AcehBeritaLHOKSEUMAWE

Di Tengah Banjir Aceh, Rumah Sakit Menjadi Garda Terakhir Harapan Warga

×

Di Tengah Banjir Aceh, Rumah Sakit Menjadi Garda Terakhir Harapan Warga

Sebarkan artikel ini

Lhokseumawe, Satupena.co.id – Sejak banjir besar melanda sejumlah wilayah di Aceh, suara sirene ambulans nyaris tak pernah berhenti menggema. Di Aceh Utara, Aceh Timur, hingga Kota Langsa, rumah sakit kini menjadi tempat bertahan terakhir bagi warga yang selamat dari bencana, namun terancam oleh penyakit dan luka pascabanjir.

Di RSU Cut Meutia Buket Rata, Lhokseumawe, Sabtu (27/12/2025), suasana Instalasi Gawat Darurat (IGD) nyaris tak pernah benar-benar lengang. Warga dari berbagai kecamatan datang silih berganti. Sebagian masih mengenakan pakaian pengungsian, sebagian lainnya membawa luka akibat terseret arus atau tertimpa puing saat menyelamatkan diri.

Bau lumpur bercampur aroma obat-obatan menyelimuti ruangan. Tenaga medis bergerak cepat tanpa banyak jeda, melayani pasien yang terus berdatangan. Keluhan yang paling sering muncul adalah batuk, sesak napas, gatal-gatal, diare, serta luka terbuka. Lansia tampak mendominasi ruang tunggu, duduk lemas ditemani keluarga, sementara jumlah anak-anak yang sakit terus bertambah seiring panjangnya masa pengungsian.

Kondisi serupa terjadi di sejumlah rumah sakit swasta di Lhokseumawe. Di sisi lain, banyak puskesmas mengalami kerusakan berat atau lumpuh total, seperti di Langkahan, Blang Glumpang, Baktiya, dan Pante Bidari. Obat-obatan hanyut terbawa banjir, memaksa warga menggantungkan harapan sepenuhnya pada rumah sakit rujukan.

Baca juga Artikel ini :  Dandim 0102/Pidie menerima Kunjungan Kerja Pangdam Iskandar Muda

Di RSU Cut Meutia Langsa, lorong-lorong rumah sakit dipenuhi wajah lelah para pengungsi, termasuk dari Aceh Tamiang. Pada hari-hari awal pascabanjir, pasien datang berbondong-bondong, bahkan tanpa membawa identitas. Keterbatasan ruang membuat sebagian pasien harus dirawat di tenda darurat.

Namun di tengah kesibukan dan kepadatan itu, muncul kekhawatiran lain yang tak kalah mendesak: kondisi anak-anak di pengungsian.

Kepala RS PT PN IV Cut Meutia Langsa, dr. Hanafi, mengaku sering termenung melihat kondisi para pengungsi kecil.
“Coba bayangkan jika sebulan anak-anak hanya mengonsumsi mi instan,” ujarnya lirih. “Ini bukan hanya soal hari ini, tapi menyangkut masa depan mereka.”

Ia mengungkapkan, pada puncak banjir jumlah pasien melonjak jauh melampaui kapasitas normal. Dari 144 tempat tidur yang tersedia, rumah sakit harus menangani lebih dari 600 pasien dalam waktu singkat. Para perawat bekerja dua kali lipat, bahkan saat mereka sendiri terdampak banjir.

Baca juga Artikel ini :  Warga Minta Jalan Amblas di Jalur Isaq-jagong Jeget Segera Ditangani

“Tidak boleh ada pasien yang ditolak,” tegas Hanafi. “Meski lelah, ini tanggung jawab kami.”

Kisah pilu juga datang dari RS Sultan Abdul Aziz Syah Peureulak, Aceh Timur. Direktur rumah sakit, dr. Rita Rosti, tak kuasa menahan air mata saat menceritakan kondisi rumah sakitnya yang terendam banjir setinggi dada orang dewasa.

“Semua ruangan kemasukan air,” tuturnya terbata. “Alat medis rusak, listrik mati, dan air bersih tidak tersedia.”

Ruang operasi, ICU, PICU, IGD, hingga instalasi oksigen rusak parah. Pada hari-hari awal pascabencana, Rita bersama tim membersihkan lumpur dengan peralatan seadanya. Banyak alat medis yang tak lagi dapat digunakan.

Kini, rumah sakit tersebut hanya mampu melayani sekitar 100 pasien rawat inap secara terbatas, meski ratusan pasien rawat jalan tetap datang setiap hari. Bantuan obat-obatan dari berbagai pihak menjadi penopang utama di tengah keterbatasan.

Baca juga Artikel ini :  Diterima Dewan Pers, PJS Konsultasi Pendaftaran Konstituen

“Kami juga manusia,” ujar Rita pelan. “Banyak tenaga medis kehilangan rumah dan harta. Kami berharap ada perhatian untuk pemulihan trauma mereka.”

Sementara itu, RSU Cut Meutia Buket Rata Lhokseumawe tetap menjadi tumpuan bagi warga dari berbagai daerah, mulai dari Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, hingga Bener Meriah. Sebagian pasien bahkan dievakuasi menggunakan helikopter.
Kabag Humas rumah sakit, dr. Hary Laksamana, menyebutkan bahwa IGD hampir tak pernah kosong sejak hari pertama banjir.

“Pada hari-hari tertentu, jumlah pasien korban banjir mencapai ratusan orang,” katanya.

Dengan banyaknya fasilitas kesehatan tingkat pertama yang rusak, rumah sakit kini menjadi penyangga utama layanan kesehatan bagi masyarakat.

Di balik kelelahan dan keterbatasan, para tenaga medis tetap bertahan. Mereka sadar, di luar sana masih banyak warga yang belum pulih—bukan hanya dari luka fisik, tetapi juga dari trauma dan kehilangan.

Dan di ruang-ruang rumah sakit itulah, Aceh hari ini berjuang dalam diam: antara rasa sakit, harapan, dan keteguhan untuk tetap berdiri. (Y)