Berita

Transportasi Sulsel Kian Aman, Jasa Raharja Dorong Sistem Preventif Berbasis Data

×

Transportasi Sulsel Kian Aman, Jasa Raharja Dorong Sistem Preventif Berbasis Data

Sebarkan artikel ini

Kolaborasi Penta Helix Perkuat Pencegahan Kecelakaan, Fatalitas Turun 24 Persen Meski Kasus Meningkat

MakassarSatupena.co.id:  Upaya meningkatkan keselamatan transportasi di Sulawesi Selatan terus diperkuat melalui pendekatan kolaboratif berbasis data. PT Jasa Raharja mendorong pergeseran strategi dari pola responsif menjadi preventif guna menekan angka kecelakaan dan fatalitas korban.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, dalam Diskusi Keselamatan Transportasi yang mempertemukan unsur Penta Helix di Makassar, Senin (13/04/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Wilayah Jasa Raharja Sulawesi Selatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Ditlantas Polda Sulsel, Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, BPTD Kelas II Provinsi Sulsel, BBPJN Sulsel, Dinas Bina Marga, DPD Organda, PT Makassar Metro Network, rumah sakit rujukan, komunitas ojek online, hingga kalangan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi.

Forum ini menjadi wadah kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat langkah pencegahan kecelakaan lalu lintas secara terpadu di wilayah Sulawesi Selatan.

Dalam paparannya, Awaluddin mengungkapkan bahwa berdasarkan data Triwulan I 2026, nilai santunan di Sulawesi Selatan mengalami kenaikan sebesar 11,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah kecelakaan lalu lintas juga meningkat sekitar 8 persen menjadi lebih dari 2.000 kasus.

Baca juga Artikel ini :  Gudang Bongkar Muat Paya Ilang Ditutup Mendadak, Sopir Ekspedisi Keluhkan Kebijakan Sepihak

Secara nasional, data IRSMS Korlantas Polri mencatat lebih dari 151.000 kejadian kecelakaan setiap tahun dengan jumlah korban mencapai lebih dari 217.000 orang, dan menunjukkan tren peningkatan.

Menurutnya, peran Jasa Raharja tidak hanya sebatas penyaluran santunan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pencegahan kecelakaan. Langkah tersebut diwujudkan melalui pemetaan titik rawan kecelakaan (blackspot), edukasi yang tersegmentasi, serta peningkatan kapasitas respons pertama di lapangan.

“Kecelakaan tidak hanya menyebabkan kehilangan nyawa, tetapi juga berdampak pada kondisi sosial-ekonomi keluarga, karena sebagian besar korban merupakan usia produktif dan kepala keluarga. Karena itu, diperlukan perubahan pendekatan dari penanganan menjadi pencegahan berbasis sistem terintegrasi,” ujarnya.

Sementara itu, Dirlantas Polda Sulsel, Kombes Pol. Pria Budi, menyampaikan bahwa meskipun angka kecelakaan meningkat 8 persen, fatalitas korban meninggal dunia justru berhasil ditekan hingga 24 persen, dari 234 orang pada Triwulan I 2025 menjadi 179 orang pada periode yang sama tahun 2026.

Baca juga Artikel ini :  Babinsa Koramil 09/Ketol Jalin Komsos dengan Warga Desa Blang Mancung

Berdasarkan data, sebanyak 74 persen kecelakaan merupakan kecelakaan tunggal, dengan 78 persen kendaraan yang terlibat adalah sepeda motor. Waktu kejadian terbanyak terjadi pada pukul 15.00–18.00 WITA, umumnya dalam kondisi cuaca cerah dan jalan yang baik.

Polda Sulawesi Selatan juga telah memetakan titik rawan kecelakaan dengan konsentrasi tertinggi di wilayah Makassar, Maros, Barru, dan Pangkep. Penegakan hukum turut diperkuat melalui 89 unit Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), yang terdiri dari 14 unit statis dan 74 unit handheld.

Ia menekankan pentingnya penanganan cepat pada masa awal kecelakaan atau golden period untuk meningkatkan peluang keselamatan korban.

“Banyak korban meninggal bukan semata karena kecelakaan, tetapi karena terlambat mendapatkan pertolongan pertama. Kecepatan dan kualitas penanganan awal sangat menentukan keselamatan,” tegasnya.

Baca juga Artikel ini :  Satlantas Polres Pidie Pasang Spanduk Keselamatan di Titik Rawan Kecelakaan

Dalam forum tersebut, sejumlah kesepakatan strategis juga dihasilkan, di antaranya penguatan edukasi keselamatan berkendara secara interaktif di titik rawan kecelakaan, perluasan program E-PELANTAS ke seluruh kabupaten/kota, serta integrasi sistem SIM-RS dengan platform JR Care untuk mempercepat penerbitan Guarantee Letter (GL) bagi korban kecelakaan.

Selain itu, diusulkan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi komunitas pengemudi sebagai first responder guna menekan angka fatalitas pada fase penanganan awal.

Dari sisi infrastruktur, Dinas Bina Marga Provinsi Sulawesi Selatan merencanakan pemeliharaan dan peningkatan jalan sepanjang 1.000 kilometer pada periode 2025–2027. Sementara itu, Dinas Perhubungan berkomitmen menambah koridor angkutan umum dari dua menjadi tiga koridor.

Jasa Raharja menilai, forum kolaboratif seperti ini sangat penting dalam menyusun peta jalan keselamatan transportasi yang berbasis data dan kondisi lokal. Permasalahan keselamatan lalu lintas dinilai tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi dan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan.

Hayo mau copy paste ya