BeritaOpini

Ramadan di Pengungsian: Antara Menahan Lapar atau Menahan Luka?

×

Ramadan di Pengungsian: Antara Menahan Lapar atau Menahan Luka?

Sebarkan artikel ini
Opini: Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, S.Pd.I., M.A,Direktur Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Satupena.co.di – Ramadan selalu datang dengan janji untuk menghabiskan waktu dengan tenang. Ia mengajarkan manusia untuk menahan keinginan, lapar, dan nafsu, sehingga muncul kesadaran baru tentang pentingnya bersyukur dan berbagi. Namun, bagaimana jika Ramadan tiba di tengah kekacauan, di tenda pengungsian, di antara orang-orang yang masih trauma? Puasa tidak sekadar menahan lapar di ruang-ruang sempit yang tidak lagi dikenal sebagai rumah. Ini juga tentang menahan luka-luka kehilangan, luka ketidakpastian, dan luka yang mungkin belum sempat diberi nama. Di sinilah Ramadan menunjukkan wajahnya yang paling keras sekaligus paling jujur, sebuah ujian spiritual yang bertemu dengan kenyataan paling lemah kemanusiaan.

Kita melihat jutaan orang melarikan diri dari rumah mereka karena konflik, bencana alam, dan krisis kemanusiaan. Misalnya, di tengah blokade dan kerusakan perang di Timur Tengah, warga sipil di wilayah seperti Gaza Strip harus berpuasa. Pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar telah tinggal di kamp pengungsian Bangladesh selama bertahun-tahun. Di Indonesia sendiri, bencana alam yang berulang, termasuk gempa dan banjir bandang di Sumatera, memaksa ribuan keluarga menjalani Ramadan di tenda darurat, jauh dari kenyamanan rumah dan kehangatan kampung halaman. Dalam keadaan seperti itu, Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan; itu adalah peristiwa yang sangat penting yang mempertanyakan makna kesabaran dan persaudaraan.

Menurut definisi normatif, puasa adalah aktivitas spiritual yang dilakukan oleh individu yang secara fisik mampu. Orang sakit, musafir, atau dalam kondisi darurat diberi keringanan oleh undang-undang. Meskipun kondisi tubuh mereka buruk dan sumber makanan mereka terbatas, banyak pengungsi tetap memilih berpuasa. Mereka sering membuat keputusan ini karena kewajiban agama karena puasa menjadi satu-satunya ruang kontrol yang mereka miliki. Ketika rumah, pekerjaan, dan masa depan tidak menentu, puasa memberi mereka rasa harga diri karena mereka masih memiliki kehendak, masih dapat memilih untuk taat, dan masih memiliki hubungan langsung dengan Tuhan yang tidak dapat diambil oleh orang lain.

Baca juga Artikel ini :  Satreskrim Polres Aceh Timur Polda Aceh Amankan 2 Pelaku Pencabulan

Waktu berbuka bukanlah saat di mana banyak hidangan disajikan, seperti yang sering diberitakan di media sosial. Tidak ada meja panjang yang penuh dengan berbagai macam takjil berwarna-warni. Mungkin hanya sebungkus nasi bantuan, sebotol air mineral, atau kurma yang dibagikan oleh relawan yang ada. Namun, di situlah arti kebersamaan menjadi paling murni. Mereka berbagi kesulitan. Anak-anak memperoleh pemahaman bahwa kelimpahan tidak selalu merupakan syarat kebahagiaan. Orang tua tidak ingin menambah tekanan psikologis pada keluarga dengan menangis. Saat azan magrib berkumandang dari pengeras suara seadanya, dia tersenyum dan menyembunyikan rasa sakitnya.

Dikotomi antara menahan lapar atau menahan luka? bukanlah hal yang sederhana. Lapar adalah sensasi fisik yang tidak abadi. Luka, khususnya luka dalam, lebih kompleks. Kehilangan tempat tinggal, menyaksikan kekerasan, atau kehilangan orang tercinta dapat menyebabkan trauma yang dapat bertahan bertahun-tahun. Dalam situasi seperti ini, Ramadan dapat berfungsi sebagai pedang bermata dua. Ramadan, di satu sisi, memberikan kesempatan untuk penyembuhan melalui doa, dzikir, dan solidaritas sosial, tetapi di sisi lain, suasana tenangnya kadang-kadang memperkuat ingatan tentang masa lalu yang buruk.

Meskipun demikian, sejarah spiritualitas Islam menunjukkan bahwa ibadah seringkali menjadi efektif dalam situasi sulit. Nabi Muhammad mengalami masa-masa sulit bersama para sahabatnya, seperti ketika lembah Abu Thalib dilanda pemboikotan ekonomi dan sosial. Peradaban berasal dari semangat ketahanan kolektif. Ramadan di pengungsian memberi kita ingatan bahwa agama tidak hanya muncul di tempat yang nyaman, tetapi juga dibentuk oleh krisis. Kesalehan bukan hanya tindakan yang ditunjukkan secara fisik; itu adalah kekuatan batin yang ditunjukkan saat semuanya tampak tidak berdaya.

Namun, kita yang berada di tempat yang relatif aman harus bercermin. Ramadan sering berubah menjadi festival makan. Pasar penuh, harga bahan pokok melonjak, dan media penuh dengan promosi diskon besar-besaran. Keluarga di tempat lain berbuka dengan air mata, sementara kita sibuk memilih menu berbuka terbaik. Kontras ini dimaksudkan untuk meningkatkan moral kolektif. Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan egoisme sosial. Ramadan menuntut empati menjadi tindakan.

Baca juga Artikel ini :  Pastikan Pelayanan Prima, Wakapolres Aceh Tengah Cek Ruang Pelayanan Publik

Sebenarnya, tradisi gotong royong di Indonesia memberikan dasar yang kuat untuk menggunakan Ramadan sebagai momentum solidaritas. Untuk menjamin distribusi bantuan yang lebih merata dan berkelanjutan, lembaga zakat, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas relawan memiliki tanggung jawab strategis. bukan hanya bantuan sementara menjelang Idulfitri, tetapi pendampingan jangka panjang yang mencakup pemulihan ekonomi keluarga pengungsi, pendidikan anak, dan kesehatan mental. Kebijakan yang berpihak, kehadiran, dan pendampingan sangat penting untuk penyembuhan Luka.

Selain itu, Ramadan menyertakan aspek teologis tentang keadilan. Ketika Al-Qur’an berbicara tentang kewajiban zakat dan anjuran sedekah, ia sebenarnya membangun sistem redistribusi sosial yang melampaui belas kasihan sesaat. Ajaran ini menjadi paling relevan di masa pengungsian. Setiap rupiah zakat yang diberikan berfungsi sebagai jembatan harapan, bukan sekadar angka. Selain memberikan jumlah kalori yang diperlukan, setiap paket makanan juga mengandung pesan agar Anda tetap ingat tentang mereka. Dengan bantuan yang direncanakan dengan baik, solidaritas dapat mengubah Ramadan dari bulan kesulitan menjadi bulan kekuatan.

Anak-anak yang mengungsi adalah yang paling rentan terhadap krisis. Bagi mereka, Ramadan mungkin tidak lagi sama dengan mendengarkan cerita menjelang tidur atau melakukan kebiasaan ngabuburit bersama teman-teman. Mereka lebih cepat memahami apa artinya kehilangan. Namun, daya lenting yang luar biasa sering terjadi pada anak-anak. Mereka masih dapat bermain dengan alat seadanya dan tertawa di antara tenda. Kekuatannya menunjukkan bahwa harapan tidak selalu memerlukan kemakmuran; hanya perlu ruang untuk berkembang.

Menahan luka juga berarti berani menghadapi trauma. Bantuan psikologis sering kali diabaikan saat pengungsi fokus pada kebutuhan fisik. Namun, ketersediaan makanan sama pentingnya dengan kesehatan mental. Ramadan dapat digunakan untuk mendorong terapi kelompok, seperti melalui kelas, konseling, atau sekadar berbagi cerita. Doa bersama bukan hanya upacara ritual, itu adalah alat untuk menciptakan hubungan yang lebih erat dan mengurangi rasa terisolasi.

Baca juga Artikel ini :  Gelorakan Bela Negara untuk Indonesia Maju, Rutan Cipinang Laksanakan Upacara Hari Bela Negara ke-76

Pertanyaan tentang tanggung jawab negara dan komunitas internasional muncul selama Ramadan di pengungsian. Apakah penderitaan pengungsi hanya akan dicatat setiap tahun? Apakah ketidakadilan dan konflik akan berlanjut di dunia tanpa solusi struktural? Puasa seharusnya menumbuhkan kesadaran moral sehingga orang dapat memperjuangkan sistem yang lebih adil. Ada kebutuhan untuk mengubah kesalehan pribadi menjadi advokasi kebijakan dan diplomasi kemanusiaan. Ia menunjukkan ketabahan yang seringkali tidak kita miliki sebagai pengungsi. Ia menimbulkan pertanyaan tentang kepedulian bagi kita yang relatif aman. Antara menahan luka atau menahan lapar adalah pilihan yang sangat sulit, namun, luka yang dialami oleh manusia lebih penting untuk disembuhkan secara kolektif. Rasa sakit dapat menjadi jalan menuju kesadaran, seperti yang ditunjukkan puasa. Meskipun demikian, kesadaran itu harus mengarah pada tindakan.

Tempat pengungsian, mungkin tidak ada pakaian baru atau hidangan istimewa saat takbir Idulfitri berkumandang. Namun, perasaan bahwa mereka tidak sendirian adalah hal yang lebih penting jika solidaritas benar-benar ada. Ramadan di pengungsian mengajarkan kita bahwa iman bukan sekadar hubungan pribadi dengan Tuhan; itu adalah tanggung jawab sosial juga. Manusia masih dapat memilih untuk berbagi di tengah keterbatasan dan memelihara harapan di tengah luka. Jadi, pertanyaan yang disebutkan dalam judul tulisan ini sebenarnya bukan opsi tunggal. Orang-orang di pengungsian sering harus menahan dua hal sekaligus: lapar yang sebenarnya dan luka yang tidak terlihat. Namun, itulah tempat kesaksian paling kuat tentang arti kemanusiaan muncul. Ramadan tidak secara magis menghilangkan kesulitan. Sebaliknya, ia memberi kita kekuatan spiritual untuk bertahan dan bangkit. Selain itu, pesan ini ditujukan kepada kita semua untuk memastikan bahwa Ramadan tidak akan dirayakan lagi di bawah bayang-bayang pengungsian.