru sangat berpotensi mengaburkan substansi persoalan yang sebenarnya perlu diselesaikan.

Baca juga Artikel ini :  Tradisi Korps Infanteri: Kapolres Pidie Jaya Pimpin Penyerahan Simbol Yudha Wastu Pramuka Jaya 2024

“Bila setiap perbedaan pandangan di justifikasi sebagai ancaman, maka yang hangus bukan hanya ruang dialog, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki kebijakan atau isu” tambahnya.

ruhdi juga menekankan bahwa sejatinya pengalaman dan usia dalam kepemimpinan harus semestinya berbanding tegap dengan kebijaksanaan dalam bersikap.

“Harapan publik ada di tangan pemimpin,, pemimpin yang besar bisa mengecilkan dirinya, namun juga sebaliknya pemimpin yang kecil bisa membesarkan dirinya, sebab seorang pemimpin mampu menunjukkan kedewasaan termasuk dalam menerima kritik tanpa reaksi yang berlebihan,” katanya.

Lanjut ia menilai, dalam konteks demokrasi modern, menjaga keseimbangan antara kewibawaan dan keterbukaan menjadi tantangan tersendiri oelh setiap pemimpin, pimpinan tidak hanya dituntut tegas, tetapi juga mampu membangun komunikasi yang sehat dan respon yang tepat dihadapan masyarakat.

Baca juga Artikel ini :  Koramil 06/Jagong Gotong Royong Bersihkan Jalan Tertimbun Longsor di Jagong Jeget

Pada akhirnya, publik akan menilai bukan hanya dari apa yang dikerjakan, tetapi juga dari bagaimana seorang pemimpin bersikap, di situlah kualitas kepemimpinan diuji apakah ia mampu tumbuh melalui kritik, atau justru menjauh darinya.

Dalam ruang demokrasi yang terus berkembang, satu hal menjadi sangat jelas, kritik bukan untuk dihindari, melainkan untuk dikelola dengan bijak.

Yusra Efendi

Hayo mau copy paste ya