Aceh Utara- Satupena.co.id: Suasana pagi di SD Negeri 9 Murah Mulia, Kecamatan Murah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (4/2/2026), terasa berbeda. Di balik kesederhanaan lingkungan sekolah, tersimpan kehangatan yang menyentuh hati. Dalam rangka memperingati hari Nisfu Syakban.sekolah ini menggelar Kenduri Asyura yang dirangkai dengan santunan kepada 15 anak yatim—sebuah momentum yang bukan hanya sarat makna religius, tetapi juga penuh empati dan kasih sayang.
Sejak pagi, para guru dan siswa berkumpul dengan wajah ceria bercampur haru. Hadir pula pimpinan dayah setempat, Abi Muslim, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perangkat Gampong Mesjid. Kebersamaan itu seolah menegaskan bahwa sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang tumbuhnya nilai kemanusiaan.
Kepala SD Negeri 9 Murah Mulia, Fitriani, S.Pd.I., M.Pd. menyampaikan bahwa kegiatan Kenduri Nisfu Syakban ini telah menjadi agenda rutin tahunan sekolah. Namun lebih dari sekadar tradisi, kegiatan ini dimaksudkan sebagai pembelajaran nyata bagi siswa tentang arti kepedulian dan empati terhadap sesama, khususnya mereka yang telah kehilangan orang tua.
“Di hari Nisfu Syakban ini, kami ingin anak-anak belajar bahwa ilmu harus berjalan seiring dengan rasa peduli. Dari hal sederhana inilah karakter mereka dibentuk,” ujar Fitriani dengan nada penuh ketulusan.
Ia juga mengungkapkan bahwa santunan yang diberikan kepada anak yatim sepenuhnya berasal dari keikhlasan para guru. Tanpa paksaan, mereka menyisihkan sebagian rezekinya, berharap dapat sedikit meringankan beban dan menghadirkan senyum di wajah anak-anak yang telah lebih dulu mengenal arti kehilangan.
Pengawas binaan SD Negeri 9 Murah Mulia, Rosmawati, S.Pd.M.Pd, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan sekolah ini merupakan contoh nyata pendidikan karakter yang hidup—bukan hanya diajarkan lewat kata-kata, tetapi diwujudkan melalui tindakan.
“Kegiatan ini mengajarkan nilai kemanusiaan yang mendalam. Anak-anak belajar tentang empati, berbagi, dan kebersamaan sejak dini,” tuturnya.
Senada dengan itu, Geuchik Gampong Mesjid, Putri Sri Wahyuni, menyampaikan dukungannya. Ia berharap kegiatan seperti ini terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya, sekaligus memperkuat sinergi antara sekolah, tokoh agama, dan pemerintah gampong.
Puncak acara berlangsung khidmat saat doa bersama dipimpin oleh Abi Muslim. Suasana haru menyelimuti prosesi penyerahan santunan kepada 15 anak yatim. Tatapan polos penuh harapan, senyum malu-malu, dan mata yang berkaca-kaca menjadi saksi bahwa kepedulian sekecil apa pun memiliki arti yang begitu besar.
Kegiatan ditutup dengan makan bersama antara guru, siswa, dan masyarakat. Dalam kebersamaan sederhana itu, tak ada sekat—yang ada hanyalah rasa syukur, kehangatan, dan keyakinan bahwa dari lingkungan sekolah, benih-benih kemanusiaan terus tumbuh dan hidup.
(ZAL)














