ACEH TIMUR –Satupena.co.id: Banjir kembali melanda wilayah Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, pada Senin (12/10/2026). Luapan air sungai mengakibatkan dua desa, yakni Desa Pante Kera dan Desa Batu Sumbang, yang berada di kawasan pinggiran sungai, terendam banjir.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 90 kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi untuk menghindari risiko yang dapat membahayakan keselamatan mereka. Khusus warga Desa Pante Kera, evakuasi dini telah dilakukan secara mandiri dengan mencari tempat yang lebih aman, salah satunya di gedung sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Camat Simpang Jernih, Cut Sriwahyuni, SE., dalam laporannya kepada Bupati Aceh Timur menyampaikan bahwa kondisi banjir di wilayah tersebut membutuhkan perhatian dan penanganan segera dari pemerintah daerah serta instansi terkait.
Selain merendam permukiman warga, banjir juga menggenangi jalan lintas yang menghubungkan wilayah Tamiang dengan Kecamatan Simpang Jernih. Ketinggian air di badan jalan dilaporkan mencapai sekitar 100 sentimeter atau satu meter, sehingga menghambat akses transportasi masyarakat.
Terputusnya akses jalan tersebut turut berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Pasalnya, setiap hari Senin biasanya berlangsung kegiatan pasar mingguan yang menjadi salah satu tempat masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, akibat genangan banjir yang cukup tinggi, aktivitas pasar tidak dapat dilaksanakan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan pokok dan kebutuhan pangan masyarakat apabila akses jalan terus terputus dan banjir tidak segera surut.
Kekhawatiran juga meningkat mengingat kawasan perbukitan di wilayah hulu, khususnya sekitar Gunung Pending yang mengarah ke wilayah Gayo Lues, masih berpotensi diguyur hujan. Jika hujan terus berlangsung, debit air sungai dikhawatirkan meningkat dan memperparah kondisi banjir di Kecamatan Simpang Jernih.
Dalam laporannya, Camat Simpang Jernih meminta perhatian Bupati Aceh Timur agar melalui instansi terkait segera melakukan pemantauan kondisi di lapangan, penanganan darurat, serta langkah-langkah antisipasi untuk mencegah bertambahnya ketinggian air dan meluasnya dampak banjir.
Penanganan cepat dinilai penting, terutama untuk memastikan keselamatan warga yang terdampak, memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, serta mengantisipasi kemungkinan terisolasinya masyarakat akibat terputusnya akses transportasi.
Pemerintah daerah juga diharapkan dapat berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan debit air sungai dan menyiapkan langkah evakuasi lanjutan apabila kondisi semakin memburuk.
Hingga laporan ini disampaikan, kondisi banjir di Kecamatan Simpang Jernih masih menjadi perhatian, terutama terkait keselamatan warga, akses transportasi, serta ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat terdampak.











