Jakarta –Satupena.co.id: Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada pekan pertama pasca-libur Lebaran (23–27 Maret 2026) menunjukkan volatilitas tinggi di tengah tekanan eksternal yang kian menguat. 30 Maret 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah sama-sama tertekan akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya krisis di Selat Hormuz yang berdampak langsung pada distribusi energi global.
Berdasarkan data , IHSG ditutup di level 7.097,057 pada Jumat (27/3), terkoreksi tipis 0,14 persen secara mingguan. Padahal, pada hari pertama perdagangan pasca-Lebaran (25/3), indeks sempat melonjak signifikan sebesar 2,75 persen ke posisi 7.302,12. Namun, derasnya aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp1,76 triliun sepanjang pekan kembali menyeret indeks ke zona merah.
Di pasar valuta asing, Rupiah masih bertahan di level lemah, bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp16.997 per dolar AS. Tekanan ini sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah dunia jenis yang sempat menembus US$112 per barel, dipicu gangguan distribusi di Selat Hormuz—jalur vital yang menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak global.
Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, menilai bahwa dinamika pasar saat ini tidak lagi semata dipengaruhi faktor musiman domestik, melainkan oleh guncangan pasokan (supply shock) yang berpotensi mengganggu struktur fiskal Indonesia.
“Rebound IHSG pada 25 Maret lalu lebih bersifat euforia likuiditas jangka pendek. Saat ini Indonesia menghadapi kondisi perfect storm. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas ketegangan dengan AS dan Israel menghantam titik lemah ekonomi nasional, yakni ketergantungan terhadap impor BBM,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi dalam APBN hingga Rp10,3 triliun. Jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel dalam jangka panjang, defisit anggaran berisiko melampaui ambang batas aman 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Lebih lanjut, Kusfiardi mengingatkan potensi munculnya pada kuartal II-2026. Kondisi ini ditandai oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi yang diiringi peningkatan inflasi akibat melonjaknya biaya energi dan logistik.
“Langkah menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75 persen merupakan kebijakan defensif untuk menjaga stabilitas Rupiah. Namun, ruang pelonggaran moneter menjadi sangat terbatas. Jika krisis Hormuz berlanjut hingga pertengahan tahun, IHSG berpotensi terkoreksi tambahan antara 8 hingga 15 persen,” jelasnya.
Dalam menghadapi ketidakpastian global, pelaku pasar disarankan untuk mengadopsi strategi investasi yang lebih defensif. Beberapa langkah yang dinilai relevan antara lain:
Pertama, meningkatkan selektivitas sektor dengan menghindari industri yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan suku bunga, seperti properti dan otomotif.
Kedua, mengalihkan fokus ke aset dengan likuiditas tinggi, khususnya saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps) dan sektor telekomunikasi yang relatif lebih tahan terhadap gejolak harga komoditas.
Ketiga, memanfaatkan instrumen lindung nilai dengan mempertimbangkan aset aman seperti emas guna mengantisipasi volatilitas nilai tukar.
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 5 persen. Namun, arah pasar ke depan akan sangat ditentukan oleh dinamika geopolitik global, khususnya perkembangan situasi di Selat Hormuz, serta respons kebijakan fiskal dan diplomasi pemerintah dalam mengantisipasi lonjakan harga energi dunia.














