AcehBeritaOpini

Mengapa Siswa Tidak Cukup Berguru dengan AI dalam Tinjauan Pendidikan Islam

×

Mengapa Siswa Tidak Cukup Berguru dengan AI dalam Tinjauan Pendidikan Islam

Sebarkan artikel ini
Opini Oleh: Prof. Dr. Zulfikar Ali Buto Siregar, S.Pd.I., M.A,Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Satupena.co.id – Teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara pendidikan. AI dapat menyesuaikan materi pelajaran dengan kemampuan unik siswa, menjawab pertanyaan dan pertanyaan dengan cepat. Di satu sisi, AI menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat untuk proses belajar, tetapi di sisi lain, ada gagasan bahwa siswa dapat menggunakan AI untuk belajar sepenuhnya tanpa memerlukan guru. Pandangan ini harus diperiksa secara menyeluruh dari sudut pandang pendidikan Islam. Pendidikan Islam melihat pendidikan sebagai proses menumbuhkan akhlak, spiritualitas, hati, dan akal manusia daripada hanya memberikan pengetahuan. Akibatnya, siswa tidak cukup jika hanya diajarkan tentang AI.

Istilah tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib mengacu pada pendidikan, ta’lim mengacu pada penyebaran pengetahuan, dan ta’dib mengacu pada pembentukan akhlak dan adab. Ketiga konsep ini saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Meski AI mungkin memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi ta’lim dalam beberapa kasus, itu tidak dapat menggantikan peran tarbiyah dan ta’dib. Salah satu aspek paling fundamental dalam Pendidikan Islam adalah keteladanan. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Ahmad)

Tidak cukup untuk memberikan pendidikan moral melalui definisi atau teori; sebaliknya, pendidikan moral harus diajarkan melalui contoh kehidupan nyata. Guru yang jujur, sabar, rendah hati, dan bertanggung jawab harus menjadi contoh yang dapat dipegang oleh siswanya. Siswa belajar nilai-nilai yang tidak tertulis dalam buku melalui sikap dan perilaku guru. AI tidak memiliki perasaan, emosi, atau moralitas. Ia tidak dapat menunjukkan kesabaran ketika siswa lambat memahami materi, menunjukkan keikhlasan dalam mengajar, atau menunjukkan adab dalam perbedaan pendapat. Dalam Islam, keteladanan ini sangat penting karena tujuan pendidikan adalah akhlak. Pendidikan berisiko menjadi mekanis dan tanpa contoh manusia.

Baca juga Artikel ini :  Babinsa Koramil 07/Atu Lintang Bantu Warga Bongkar Tratak di Desa Tanoh Abu

Selain jasad dan akal, manusia terdiri dari qalb (hati), ruh, dan qalb. Pendidikan yang benar harus memperhatikan aspek internal ini. Guru bertindak sebagai murabbi, atau pembimbing, yang membantu siswa mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan membangun keikhlasan, takut (khauf), dan harapan (raja). AI tidak memiliki kesadaran spiritual. Ia tidak dapat merasakan shalat yang khusyuk, menangis karena takut kepada Allah, atau mendoakan murid-muridnya. Padahal, doa guru untuk muridnya sangat penting dalam pendidikan Islam. Ini adalah hubungan batin yang ada antara guru dan muridnya, yang menciptakan ikatan ruhani yang menghasilkan keberkahan ilmu (barakah al-‘ilm). ilmu dinilai berdasarkan keberkahannya dan kedalaman pengetahuannya. Banyak ulama menekankan bahwa ilmu yang tidak disertai dengan adab dan niat yang benar akan merugikan. Karena niat adalah urusan hati yang hanya dapat dibimbing oleh manusia yang beriman, AI tidak mampu menanamkan niat ikhlas dalam belajar.

Baca juga Artikel ini :  Kapolres Aceh Tengah: Teladani Ketabahan Nabi Ibrahim dan Ismail, Jaga Anak-anak Kita dengan Ibadah

Pendidikan tidak hanya membantu orang menjadi lebih baik secara pribadi, tetapi juga mengajarkan mereka cara hidup dalam masyarakat. Interaksi antara siswa dan guru serta antar sesama siswa mengajarkan toleransi, empati, komunikasi, dan kerja sama. Hubungan dengan orang lain (hablum minannas) dianggap sama pentingnya dengan hubungan dengan Allah (hablum minallah) dalam Islam. Siswa dapat terisolasi dari interaksi manusia yang nyata jika mereka belajar hanya dengan AI. Siswa mungkin memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi, tetapi mereka mungkin tidak cukup kuat secara sosial dan emosional. Dengan kepekaan dan pengalaman mereka, guru dapat memahami kondisi psikologis siswa dan memberikan saran yang tepat. Mereka juga dapat menegur dengan cara yang mendidik. Tidak seperti empati dan kasih sayang, AI bergantung pada data dan algoritma.

Guru memiliki wewenang secara moral dan ilmiah. Ia bertanggung jawab atas ilmu yang dia ajarkan dan bagaimana hal itu berdampak pada siswanya. Guru bukan hanya orang yang mengajar tetapi juga orang yang mempromosikan kebenaran. Meskipun AI sangat canggih, siswa dapat mengalami kesalahan pemahaman, terutama dalam ilmu keislaman yang memerlukan konteks, hikmah, dan kehati-hatian, jika mereka sepenuhnya berguru padanya tanpa bantuan guru. Tafsir Al-Qur’an, hadis, dan hukum fikih memerlukan metodologi dan otoritas keilmuan yang jelas. Guru bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pengetahuan dipahami dengan benar dan tidak disalahgunakan.

Baca juga Artikel ini :  Aktivis HAM Desak Kapolres Tekan Angka Kekerasan di Aceh Timur

Teknologi tidak ditolak dalam pendidikan Islam. AI dapat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, seperti akses ke informasi, media belajar, dan sarana latihan. Namun, AI harus digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti guru. Dengan bimbingan guru, AI dapat digunakan secara bijak dan sesuai dengan nilai-nilai Islam, membantu siswa memilah informasi, menanamkan adab dalam belajar, dan mengarahkan penggambaran.

Pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan; itu adalah proses pembentukan manusia seutuhnya, yang mencakup akal, hati, akhlak, dan spiritualitas. Oleh karena itu, siswa tidak cukup untuk mengajar dengan AI. AI tidak memiliki dimensi ruhani, kesadaran moral, empati, dan keteladanan yang penting untuk pendidikan Islam. Guru melakukan peran murabbi, mu’allim, dan mu’addib yang tidak dapat diganti dengan teknologi saat ini. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan harus difokuskan sebagai alat bantu yang meningkatkan tugas guru daripada menggantinya. Oleh karena itu, pendidikan Islam masih memiliki kemampuan untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, beriman, dan bertanggung jawab sebagai khalifah di Bumi.