Bener Meriah –Satupena.co.id: Setelah tujuh bulan terputus akibat bencana longsor dan banjir bandang pada November 2025, akses vital Enang-Enang yang menghubungkan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah menuju Kabupaten Bireuen hingga kini belum juga diperbaiki. Kondisi tersebut memicu inisiatif warga untuk membuka kembali jalur tersebut secara swadaya.
Jalan dan jembatan di kawasan Enang-Enang sebelumnya lumpuh total akibat terjangan bencana. Hingga Mei 2026, belum terlihat adanya penanganan konkret di lapangan. Padahal, jalur tersebut merupakan urat nadi transportasi dan distribusi logistik bagi masyarakat di wilayah Aceh bagian tengah.
Dilatarbelakangi kondisi tersebut, masyarakat dari sejumlah desa akhirnya bergerak membuka akses secara mandiri. Dengan dukungan satu unit alat berat serta bantuan donasi dari relawan, proses pembukaan jalan kini mulai menunjukkan progres.
Tokoh masyarakat setempat, Sahrial Abadi, menegaskan bahwa langkah tersebut diambil karena keterbatasan jalur alternatif yang ada saat ini. Menurutnya, jalur Werlah–Simpang Lancang yang selama ini digunakan tidak memadai untuk menampung arus kendaraan dalam jangka panjang.
“Pembukaan kembali jalur Enang-Enang ini merupakan hasil musyawarah bersama unsur Muspika, termasuk Camat Pintu Rime Gayo, Kapolsek, dan Koramil 04/PRG. Ini juga tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah, termasuk Bupati, Kapolres, dan jajaran Kodim di tingkat kecamatan,” ujar Sahrial.
Ia menegaskan, upaya tersebut bukan bentuk kritik tajam terhadap pemerintah, melainkan dorongan agar akses vital segera bisa difungsikan kembali.
“Kami tidak menyudutkan pemerintah. Kami memahami banyak titik bencana yang harus ditangani. Namun, yang terpenting bagi kami saat ini adalah akses bisa kembali dilalui. Harapan kami, langkah swadaya ini bisa menjadi pemicu percepatan pembangunan permanen,” tambahnya.
Senada dengan itu, salah satu warga, Qadri, mengaku terharu atas inisiatif gotong royong masyarakat dalam membuka kembali jalur tersebut. Ia berharap pemerintah segera turun tangan untuk melakukan pembangunan permanen.
“Yang dilakukan sekarang masih bersifat sementara. Jalur alternatif tidak layak digunakan dalam jangka panjang. Kami berharap dinas terkait segera menurunkan alat berat agar pekerjaan ini bisa diselesaikan lebih cepat,” ujarnya.
Sementara itu, Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh menyatakan bahwa pembangunan jembatan permanen di kawasan Enang-Enang direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2027. Proyek tersebut disebut membutuhkan perencanaan matang serta waktu pengerjaan yang tidak singkat.
Untuk sementara, masyarakat masih diarahkan menggunakan jalur alternatif Werlah–Simpang Lancang, meskipun kondisinya dinilai jauh dari ideal.
Situasi ini menegaskan urgensi percepatan penanganan infrastruktur di wilayah terdampak bencana, terutama yang menyangkut akses vital antarwilayah. Tanpa langkah cepat, dampak ekonomi dan sosial dikhawatirkan akan semakin meluas.
( Juansyah ).
















