Banda Aceh- Satupena.co.id: Klaim Presiden yang menyebut tidak ada lagi pengungsi banjir di Aceh yang tinggal di tenda menuai bantahan keras dari kalangan mahasiswa. Presiden Mahasiswa (Presma) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tengku Raja Aulia Habibie, secara terbuka menantang kepala negara untuk turun langsung ke lapangan tanpa protokol dan pengawalan guna melihat kondisi riil masyarakat.
Pernyataan Presiden yang menyebut proses pemulihan pascabencana telah mencapai “100 persen” dan “tidak ada lagi pengungsi di tenda” disampaikan usai pelaksanaan Salat Idulfitri di Masjid Darussalam, Aceh Tamiang, Sabtu (21/3/2026). Namun, Habibie menegaskan bahwa fakta di lapangan masih jauh dari klaim tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun mahasiswa dan merujuk pada catatan per 19 Maret 2026, masih terdapat sekitar 5.000 hingga 6.000 jiwa yang bertahan di tenda pengungsian. Para pengungsi tersebar di sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Aceh Tamiang, Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bener Meriah, dan Aceh Timur.
“Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Jangan menipu masyarakat Aceh dan Indonesia. Ribuan warga hingga hari ini masih tinggal di tenda dan belum mendapatkan tempat tinggal yang layak,” tegas Habibie dalam keterangannya, Minggu (22/3/2026).
Bantahan serupa juga mencuat dari masyarakat. Sebuah video yang diunggah oleh warga bernama Azanul Shauty melalui media sosial TikTok menjadi viral. Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 35 detik itu, ia memperlihatkan langsung kondisi tenda pengungsian di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, yang masih dihuni warga.
“Hari ini, Minggu, 22 Maret 2026, saya menanggapi pernyataan Pak Presiden Prabowo yang menyebut korban banjir tidak lagi tinggal di tenda. Bapak lihat ini, Pak, kami masih tinggal di tenda,” ujarnya dalam video tersebut.
Ia juga menyebut pembangunan hunian sementara (huntara) baru mencapai sekitar lima persen dan belum layak ditempati. Sementara itu, laporan dari Kampung Lubuksidup, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, menyebutkan bahwa 154 unit huntara yang dijanjikan pemerintah diperkirakan baru rampung setelah Lebaran. Kondisi ini memaksa warga merayakan Idulfitri di tenda pengungsian yang telah mereka huni selama hampir empat bulan.
Situasi tersebut memicu kritik dari kalangan mahasiswa yang menilai pemerintah terlalu bergantung pada laporan administratif tanpa verifikasi langsung di lapangan.
“Presiden jangan hanya melihat laporan dan angka-angka di atas kertas. Jika pemerintah tidak mampu menyampaikan fakta sebenarnya, maka biar kami yang menunjukkan kondisi di lapangan,” ujar Habibie.
Ia pun kembali menegaskan tantangannya kepada Presiden untuk datang secara langsung tanpa pengawalan resmi.
“Jika Presiden benar-benar ingin melihat fakta, datanglah tanpa pengawalan, tanpa embel-embel jabatan, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Datanglah sebagai rakyat, agar bisa melihat langsung bagaimana penderitaan masyarakat yang masih tinggal di tenda,” katanya.
Habibie juga menyoroti lambannya proses pemulihan pascabanjir yang dinilai tidak sejalan dengan pernyataan pemerintah kepada publik. Menurutnya, realisasi di lapangan masih jauh dari target yang disampaikan.
Kini, publik menanti respons dari Presiden atas tantangan tersebut. Jika kunjungan langsung dilakukan dan fakta di lapangan terungkap secara transparan, polemik ini berpotensi menemukan titik terang. Namun jika tidak, kritik dari kalangan mahasiswa diperkirakan akan terus bergema di tengah masyarakat. ( SrNTv ).














