AcehACEH UTARABerita

Lansia Korban Banjir Aceh Utara Terlantar, Janji Bantuan Rumah Tak Kunjung Terealisasi

×

Lansia Korban Banjir Aceh Utara Terlantar, Janji Bantuan Rumah Tak Kunjung Terealisasi

Sebarkan artikel ini

Lima bulan pascabanjir di Pirak Timu, seorang warga lanjut usia masih bertahan di gubuk darurat tanpa kejelasan bantuan dari pemerintah

Aceh Utara, Satupena.co.id:  Lima bulan setelah banjir besar menerjang Kecamatan Pirak Timu pada 26 November 2025, nasib seorang lansia bernama Barensyah (68), warga Desa Alue Bungkoh, hingga kini masih belum mendapat kepastian bantuan. Rumahnya hanyut tersapu arus, namun janji bantuan yang sempat disampaikan belum juga terealisasi.

Di tengah berbagai klaim penanganan pascabencana oleh pemerintah, Barensyah justru harus bertahan hidup di sebuah gubuk darurat yang dibangun dari sisa-sisa material. Dengan dinding papan yang rapuh dan atap seadanya, tempat tinggal tersebut jauh dari standar hunian yang layak, terlebih bagi seorang lanjut usia.

Baca juga Artikel ini :  Kades Ompu Raja Hutapea Kompakkan Warga Gotong Royong di Tiga Dusun, Dukung Visi ‘Toba Mantab'

“Saya hanya bisa menunggu. Sudah beberapa kali orang kecamatan dan geuchik datang, katanya mau diusulkan rumah. Tapi sampai sekarang belum ada kabar,” ujar Barensyah, Sabtu (25/4/2026).

Menurut penuturannya, aparat dari pihak kecamatan dan pemerintah desa telah tiga kali datang meninjau dan menjanjikan pengusulan bantuan rumah. Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut yang jelas maupun realisasi bantuan yang diharapkan.

Baca juga Artikel ini :  Polres Pidie Polda Aceh Berhasil Ringkus 6 (Enam) Pelaku Curanmor

Kondisi ini semakin memprihatinkan ketika diketahui bahwa di sejumlah wilayah terdampak lainnya, bantuan berupa hunian tetap (huntap) dan jatah hidup (jadup) telah mulai disalurkan kepada korban. Sementara itu, Barensyah justru belum terdaftar sebagai penerima bantuan, tanpa adanya penjelasan terbuka dari pihak terkait.

Hidup seorang diri di usia senja, Barensyah menghadapi beban berat akibat kehilangan tempat tinggal sekaligus ketidakpastian masa depan. Situasi ini menyoroti lemahnya akurasi pendataan serta lambannya respons pemerintah dalam menjangkau kelompok rentan pascabencana.

Baca juga Artikel ini :  ‎Pemkab Tapanuli Utara Apresiasi dan Dukung Pendataan R3P Pascabencana oleh Mahasiswa STIS

“Harapan saya cuma satu, punya rumah yang layak,” tuturnya penuh harap.

Kasus yang dialami Barensyah menjadi potret buram penanganan pascabencana di daerah. Ketika janji lebih cepat disampaikan daripada realisasi bantuan, korban justru dipaksa bertahan dalam ketidakpastian. Pemerintah daerah pun didesak untuk segera mengambil langkah konkret, tidak hanya sebatas pendataan dan janji, tetapi memastikan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan. (ZAL)

Hayo mau copy paste ya