Bener Meriah –Satupena.co.id: Semangat gotong royong masyarakat untuk membangun kembali akses Jalan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah terus menunjukkan kekuatannya. Di tengah berbagai tantangan, termasuk sempat terhentinya pekerjaan akibat adanya instruksi penghentian dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), dukungan masyarakat justru semakin mengalir.
Jalan Enang-Enang yang mengalami kerusakan parah akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor pada 26 November 2025 itu hingga kini menjadi perhatian luas. Karena merupakan jalur penghubung yang sangat vital bagi masyarakat di wilayah tengah Aceh, warga memilih bergerak secara swadaya untuk mempercepat pemulihan akses tersebut.
Tidak hanya tenaga, bantuan dalam bentuk donasi pun terus berdatangan dari berbagai kalangan. Dukungan datang dari masyarakat Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, hingga masyarakat di Sumatera Utara. Gelombang solidaritas itu menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap kepentingan bersama mampu melampaui batas wilayah.
Pantauan di lokasi pada Minggu (28/6/2026) menunjukkan antusiasme masyarakat semakin meningkat. Sejumlah tokoh masyarakat turut hadir memberikan dukungan moril sekaligus menyaksikan langsung proses pembangunan jalan yang dilakukan secara gotong royong.
Salah satunya adalah H. Misriadi atau yang akrab disapa Adijan, tokoh pemekaran Kabupaten Bener Meriah. Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada inisiator gerakan swadaya beserta seluruh masyarakat yang telah menyumbangkan tenaga, pikiran, maupun bantuan dana demi terwujudnya akses jalan tersebut.
Menurutnya, semangat kebersamaan yang ditunjukkan masyarakat merupakan contoh nyata bahwa persoalan bersama dapat dihadapi dengan persatuan.
“Kita tidak perlu saling menyalahkan. Mari bersama-sama melakukan yang terbaik demi kepentingan masyarakat. Apa yang masih kurang, kita bantu secara bersama-sama,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat, dapat segera memberikan perhatian lebih serius terhadap penanganan infrastruktur pascabencana, khususnya Jalan Enang-Enang yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat.
Selain itu, H. Misriadi menilai pembangunan Jalan Alternatif Wih Porak juga layak menjadi prioritas agar konektivitas wilayah tengah semakin kuat dan masyarakat memiliki akses yang lebih aman.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat wilayah tengah, Sucipto, SH. Menurutnya, pembangunan swadaya ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus harapan masyarakat agar pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap penanganan infrastruktur yang terdampak bencana.
Ia menegaskan bahwa gerakan masyarakat bukan bertujuan menyalahkan pemerintah, melainkan sebagai pengingat bahwa kebutuhan infrastruktur harus menjadi prioritas dalam setiap pengambilan kebijakan.
“Kami berharap ke depan pemerintah dapat mengambil langkah yang lebih tepat dalam mengeksekusi pembangunan infrastruktur, sehingga masyarakat tidak lagi menghadapi kesulitan seperti yang terjadi saat ini,” katanya.
Sucipto bahkan menyampaikan apresiasi kepada Sahrial, sosok yang menjadi inisiator gerakan pembangunan swadaya Jalan Enang-Enang.
“Kalau kita mengenal Presiden Republik Indonesia kedua sebagai Bapak Pembangunan, maka untuk Jalan Enang-Enang ini, Bapak Sahrial layak dikenal sebagai Bapak Pembangunan Jalan Enang-Enang,” ucapnya disambut tepuk tangan masyarakat.
Sementara itu, Sahrial menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang telah memberikan dukungan tanpa pamrih.
Menurutnya, pembangunan Jalan Enang-Enang bukan sekadar membangun jalan, tetapi juga membangun harapan masyarakat agar aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan mobilitas warga dapat kembali berjalan normal.
“Terima kasih kepada seluruh masyarakat, para tokoh, relawan, dan para donatur yang telah ikut berpartisipasi. Jalan Enang-Enang adalah akses yang sangat vital bagi masyarakat wilayah tengah. Semoga semangat gotong royong ini menjadi amal kebaikan bagi kita semua dan mampu mempercepat hadirnya perhatian pemerintah dalam penyelesaian jalan ini secara permanen,” tutur Sahrial.
Semangat gotong royong yang tumbuh dari masyarakat tersebut menjadi cerminan bahwa solidaritas masih menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai persoalan. Di tengah keterbatasan, warga memilih bergerak bersama, membuktikan bahwa kepentingan umum dapat diperjuangkan melalui kebersamaan, kepedulian, dan tekad yang tidak pernah padam.













