Bireuen, Aceh –Satupena.co.id: Empat bulan setelah banjir besar melanda wilayah Aceh dan Sumatra, sejumlah korban di Kabupaten Bireuen hingga kini masih belum merasakan pemulihan yang memadai dari pemerintah. Warga yang rumahnya hanyut dan mengalami kerusakan berat mengaku belum menerima bantuan, baik berupa hunian sementara (huntara) maupun Dana Tunggu Hunian (DTH).
Kondisi ini membuat para korban terpaksa bertahan dalam ketidakpastian. Sebagian dari mereka masih tinggal di tenda darurat, bahkan ada yang mendirikan gubuk seadanya di sekitar lokasi bekas rumah mereka.
Warga menilai bantuan yang diberikan tidak merata. Ironisnya, sejumlah korban yang rumahnya hanyut justru belum mendapatkan bantuan sama sekali. Sementara itu, di beberapa daerah lain di Aceh, korban bencana dilaporkan telah menerima huntara, DTH, hingga bantuan perabot rumah tangga dan dukungan ekonomi.
Di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, puluhan tenda pengungsian telah dibongkar. Namun, hanya sebagian warga yang telah menerima DTH. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Mane (Kecamatan Juli), Desa Capa (Kecamatan Peusangan), serta Desa Alu Ceu (Kecamatan Jangka), di mana banyak warga terdampak belum mendapatkan bantuan yang diharapkan.
Seorang korban banjir asal Desa Ulee Ceu, Yusnidar, mengaku masih tinggal di tenda karena tidak adanya hunian sementara yang disediakan pemerintah daerah. Ia juga menyebut bantuan dari dinas terkait belum diterima sebagaimana di daerah lain.
Hal senada disampaikan Nurasiah, yang mengaku tidak mendapatkan bantuan apapun, termasuk rekan-rekannya sesama korban. Sementara itu, Tgk Zulkifli dari Desa Balee Panah menyebut rumah dan tempat usahanya hanyut, namun hingga kini belum menerima bantuan, baik DTH maupun bantuan sosial lainnya.
Fitrini, warga Desa Teupin Mane, bahkan mengaku masih merayakan Idul Fitri di tenda pengungsian tanpa adanya bantuan yang masuk. Kondisi ini diperparah dengan belum adanya dana bantuan seperti DTH maupun bantuan kebutuhan dasar lainnya.
Muhammad Dedi Irmawan juga menyampaikan hal serupa. Rumahnya hilang diterjang banjir, namun hingga kini ia belum menerima bantuan apa pun, termasuk DTH maupun jatah hidup (jadup).
Ketiadaan hunian sementara dinilai menjadi persoalan utama. Berbeda dengan kabupaten lain di Aceh yang mengusulkan pembangunan huntara, Pemerintah Kabupaten Bireuen disebut tidak mengambil langkah serupa. Hal ini semakin memperburuk kondisi para korban, terutama setelah adanya imbauan untuk membongkar tenda pengungsian.
Akibatnya, sejumlah warga di Desa Capa, Kecamatan Peusangan, terpaksa kembali mendirikan tenda di pekarangan rumah menjelang Idul Fitri, sebagai bentuk upaya bertahan di tengah minimnya bantuan.
Para korban berharap pemerintah segera turun tangan secara konkret dan memastikan distribusi bantuan dilakukan secara adil dan merata, agar mereka dapat segera bangkit dari kondisi sulit yang telah berlangsung berbulan-bulan. ( Ismed )














