BeritaSUMATERA UTARA

Tarawih Malam Kelima di Masjid Almunawar Tambunan, Anak-anak Bawa Buku Absen, Orang Tua Diajak Renungi Makna Pahala

×

Tarawih Malam Kelima di Masjid Almunawar Tambunan, Anak-anak Bawa Buku Absen, Orang Tua Diajak Renungi Makna Pahala

Sebarkan artikel ini

Toba –Satupena.co.id:  Suasana malam kelima Ramadan di , Sabtu (21/2/2026), berlangsung khusyuk dan penuh semangat. Ratusan jamaah memadati masjid untuk melaksanakan Salat Isya dan Tarawih berjamaah.

Salat dan tausiyah dipimpin oleh Ustadz Faturahman Legiman Hutajulu. Dalam ceramahnya sebelum Tarawih, ia mengangkat tema tentang keikhlasan dalam beribadah serta hakikat pahala yang dijanjikan Allah SWT bagi umat yang menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh.

Salah satu pemandangan menarik malam itu adalah kehadiran anak-anak yang membawa buku catatan kehadiran Salat Tarawih untuk ditandatangani. Buku tersebut merupakan bagian dari tugas sekolah, sebagai bentuk pembelajaran karakter dan pembiasaan ibadah sejak dini.

Baca juga Artikel ini :  Pj Keuchik Gampong Ulee Jalan dan Aparatur Desa Santuni 29 Anak Yatim Jelang Idul Fitri

Anak-anak tampak antusias mengikuti rangkaian ibadah. Usai salat, mereka berbaris tertib untuk meminta tanda tangan sebagai bukti kehadiran.

Namun di balik semangat anak-anak itu, terselip pesan mendalam bagi para orang tua. Dalam tausiyahnya, ustadz mengajak jamaah merenung: anak-anak memiliki catatan kehadiran ibadah yang bisa dilihat secara kasatmata. Sementara orang tua tidak memiliki buku absen serupa.

“Lalu mengapa kita tetap harus melaksanakan perintah ibadah?” ujar sang ustadz dalam ceramahnya.

Ia menjelaskan, setiap perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an bukanlah tanpa tujuan. Jika seorang presiden atau pekerja menerima gaji yang jelas atas tugas yang dijalankan, maka umat muslim pun memiliki “balasan” atas ibadahnya.

Baca juga Artikel ini :  Antisipasi Kemacetan, Polres Tanah Karo Atur Lalu Lintas Saat Pawai Tahun Baru Islam

Puasa, kata dia, mengajarkan umat untuk menahan lapar dan haus, menjaga pandangan dari maksiat, serta menahan diri dari perbuatan buruk. Namun balasan atas ibadah itu bukanlah materi yang tampak, melainkan pahala yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya.

“Ibadah puasa adalah amalan yang istimewa. Hanya kita dan Allah yang mengetahui kualitas dan keikhlasannya,” tuturnya.

Ia mengingatkan agar umat tidak sekadar menjalankan puasa sebagai rutinitas tahunan. Jangan sampai, lanjutnya, yang didapat hanya rasa lapar dan haus tanpa memperoleh pahala sebagaimana yang dijanjikan.

Baca juga Artikel ini :  Wakil Rektor I UIN SUNA Paparkan Prestasi Akademik dan Luluskan 275 Wisudawan pada Wisuda Angkatan XI 2025

Ramadan disebut sebagai momentum penghapusan dosa. Dengan menjalankan puasa dan ibadah secara sungguh-sungguh, dosa-dosa yang telah lalu diharapkan dapat diampuni. Dari situlah setiap muslim didorong untuk masuk ke dalam tobat nasuha dan menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan setelah Ramadan berakhir.

Melalui tausiyah tersebut, jamaah diajak menjadikan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan momentum memperbaiki diri, membersihkan hati, serta meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.

(M Siboro C.ILJ)