Aceh Tengah –Satupena.co.id: Pembangunan Jembatan Perintis Garuda Tahap II yang berada di wilayah Kodim 0106/Aceh Tengah terus berjalan. Hingga Selasa (14/4/2026) pukul 12.59 WIB, progres pekerjaan telah mencapai 6,8 persen dengan fokus pada tahap awal konstruksi.
Proyek yang berlokasi di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah ini memiliki total anggaran sebesar Rp773,36 juta. Pekerjaan telah dimulai sejak 6 April 2026 dan saat ini memasuki tahap pengecoran dasar abutment A1 dan B1.
Jembatan yang dibangun memiliki panjang 110 meter dengan lebar 1,2 meter dan dirancang mampu menahan beban hingga 1 ton. Bentangan jembatan melintasi sungai selebar 90 meter dengan kondisi kedalaman air normal sekitar 1 meter dan dapat meningkat hingga 2 meter saat banjir.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan pembangunan melibatkan sebanyak 30 personel TNI. Selain itu, dukungan material juga terus didatangkan, di antaranya pasir sebanyak 20 truk, batu koral 10 truk, serta 100 sak semen.
Sejumlah pekerjaan awal telah menunjukkan kemajuan, seperti pembersihan lokasi yang telah mencapai 90 persen, pengukuran jalur jembatan (boplang) 50 persen, serta penggalian lubang deadman sebesar 80 persen. Namun, sebagian besar pekerjaan konstruksi utama seperti pemasangan sling, pengecoran, hingga pemasangan rangka jembatan masih dalam tahap awal atau belum dimulai.
Jembatan ini nantinya akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitar, khususnya warga Desa Reje Payung sebanyak 335 jiwa (97 KK) serta Desa Jamat dengan jumlah 410 jiwa (131 KK). Kehadiran jembatan diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Selama proses pembangunan, kondisi cuaca dilaporkan relatif mendukung, dengan cuaca cerah pada pagi hingga siang hari, dan sedikit mendung pada sore hari. Situasi keamanan di lokasi proyek juga terpantau aman dan kondusif.
Pembangunan Jembatan Perintis Garuda Tahap II ini menjadi salah satu upaya strategis dalam meningkatkan infrastruktur pedesaan di wilayah Aceh Tengah, khususnya di daerah terpencil yang membutuhkan akses penghubung yang lebih memadai.












