AcehBENER MERIAHBeritaPerdaganganPertanian

Harga Cabai Anjlok di Bener Meriah, Petani Terjepit Biaya Tinggi dan Disparitas Pasar

×

Harga Cabai Anjlok di Bener Meriah, Petani Terjepit Biaya Tinggi dan Disparitas Pasar

Sebarkan artikel ini

Bener Meriah- Satupena.co.id:  Di tengah momentum bulan suci Ramadan yang identik dengan peningkatan konsumsi bahan pangan, serta belum pulihnya kondisi pascabanjir dan tanah longsor, para petani cabai di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, justru menghadapi tekanan berat. Harga komoditas andalan itu terjun bebas dalam beberapa pekan terakhir, memicu kerugian di tingkat produsen.

Setelah sempat menikmati harga tinggi pada akhir tahun lalu, kini petani harus menerima kenyataan pahit. Harga jual cabai anjlok drastis, diduga akibat melimpahnya stok di pasaran dan faktor cuaca yang memengaruhi kualitas hasil panen. Selain itu, permintaan pasar selama Ramadan disebut tidak mengalami lonjakan signifikan seperti yang diharapkan.

Berdasarkan pantauan per 26 Februari 2026, harga cabai merah di tingkat petani berada di bawah Rp16.000 per kilogram. Di sejumlah sentra produksi lokal, bahkan menyentuh Rp13.000 per kilogram untuk varietas tertentu. Sementara cabai hijau dijual di kisaran Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram. Penurunan harga juga terjadi pada varietas lain seperti cabai bencong, cabai caplak, dan cabai nano.

Baca juga Artikel ini :  Kembangkan Bibit Buatan Sendiri, Pria Cemparam Ini Raup Keuntungan Puluhan Juta Rupiah

Harga tersebut dinilai tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus ditanggung petani. Beban biaya produksi meningkat, terutama akibat mahalnya pupuk nonsubsidi dan terbatasnya akses pupuk bersubsidi di sejumlah wilayah.

Seorang petani muda di Kecamatan Pintu Rime Gayo mengatakan penurunan harga kali ini tergolong tajam. “Harga pupuk sekarang mencapai Rp800.000 sampai Rp900.000 per sak. Sementara harga cabai justru turun,” ujarnya.

Baca juga Artikel ini :  Jelang PON Dan Pilkada 2024, Sat Binmas Polres Aceh Tengah Ajak Warga Jaga Kamtibmas Dan Sukseskan Agenda Nasional

Ia mengaku terpaksa menggunakan pupuk dengan harga lebih murah, meskipun kualitasnya tidak sebaik pupuk utama yang biasa digunakan. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan biaya produksi agar kerugian tidak semakin besar.

Ironisnya, di tingkat konsumen harga cabai masih berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Disparitas harga antara tingkat petani dan pasar akhir ini dinilai terlalu lebar, sehingga petani berharap adanya intervensi pemerintah untuk stabilisasi harga serta kemudahan akses pupuk dengan harga terjangkau.

Kondisi tersebut juga berdampak pada pola budidaya. Sejumlah petani memilih memanen cabai apa adanya tanpa perawatan maksimal demi mengurangi beban biaya tambahan.

Sementara itu, Al Kausar, salah seorang pengepul cabai di Kecamatan Pintu Rime Gayo, mengaku turut terdampak fluktuasi harga yang tidak stabil. Menurutnya, harga kerap berubah dalam hitungan jam akibat lemahnya daya beli di pasar luar Aceh.

Baca juga Artikel ini :  Ciptakan Lingkungan Masjid Sehat, Danramil 04/PRG Dampingi Masyarakat Bergotong Royong

“Sering kali pagi harga masih tinggi, siang sudah turun. Kami sebagai pengumpul juga sering rugi. Belum lagi barang yang dikirim ke luar Aceh rusak atau busuk karena macet di jalan. Saat sampai di pasar, harganya sudah ditekan rendah oleh toke,” katanya.

Para petani berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat menghadirkan regulasi yang menjamin harga acuan pembelian di tingkat produsen tetap layak, sehingga mereka tidak terus-menerus menjadi pihak paling rentan dalam rantai distribusi pangan. ( Juansyah )