LampungOpini

TAJUK UTAMA: Menggugat Berhala Medali, Menagih Keadilan bagi Ekosistem Pendidikan

×

TAJUK UTAMA: Menggugat Berhala Medali, Menagih Keadilan bagi Ekosistem Pendidikan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Bambang Nopriadi

Lampung — Satupena.co.id:

Sistem pendidikan di Indonesia dinilai sedang mengidap penyakit akut outcome-bias, di mana publik dan birokrasi terlalu mendewakan perolehan medali dan angka-angka kuantitatif, namun buta terhadap peluh pengorbanan para guru serta siswa di balik layar.

 

Kritik keras ini mengemuka seiring maraknya ajang kompetisi seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), olahraga, hingga seni yang kerap kali hanya dijadikan alat pamer reputasi instan oleh sekolah dan pemerintah daerah.

 

Pemerhati Pendidikan Indonesia, Bambang Nopriadi, menegaskan bahwa sebuah prestasi di atas podium tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kilau medali seorang siswa, terdapat jaring-jaring pengorbanan dari guru yang telaten mengendus bakat, pembina yang meluangkan waktu di luar jam kerja tanpa insentif layak, hingga orang tua yang menguras energi dan biaya.

 

“Sebuah medali sesungguhnya bukan hanya milik siswa yang berdiri di podium. Medali adalah hasil kerja sebuah ekosistem pendidikan yang utuh,” ujar Bambang.

 

Kondisi lapangan menunjukkan arah kebijakan pendidikan nasional saat ini masih bergerak sangat mekanistik. Keberhasilan institusi sekolah direduksi dalam indikator-indikator kuantitatif yang dingin: nilai asesmen, jumlah kelulusan, peringkat sekolah, dan status akreditasi.

 

Baca juga Artikel ini :  Kapolres Tulang Bawang Barat Imbau Warga Waspada dan Pakai Masker, Abu Anak Krakatau Mulai Menyebaar

Penilaian yang bias terhadap hasil akhir ini dituding telah mengabaikan proses pembinaan melelahkan yang justru sering kali berjalan di luar jam pembelajaran reguler. Proses mencoba, gagal, dan bangkit kembali—yang merupakan esensi dari pembentukan karakter—dianggap sebagai variabel tidak penting yang diabaikan oleh lembar penilaian birokrasi.

 

Para pemangku kebijakan, termasuk Kementerian Pendidikan, dituntut untuk segera merombak indikator evaluasi ini. Ekosistem pendidikan Indonesia harus dikembalikan pada jalurnya yang humanis: sistem yang tidak hanya sibuk menghitung jumlah piala di lemari pajangan, tetapi juga melindungi, mengapresiasi, dan menyejahterakan manusia-manusia di dalamnya.

 

Pendidikan tidak boleh terus dipaksa beroperasi layaknya pabrik robot pemburu gelar. Jika seluruh elemen pendukung terus diperas tanpa adanya proteksi dan penghargaan terhadap proses belajar, maka deretan prestasi yang diraih Indonesia di panggung global ke depan hanyalah sebuah kepalsuan yang rapuh. Esensi tertinggi pendidikan adalah membangun manusia yang utuh, bukan sekadar memproduksi juara podium.

 

Pemerintah dan institusi sekolah didesak untuk segera merombak paradigma pendidikan nasional dari sekadar “mencari juara” menjadi “membangun talenta” secara sistematis. Kebijakan pembinaan prestasi yang selama ini berjalan reaktif dan musiman dinilai tidak lagi efektif untuk mewadahi jutaan potensi anak Indonesia yang beragam.Langkah pemerintah yang mulai bergerak menuju penguatan manajemen talenta murid di apresiasi sebagai titik balik penting.

Baca juga Artikel ini :  MERDEKA! 80 Tahun Indonesia Merdeka, Bagaimana dengan Kemerdekaan Pers Kita?

 

Sekolah kini dituntut tidak hanya fokus pada siswa yang sudah berprestasi, melainkan aktif mengidentifikasi bakat-bakat tersembunyi di bidang sains, olahraga, seni, riset, teknologi, hingga kepemimpinan yang selama ini belum mendapatkan ruang

 

Kebiasaan lama sekolah yang baru sibuk mencari siswa dan menunjuk pembina secara mendadak saat perlombaan diumumkan harus segera dihentikan. Model pembinaan reaktif tersebut dinilai hanya berbasis kegiatan sesaat dan tidak berkelanjutan.Untuk membangun prestasi sebagai bagian dari budaya sekolah, diperlukan ekosistem yang terstruktur melalui siklus baku:Identifikasi talenta dan pemetaan potensi sejak dini.

 

Pembinaan dan pendampingan secara berkala.Kompetisi, evaluasi, dan pengembangan lanjutan pasca-perlombaan.Legalitas dan Perlindungan Profesional Guru Pembina

 

Di balik panggung juara, sosok guru pembina kerap menjadi aktor yang paling tidak terlihat. Mereka menghabiskan waktu di luar jam reguler untuk menyusun strategi, membaca materi, hingga memotivasi siswa saat menghadapi kegagalan. Guru kini memegang peran krusial sebagai mentor, fasilitator, dan pengembang sumber daya manusia.

 

Demi menjaga keberlanjutan ekosistem ini, kerja keras para pembina harus mendapatkan pengakuan kelembagaan dan dukungan yang layak. Pemerintah dan pihak sekolah dituntut memberikan kepastian tugas, perencanaan yang matang, dukungan fasilitas, serta mekanisme pembiayaan yang jelas dan legal sesuai regulasi yang berlaku.

Baca juga Artikel ini :  Menulis Berita: Antara Kecepatan, Kebenaran, dan Tanggung Jawab Moral

 

Pilar EkosistemParadigma LamaParadigma Baru yang DidesakPrinsip KelulusanMemuja anak juara kompetisi dan pemilik nilai tertinggi.Inklusif total: Setiap anak berhak atas mutu pendidikan; gagal lomba bukan berarti gagal masa depan.

 

Hubungan Orang TuaTransaksional (Sekolah memberi nilai, orang tua menuntut nilai).Kemitraan: Fokus mendeteksi kekuatan anak, mengatasi kesulitan, dan membangun karakter bersama.Peran Kepala SekolahAdministrator birokrasi dan pengumpul berkas laporan keuangan.

 

Pemimpin Pembelajaran: Pengubah potensi sekolah menjadi strategi nyata dan penentu skala prioritas.Pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan, dituntut untuk segera menghentikan industrialisasi angka.

 

Jika sekolah terus dipaksa memenuhi target di atas kertas tanpa adanya restrukturisasi birokrasi dan penguatan kapasitas manusia di dalamnya, maka potret pendidikan Indonesia hanya akan melahirkan menara gading yang megah secara administratif, tetapi rapuh secara substansi.didesak untuk memastikan setiap rupiah anggaran dipergunakan secara bertanggung jawab langsung untuk kepentingan peserta didik.

 

Sudah saatnya menghentikan industrialisasi angka prestasi: Hitung prosesnya, hargai manusianya, bangun ekosistemnya, dan pastikan pendidikan Indonesia benar-benar hadir untuk setiap anak.

Hayo mau copy paste ya