BeritaSUMATERA UTARA

Diduga Ancam Jurnalis Lewat WhatsApp, Oknum Kepsek di Silaen Disorot

×

Diduga Ancam Jurnalis Lewat WhatsApp, Oknum Kepsek di Silaen Disorot

Sebarkan artikel ini

Toba –Satupena.co.id:  Seorang oknum kepala sekolah di Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, menjadi sorotan setelah diduga melontarkan ancaman kepada seorang jurnalis melalui pesan WhatsApp. Pesan tersebut dikirim menyusul tayangnya sebuah video pemberitaan yang telah dipublikasikan.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (12/2/2026) sekitar pukul 21.35 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pesan dikirim dari nomor yang diketahui milik Kepala SMP Negeri 4 Satu Atap Siria-ria, Kecamatan Silaen.

Adapun isi pesan yang diterima berbunyi, “Selamat malam, tolong dihapus segera video-video yang kau buat, kalau kau masih ingin hidup.”

Kalimat tersebut dinilai bernada intimidatif karena mengandung ancaman terhadap keselamatan jiwa penerima pesan.

Baca juga Artikel ini :  Tingkatkan Keamanan Wisata Lebaran, Kapolres Pidie Jaya Pimpin Patroli Humanis di Kareung Gla

Pihak jurnalis yang menerima pesan itu mengaku terkejut dan langsung meminta klarifikasi atas maksud kalimat yang dikirimkan.

“Kami hanya menjalankan tugas jurnalistik sesuai fungsi kontrol sosial. Jika ada keberatan terhadap pemberitaan, seharusnya disampaikan melalui hak jawab, bukan dengan ancaman,” ujar sumber kepada wartawan.

Secara hukum, dugaan ancaman melalui media elektronik dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), khususnya Pasal 29, yang mengatur larangan pengiriman ancaman kekerasan atau menakut-nakuti melalui media elektronik.

Baca juga Artikel ini :  Sinergi TNI AL, BNN, dan Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 2 Ton Sabu: Pengungkapan Terbesar dalam Sejarah Indonesia

Selain itu, perbuatan tersebut juga berpotensi melanggar Pasal 335 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang perbuatan tidak menyenangkan atau pemaksaan dengan ancaman.

Dalam praktik hukum, pesan elektronik seperti WhatsApp dapat dijadikan alat bukti sah apabila memenuhi ketentuan pembuktian yang berlaku.

Media ini menyatakan tetap membuka ruang hak jawab kepada kepala sekolah yang bersangkutan untuk memberikan klarifikasi resmi terkait pesan tersebut.

Sebagai pejabat publik di lingkungan pendidikan, kepala sekolah diharapkan menjunjung etika komunikasi serta menghormati kebebasan pers sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Baca juga Artikel ini :  Jalan Lintas Nasional nasional Geumpang-Beureunun Bagaikan pantai Sungai

Sejumlah pengamat sosial di Kabupaten Toba menilai, apabila dugaan ancaman terhadap insan pers tersebut terbukti, hal itu dapat menjadi preseden buruk bagi iklim demokrasi dan keterbukaan informasi publik di daerah.

Kebebasan pers merupakan salah satu pilar demokrasi yang dijamin konstitusi. Setiap keberatan atas pemberitaan, menurut mereka, semestinya ditempuh melalui mekanisme klarifikasi, hak jawab, atau pengaduan ke Dewan Pers, bukan melalui intimidasi. ( DPC Akpersi Toba M. Siboro. C. ILJ )