Bener Meriah- Satupena.co.id: Kawanan gajah liar kembali memasuki wilayah perkebunan hingga mendekati permukiman warga di Kampung Blang Rakal, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Kamis (10/9/2026).
Sedikitnya 11 ekor gajah liar terpantau berada di sekitar wilayah Blang Rakal. Kehadiran kawanan satwa dilindungi tersebut kembali menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, terutama warga yang memiliki kebun dan lahan pertanian di kawasan yang menjadi lintasan gajah.
Selain merusak tanaman, kawanan gajah tersebut juga memakan tanaman milik warga sehingga menyebabkan kerugian. Kondisi itu membuat masyarakat semakin khawatir karena kemunculan gajah tidak hanya terjadi di kawasan perkebunan, tetapi juga telah mendekati wilayah permukiman.
Kepala Kampung Blang Rakal, M. Tuahmi, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp membenarkan keberadaan kawanan gajah tersebut.
Menurutnya, jumlah gajah yang masuk ke wilayah Blang Rakal diperkirakan mencapai 11 ekor. Kawanan tersebut telah merusak sejumlah tanaman warga dan membuat masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan.
“Jumlahnya sekitar 11 ekor. Selain masuk ke perkebunan warga Blang Rakal, kawanan gajah ini juga masuk ke wilayah permukiman masyarakat transmigrasi Jalung SP 1,” ujar M. Tuahmi.
Kondisi tersebut membuat warga merasa tidak nyaman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Masyarakat khawatir jika kawanan gajah semakin mendekati rumah warga dan terjadi pertemuan langsung yang dapat membahayakan keselamatan manusia maupun satwa.
Bagi masyarakat Blang Rakal, kemunculan gajah liar bukan sekadar persoalan tanaman yang rusak. Keberadaan kawanan gajah yang berulang kali masuk ke kawasan perkebunan dan permukiman telah meninggalkan rasa takut dan trauma di tengah warga.
Warga berharap persoalan konflik antara manusia dan satwa liar tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah. Penanganan diharapkan tidak hanya dilakukan ketika kawanan gajah sudah memasuki permukiman, tetapi juga melalui langkah pencegahan dan penanganan jangka panjang.
Masyarakat meminta pemerintah bersama instansi terkait, khususnya pihak yang menangani konservasi satwa, segera turun ke lapangan untuk memantau pergerakan kawanan gajah dan mengambil langkah yang aman untuk menghalau gajah kembali ke habitatnya tanpa melukai atau membahayakan satwa.
Warga juga berharap adanya solusi permanen untuk mengurangi konflik manusia dan gajah, termasuk pemetaan jalur lintasan gajah, pengamanan kawasan permukiman dan perkebunan, serta langkah mitigasi yang dapat dilakukan masyarakat ketika kawanan gajah kembali mendekat.
Masyarakat Blang Rakal pada dasarnya tidak menginginkan terjadinya konflik dengan satwa yang dilindungi tersebut. Namun, keselamatan warga dan keberlangsungan sumber penghidupan masyarakat juga harus menjadi perhatian.
“Harapan kami pemerintah segera turun tangan dan mencari solusi yang benar-benar bisa melindungi masyarakat sekaligus menjaga gajah. Jangan sampai menunggu ada korban baru dilakukan penanganan,” demikian harapan masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan kawanan gajah dan menghindari tindakan yang dapat memancing satwa tersebut menjadi agresif.













