BeritaInternasionalSUMATERA UTARA

Hari Pers Se Dunia 2026, AKPERSI Toba: Pers Bukan Ancaman Tapi kebutuhan.

×

Hari Pers Se Dunia 2026, AKPERSI Toba: Pers Bukan Ancaman Tapi kebutuhan.

Sebarkan artikel ini

Hari Pers Dunia 2026, AKPERSI Toba: Pers Bebas Adalah Kebutuhan, Bukan Ancaman

KABUPATEN TOBA, SUMATERA UTARA – Toba, 3 Mei 2026//Satupena co.id. Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan zaman, pers tetap berdiri sebagai cahaya. Dalam rangka Hari Pers Dunia 3 Mei 2026, Divisi Hukum DPC AKPERSI Toba Alexander Sihombing,C.ILJ., bersama Ketua DPC AKPERSI Toba Mangiring Siboro,C.ILJ., didampingi Divisi Humas Tomuan Sibarani, menitipkan pesan hangat untuk seluruh insan pers Indonesia.

AKPERSI Toba menyampaikan penghormatan dan ucapan terima kasih kepada para jurnalis, khususnya di Toba, Samosir, dan Tapanuli Utara. Mereka yang setiap hari turun ke lapangan, mendengar keluh kesah warga, lalu mengubahnya jadi berita yang menggerakkan hati.

Baca juga Artikel ini :  Pembunuhan Siswi MTsN: DPO Kasus Mayat Dalam Karung Ditangkap di Langsa

Pesan ini datang dari rumah besar AKPERSI Toba: Alexander Sihombing, Mangiring Siboro, dan Tomuan Sibarani. Ditujukan untuk rekan-rekan jurnalis yang tak kenal lelah bekerja di desa, di pasar, di tepi Danau Toba, demi satu tujuan: memastikan suara rakyat tidak hilang.

3 Mei 2026. Hari ketika dunia berhenti sejenak untuk mengingat: tanpa pers yang bebas, tak ada demokrasi yang hidup.

Tahun ini UNESCO mengingatkan kita lewat tema “A Press for the Planet: Journalism in the Face of the Environmental Crisis.”Tapi bagi AKPERSI Toba, krisis yang dihadapi pers lebih luas.

Baca juga Artikel ini :  Polres Pidie Terima Kunjungan Tim Ditbinmas Polda Aceh dalam Kegiatan Harkatpuan Bhabinkamtibmas

“Pers bukan menara gading. Pers adalah jembatan. Jembatan antara warga yang susah bicara dengan pemimpin yang harus mendengar,” tegas Alexander Sihombing.

“Kebebasan pers itu suci. Tapi kebebasan tanpa tanggung jawab itu rapuh. Kita berpijak pada Kode Etik Jurnalistik dan UU No. 40 Tahun 1999. Itu kompas kita,” ujar Alexander.

“Hari ini kita diingatkan lagi. Kerja jurnalis bukan untuk mencari panggung, bukan untuk menjatuhkan lawan. Kerja kita untuk mencari kebenaran. Kebenaran yang kadang pahit, tapi harus disampaikan,” lanjutnya.

“Pers itu mata dan telinga rakyat. Melihat,mendengar,mencatat memberitakan informasi ke publik sesuai dengan realita Dilapangan,di pemerintah dan Di tangah tengah masarakat. pers bukan lawan. Kita mitra,” tambah Mangiring Siboro.

Baca juga Artikel ini :  Bupati Samosir Terima Hibah Aset Rp.37 Miliar dari Kementerian PU.

“Kritik itu bukan serangan. Kritik yang tulus adalah vitamin. Tanpa itu, demokrasi kita sakit,” tutup Alexander.

AKPERSI Toba percaya: pers yang bebas bukan untuk ditakuti. Pers yang bebas adalah kebutuhan. “Karena dari ruang redaksi yang merdeka, lahir kebijakan yang bijak. Dari wartawan yang berani dan beretika, lahir Toba yang mantap,” pungkasnya.

Pers kuat, Toba mantap. Selamat Hari Pers Dunia.

(DPC Akpersi kabupaten toba)

Hayo mau copy paste ya