Aceh Timur – Satupena.co.id: Masyarakat dari enam desa di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, terpaksa melakukan swadaya dengan patungan menyewa alat berat untuk membersihkan saluran irigasi yang tertimbun material pascabanjir.
Adapun enam desa yang terlibat dalam upaya tersebut yakni Desa Buket Kareung, Seuneubok Saboh, Seuneubok Tuha, Alue Mirah, Pante Rambong, dan Pante Labu. Langkah ini dilakukan karena hingga saat ini belum terlihat adanya penanganan dari pihak yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan irigasi sayap kanan di wilayah tersebut.
Tokoh masyarakat setempat, Zulkifli Aneuk Syuhada, menilai kondisi ini sebagai bentuk kelalaian pemerintah terhadap kebutuhan dasar petani.
“Ini sangat memprihatinkan. Masyarakat harus patungan untuk menyewa alat berat, sementara irigasi itu jelas merupakan tanggung jawab pemerintah. Jangan sampai pemerintah tutup mata,” tegas Zulkifli.
Ia menjelaskan, tertimbunnya saluran irigasi akibat banjir telah menyebabkan pasokan air ke areal persawahan terputus total. Dampaknya, para petani tidak dapat mengolah lahan maupun menanam padi pascabanjir.
Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan serius, maka akan berdampak langsung terhadap ketahanan ekonomi masyarakat desa yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian.
“Petani ini mau hidup dari mana kalau sawah tidak bisa digarap? Ini bukan persoalan kecil, ini menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat,” ujarnya.
Zulkifli juga mempertanyakan keseriusan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dalam menangani dampak banjir, khususnya pada sektor pertanian di wilayah Kemukiman Blang Seunong.
“Entah karena tidak ada anggaran atau memang tidak ada kepedulian. Yang jelas, sampai hari ini masyarakat dibiarkan berjuang sendiri,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa pembersihan saluran irigasi seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah agar masyarakat bisa segera kembali beraktivitas di sektor pertanian.
“Jangan tunggu kondisi semakin parah. Pemerintah harus segera turun tangan, bukan hanya melihat dari jauh,” pungkasnya.
Masyarakat pun berharap adanya langkah cepat dan konkret dari pemerintah daerah agar sistem irigasi dapat kembali normal, sehingga aktivitas pertanian bisa segera berjalan kembali pascabanjir.









