AcehBeritaLHOKSEUMAWE

Normalisasi atau Menyisakan Bahaya? Parit Terbuka di Muara Dua, Anak Kecil Pernah Jatuh ‎

×

Normalisasi atau Menyisakan Bahaya? Parit Terbuka di Muara Dua, Anak Kecil Pernah Jatuh ‎

Sebarkan artikel ini

Lhokseumawe – Pekerjaan normalisasi saluran semestinya membuat air lebih lancar dan lingkungan lebih aman. Namun di Desa Keude Cunda, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, pekerjaan yang disebut telah berlangsung hampir dua bulan justru menyisakan pertanyaan, Senin (5/10/26).

‎Sejumlah saluran yang dibuka dalam proses pekerjaan masih terlihat terbuka. Beberapa bagian yang sebelumnya dibongkar belum sepenuhnya dikembalikan seperti kondisi semula. Di tengah aktivitas warga, lubang-lubang itu menjadi pemandangan yang bukan hanya mengganggu, tetapi juga menyimpan risiko.

‎Bagi warga, pekerjaan konstruksi boleh saja berlangsung. Yang menjadi soal adalah ketika bekas pekerjaan meninggalkan ruang terbuka tanpa pengamanan yang memadai.

‎Seorang pemilik toko di sekitar lokasi bahkan memilih memasang penutup sendiri pada bagian saluran yang berada di depan atau sekitar tempat usahanya.

‎Ia mengatakan, saat pembongkaran dilakukan, pihak yang mengerjakan pekerjaan tersebut sempat menyampaikan bahwa saluran akan dipasang kembali setelah pekerjaan selesai.

‎“ Waktu dibongkar, pihak toko bilang, itu boleh dibongkar, tapi nanti dipasang kembali. Mereka bilang nanti kami pasang kembali. Ternyata sampai sekarang tidak dipasang kembali. Setelah proyek selesai juga tidak dipasang, sehingga kami pasang sendiri,” ujarnya.

Baca juga Artikel ini :  Cooling System Pilkada 2024, Kapolres Pidie Sambangi Warga Mila

‎Menurut nya, keputusan memasang penutup secara mandiri bukan tanpa alasan.

‎“ Di samping toko saya, anak kecil pernah jatuh ke dalam lubang itu. Untung tidak kena besi,” katanya.

‎Cerita tersebut menggambarkan kecemasan yang lebih luas: saluran yang terbuka berada di ruang yang setiap hari dilewati masyarakat, termasuk anak-anak.

‎Keluhan serupa disampaikan seorang ibu rumah tangga kepada media ini pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026. Ia mengaku khawatir kondisi saluran tersebut membahayakan anak-anak yang berada di sekitar lokasi.

‎“ Cukup bahaya, Bang. Saya khawatir anak saya bisa jatuh ke dalam parit ini. Saya juga tidak tahu harus mengadu ke mana,” ujarnya.

‎Persoalan lain muncul setelah saluran dibersihkan. Sejumlah bagian disebut kembali kemasukan sampah ringan yang terbawa angin. Kondisi itu membuat warga mempertanyakan apakah pekerjaan tersebut memang telah selesai atau masih berada dalam tahap pelaksanaan.

‎‎Sebab, normalisasi saluran bukan semata perkara mengeruk tanah atau membersihkan endapan. Ada pekerjaan setelah pembongkaran: memastikan saluran aman, mengembalikan bagian yang dibuka, dan meninggalkan lingkungan dalam kondisi yang tidak membahayakan warga.

Baca juga Artikel ini :  Babinsa Tamiang Hulu Turun ke Kebun, Koptu Eko Bantu Petani Bersihkan Lahan Kacang Hijau

‎Proyek Siapa, Kapan Selesai?

‎Pekerjaan tersebut diduga berkaitan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Lhokseumawe.

‎Namun, hingga berita ini ditulis, belum diperoleh penjelasan resmi mengenai nilai pekerjaan, sumber anggaran, pihak pelaksana, volume pekerjaan, jadwal pelaksanaan, serta target penyelesaian.

‎Pertanyaan mengenai status saluran yang masih terbuka juga belum terjawab.

‎‎Jika pekerjaan memang belum selesai, warga tentu membutuhkan kepastian: kapan seluruh bagian yang dibongkar akan dikembalikan? Siapa yang bertanggung jawab memastikan lokasi aman selama pekerjaan berlangsung? Dan apakah kondisi saluran yang terbuka tersebut telah masuk dalam pengawasan pihak terkait?.

‎Sebaliknya, apabila pekerjaan telah dinyatakan selesai, muncul pertanyaan lain: mengapa masih terdapat bagian saluran yang belum dikembalikan seperti semula?.

‎‎Pertanyaan-pertanyaan itu penting dijawab agar dugaan pekerjaan mangkrak tidak berhenti sebagai percakapan di warung atau keluhan di pinggir jalan.

Baca juga Artikel ini :  Penetapan Tersangka Wartawan Ryan di Babel Cacat Prosedur, Hentikan Kriminalisasi Pers!

‎Media ini telah berupaya menghubungi pihak PUPR Kota Lhokseumawe melalui sambungan telepon untuk memperoleh konfirmasi mengenai status pekerjaan, pelaksana, nilai pekerjaan, target penyelesaian, serta kondisi saluran di Desa Keude Cunda.

‎Namun hingga berita ini ditulis, upaya konfirmasi tersebut belum memperoleh tanggapan.

‎Pemberitaan ini tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan adanya pelanggaran ataupun menyatakan pekerjaan tersebut mangkrak sebelum adanya penjelasan resmi.

‎Kondisi di lapangan dan keluhan warga menjadi dasar perlunya klarifikasi dari pihak yang bertanggung jawab.

‎Untuk menjaga keberimbangan dan memenuhi prinsip kode etik jurnalistik, media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Dinas PUPR Kota Lhokseumawe maupun pihak pelaksana.

‎Sebab, bagi warga, yang mereka tunggu bukan sekadar proyek selesai di atas kertas. Mereka ingin saluran yang dibongkar kembali aman, jalan yang dilalui tidak menyimpan jebakan, dan anak-anak bisa bermain tanpa orang tua harus terus-menerus menoleh ke arah lubang.

‎Di antara tanah yang dikeruk dan beton yang belum kembali, ada satu hal yang semestinya tidak ikut tertinggal: keselamatan warga.

Hayo mau copy paste ya