AcehBENER MERIAHBerita

Konflik Gajah–Manusia Memanas di Bener Meriah, 18 Gajah Liar Digiring dari Permukiman Warga

×

Konflik Gajah–Manusia Memanas di Bener Meriah, 18 Gajah Liar Digiring dari Permukiman Warga

Sebarkan artikel ini

Selama tiga bulan meresahkan, kawanan gajah merusak rumah dan kebun warga Blang Rakal; masyarakat desak solusi permanen dari pemerintah.

Bener Meriah – Satupena.co.id: Tim gabungan melakukan upaya penggiringan kawanan gajah liar yang masuk ke kawasan permukiman warga di Kampung Blang Rakal, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah. Penanganan ini dilakukan setelah lebih dari tiga bulan masyarakat dihantui keberadaan satwa dilindungi tersebut.

Dilaporkan, sekitar 18 ekor gajah liar kerap memasuki wilayah permukiman, merusak rumah warga serta lahan pertanian, dan menimbulkan trauma di tengah masyarakat.

Fokus penggiringan dilakukan di Dusun Jalung, Kampung Blang Rakal, termasuk di sepanjang lintasan jalan nasional yang kerap dilalui kawanan gajah. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menjauhkan gajah dari area hunian warga dan mengarahkannya kembali ke habitat aslinya di kawasan hutan.

Baca juga Artikel ini :  IHSG Anjlok 5,91 Persen, Rupiah Tertekan di Tengah Gejolak Global

Dalam beberapa bulan terakhir, dampak yang ditimbulkan cukup signifikan. Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan akibat amukan gajah, sementara aktivitas masyarakat terganggu. Warga, khususnya anak-anak, dilaporkan merasa takut untuk berangkat ke sekolah karena kawanan gajah sering melintasi akses jalan menuju Dusun Jalung.

Selain itu, keberadaan gajah di sekitar jalan nasional juga menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pada pagi dan malam hari.

Penanganan situasi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat setempat, aparat kepolisian dari Polsek Pintu Rime Gayo, personel Koramil 04 PRG, hingga Conservation Response Unit (CRU) atau tim penghalau gajah yang dibentuk pemerintah daerah.

Baca juga Artikel ini :  TMMD Ke-126 Kodim 0106/Aceh Tengah Rampungkan Program TNI Manunggal Air Bersih di Desa Atu Lintang

Masyarakat dan pengguna jalan yang melintasi wilayah Pintu Rime Gayo diimbau untuk tetap waspada, terutama pada malam hari, mengingat kawanan gajah kerap melintasi jalan raya dan kawasan permukiman.

Salah seorang tokoh masyarakat, Isbah Mulki, berharap pemerintah segera menghadirkan solusi permanen atas konflik yang terus berulang ini. Ia menilai persoalan gajah liar tidak hanya terjadi di Kampung Blang Rakal, tetapi juga di sejumlah kampung lain seperti Negeri Antara, Pancar Jelobok, dan wilayah sekitar yang selama ini menjadi zona konflik manusia dan gajah.

Baca juga Artikel ini :  Polres Aceh Tengah Intensifkan Patroli Mudik Hari Ke-5, Jalur Wisata Dipastikan Aman dan Lancar

“Sudah banyak korban, baik dari manusia maupun kematian gajah itu sendiri. Kerugian materil juga sangat besar, mulai dari kebun, rumah hingga mata pencaharian warga,” ujarnya.

Ia juga menagih janji pemerintah terkait rencana relokasi gajah ke kawasan khusus yang pernah disampaikan sebelumnya.

“Kami menunggu realisasi janji pemerintah untuk solusi permanen. Jika tidak segera diselesaikan, kami yakin konflik antara manusia dan gajah tidak akan pernah berakhir, karena habitat asli satwa ini sudah semakin hilang,” tutupnya.

( Juansyah ).

Hayo mau copy paste ya